Sering Menahan Pipis Pegaruhi Kandung Kemih, Ini Dampaknya
– Menahan buang air kecil atau pipis kerap dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini dapat berdampak pada fungsi kandung kemih dan membuat seseorang justru kesulitan buang air kecil.
Menahan pipis dapat membuat otot kandung kemih terlalu tegang. Akibatnya, saat ingin buang air kecil, otot justru sulit rileks sehingga urine tidak keluar dengan lancar.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono.
“Kalau (efek) nahan pipis paling berat jadi enggak bisa pipis,” katanya dalam Media Meet Up di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat seseorang bisa mengalami kesulitan buang air kecil meskipun kandung kemih terasa penuh.
Dr. Agus mencontohkan pasien usia muda yang datang dengan keluhan tidak bisa pipis sama sekali hingga harus dipasang selang.
Tidak hanya menahan pipis, latihan kegel yang dilakukan berlebihan juga dapat memicu masalah serupa, terutama pada pria. Otot yang terlalu kuat justru membuat mekanisme buang air kecil menjadi tidak optimal.
Berapa lama batas aman menahan pipis?
Menurut dr. Agus, menahan pipis sebenarnya tidak dianjurkan. Namun, dalam kondisi tertentu, seperti saat bepergian atau olahraga, menahan pipis sesekali masih dapat ditoleransi.
“Kalau ditanya, seberapa lama boleh nahan pipis? Harusnya enggak boleh. (Frekuensi) yang paling aman sebenarnya tidak lebih dari tiga jam,” saran dr. Agus.
Ia menjelaskan, frekuensi buang air kecil yang terlalu sering, misalnya kurang dari satu jam sekali, juga tidak baik dan perlu dicari penyebabnya.
Sementara itu, rentang dua hingga tiga jam dianggap paling ideal bagi kebanyakan orang.
“Kadang sekali-sekali bisa empat sampai lima jam, misalnya saat olahraga. Tapi kalau tiap hari lebih dari tiga jam, itu hati-hati,” katanya.
Dr. Agus juga menyarankan kebiasaan sederhana, terutama bagi masