Membaca Broken Strings: Cinta, Kuasa, dan Luka yang Tak Pernah Sederhana
Ilustrasi depresi. Kenapa membaca Broken Strings Aurelie Moeremans bisa bikin tidak nyaman, ini cara sederhana menenangkan diri menurut psikolog.(Freepik/rawpixel.com)
07:05
16 Januari 2026

Membaca Broken Strings: Cinta, Kuasa, dan Luka yang Tak Pernah Sederhana

KETIKA Aurelie Moeremans merilis memoar Broken Strings, ia tidak hanya menerbitkan kisah personal tentang luka relasional.

Ia membuka sebuah percakapan sosial yang selama ini nyaris selalu dihindari: tentang bagaimana cinta, kedekatan, dan perlindungan kerap menyembunyikan relasi kuasa yang timpang.

Tak heran jika buku ini segera menjadi fenomena viral. Publik bukan hanya membaca, tetapi merasa—karena di dalam kisah Aurelie, banyak orang menemukan bahasa untuk pengalaman yang selama ini tak pernah punya nama.

Viralitas Broken Strings bukan semata efek dari status Aurelie sebagai figur publik. Ia lahir dari resonansi kolektif: begitu banyak orang, terutama perempuan dan mereka yang pernah berada dalam posisi rentan, tiba-tiba melihat bahwa apa yang mereka alami bukanlah kegagalan pribadi, melainkan bagian dari pola sosial yang lebih luas.

Di titik inilah memoar ini melampaui genre kesaksian. Ia berubah menjadi teks sosial—sebuah arsip tentang bagaimana luka individu sering kali merupakan produk struktur yang timpang.

Relasi yang Tak Pernah Benar-Benar Setara

Dalam kacamata sosiologis, pengalaman Aurelie tidak berdiri di ruang hampa. Relasi antara remaja dan figur dewasa selalu berlangsung dalam medan hierarki: usia, pengalaman, status, dan otoritas moral.

Ketimpangan ini menciptakan situasi di mana pihak yang lebih muda secara sosial diposisikan untuk percaya dan patuh, sementara pihak dewasa memperoleh legitimasi untuk membimbing—bahkan mengontrol. Di sinilah batas antara perlindungan dan dominasi menjadi kabur.

Broken Strings memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan kasar. Ia kerap bekerja secara halus: lewat bahasa yang menenangkan, perhatian yang tampak tulus, dan narasi bahwa semua itu dilakukan demi kebaikan.

Inilah yang oleh sosiologi kritis disebut sebagai kekuasaan simbolik—kekuasaan yang efektif justru karena tidak terasa sebagai kekuasaan.

Ketika rasa aman semu dan kebutuhan afeksi menjadi pintu masuk, dominasi emosional pun berjalan tanpa perlawanan. Kerentanan semakin menguat ketika individu berada pada fase remaja—masa transisi yang paradoksal.

Secara sosial, remaja dianggap “belum matang”, tetapi pada saat yang sama dituntut bertanggung jawab penuh atas pilihannya.

Dalam kondisi ini, ketika terjadi relasi abusif, korban sering kali justru diposisikan sebagai pihak yang “seharusnya tahu” atau “harusnya menolak”.

Memoar Aurelie membongkar logika ini: dalam relasi kuasa yang timpang, pilihan tidak pernah benar-benar bebas. Consent tidak bisa dilepaskan dari rasa aman, keberanian, dan posisi sosial—semuanya tidak setara sejak awal.

Lebih jauh, Broken Strings juga memperlihatkan bagaimana institusi sosial—keluarga, lingkungan, hingga budaya populer—secara tidak langsung memperkuat struktur kerentanan.

Norma kepatuhan pada figur dewasa, penghormatan tanpa kritik terhadap otoritas, serta tabu membicarakan relasi intim membuat ruang bagi kekerasan simbolik semakin luas.

Dalam situasi seperti ini, korban tidak hanya menghadapi pelaku, tetapi juga sistem sosial yang membuat suaranya tak terdengar.

Budaya Diam dan Harga yang Harus Dibayar

Jika relasi kuasa menjelaskan bagaimana luka itu terjadi, sosiologi budaya membantu kita memahami mengapa luka itu lama tak terdengar.

Broken Strings mengungkap kuatnya budaya diam (silent culture)—sebuah mekanisme kultural yang menormalisasi penderitaan agar tetap berada di ruang privat.

Dalam masyarakat yang menjunjung harmoni semu dan reputasi kolektif, berbicara tentang luka sering dipandang sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial.

Ungkapan seperti “jangan membuka aib”, “itu urusan pribadi”, atau “lebih baik diam demi kebaikan semua” tampak sederhana, tetapi sarat ideologi. Ia menempatkan stabilitas sosial di atas keselamatan individu.

Akibatnya, korban bukan hanya menanggung trauma personal, tetapi juga beban simbolik sebagai pihak yang dianggap mengganggu jika bersuara.

Dari sinilah praktik victim blaming menemukan lahannya. Ketika korban akhirnya berbicara, respons sosial sering kali berubah menjadi interogasi moral: mengapa tidak menolak, mengapa tidak pergi, mengapa terlalu percaya.

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar reaksi spontan, melainkan mekanisme kolektif untuk menutup kegagalan struktural dalam melindungi yang rentan.

Dengan menyalahkan korban, masyarakat mempertahankan ilusi bahwa dunia tetap adil—asal individu bertindak “benar”.

Yang lebih menyakitkan, victim blaming sering hadir dalam bentuk yang lebih halus: empati bersyarat. “Aku kasihan, tapi…”—sebuah kalimat yang memadukan simpati dengan penghakiman.

Dalam istilah Pierre Bourdieu, inilah kekerasan simbolik: luka yang tidak berdarah, tetapi menancap lebih dalam karena dilegitimasi sebagai kewajaran.

Remaja, Trauma, dan Luka yang Bertahan Lama

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, Broken Strings menyingkap betapa rentannya masa remaja.

Fase ini ditandai oleh pencarian identitas, kebutuhan akan pengakuan, dan hasrat untuk merasa berarti. Secara emosional, remaja haus validasi; secara kognitif, kemampuan menilai risiko belum sepenuhnya matang.

Dalam kondisi seperti ini, kedekatan dengan figur dewasa yang memberi perhatian intens mudah dimaknai sebagai rasa aman—meski sesungguhnya mengandung dinamika kuasa yang timpang.

Relasi seperti ini jarang dikenali sebagai ancaman. Ia justru sering dialami sebagai sumber makna. Padahal, dampaknya tidak berhenti pada masa itu saja.

Pengalaman relasional yang manipulatif di usia muda cenderung membentuk pola keterikatan tidak aman: individu tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta selalu mengandung syarat, kontrol, dan ketakutan kehilangan.

Luka itu kemudian membekas dalam cara seseorang memandang diri—apakah ia pantas dicintai, apakah perasaannya sah, apakah ia berhak menetapkan batas.

Di sinilah Broken Strings menantang asumsi sosial yang kerap menyalahkan remaja sebagai “terlalu polos” atau “mudah terpengaruh”.

Kerentanan remaja bukan kelemahan personal, melainkan kondisi perkembangan yang normal—hasil interaksi faktor biologis, emosional, dan sosial. Menyalahkan korban berarti mengabaikan kenyataan bahwa relasi antara usia muda dan usia dewasa tidak pernah simetris.

Maskulinitas Toksik dan Romantisasi Dominasi

Analisis gender dalam memoar ini memperlihatkan bahwa dominasi tidak selalu tampil sebagai kekerasan fisik.

Ia kerap hadir dalam bentuk yang lebih manis: perhatian, perlindungan, janji keamanan. Inilah wajah maskulinitas toksik yang bekerja melalui romantisasi kontrol.

Laki-laki dewasa diposisikan sebagai figur otoritas—lebih tahu, lebih rasional, lebih berhak menentukan arah hubungan—sementara perempuan muda dikonstruksikan sebagai pihak yang membutuhkan arahan.

Dominasi kemudian terasa wajar karena dibungkus bahasa moral: mengontrol demi kebaikan, membatasi demi melindungi.

Dalam struktur budaya seperti ini, ketimpangan tidak perlu dipaksakan; ia diterima sebagai peran sosial. Yang terjadi bukan sekadar relasi abusif individual, tetapi reproduksi norma gender yang menempatkan kuasa di satu sisi dan kepatuhan di sisi lain.

Kekuatan Broken Strings terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman personal menjadi kritik kultural terhadap norma ini.

Dengan bersuara, Aurelie membongkar mitos tentang laki-laki sebagai figur pelindung yang selalu bermoral. Ia menunjukkan bahwa tanpa refleksi kritis, peran pelindung bisa dengan mudah berubah menjadi peran penguasa.

Dari Kesaksian ke Aktivisme Naratif

Dalam lanskap media digital, keputusan Aurelie mempublikasikan kisahnya memiliki makna politis. Ia memindahkan penderitaan dari ruang privat ke arena wacana publik.

Testimoni personal, yang dulu dianggap sekadar curhat, kini menjadi aktivisme naratif—cara baru memperjuangkan perubahan melalui cerita dan empati.

Namun, viralitas juga membawa paradoks. Di satu sisi, ia memperluas jangkauan pesan; di sisi lain, membuka ruang bagi skeptisisme, penghakiman, bahkan komodifikasi trauma.

Korban sering kali dituntut untuk terus menjelaskan, membuktikan, dan membenarkan pengalamannya.

Broken Strings secara implisit memperlihatkan bahwa berbicara adalah pembebasan—tetapi berbicara di ruang publik juga berarti membuka diri pada luka sekunder.

Meski demikian, keberanian ini memiliki daya transformatif. Satu suara yang muncul sering kali membuka pintu bagi suara lain yang lama terpendam.

Dari sinilah lahir komunitas imajiner para penyintas—terhubung bukan oleh identitas formal, melainkan oleh keberanian untuk berkata: aku juga pernah mengalaminya.

Memoar sebagai Teks Perlawanan

Jika seluruh lapisan analisis ini disatukan, Broken Strings bukan lagi sekadar kisah individu. Ia adalah arsip sosial tentang trauma struktural—tentang bagaimana ketimpangan kuasa, budaya diam, dan bias gender membentuk pengalaman personal.

Dalam pengertian ini, memoar Aurelie dapat dibaca sebagai teks perlawanan kultural: melawan keheningan, melawan normalisasi dominasi, melawan kecenderungan menyalahkan korban.

Yang membuat buku ini penting bukan hanya karena ia mengisahkan luka, tetapi karena ia mengubah luka menjadi wacana.

Ia mengingatkan kita bahwa penyembuhan tidak pernah sepenuhnya personal. Ia selalu juga sosial—terjadi ketika cerita korban didengar, dipercaya, dan dijadikan dasar untuk menata ulang norma yang selama ini dianggap wajar.

Di tengah masyarakat yang masih sering lebih nyaman dengan diam, Broken Strings mengajukan pertanyaan yang tak mudah dijawab: berapa banyak luka lain yang masih tersembunyi karena kita lebih memilih harmoni semu daripada keadilan nyata?

Tag:  #membaca #broken #strings #cinta #kuasa #luka #yang #pernah #sederhana

KOMENTAR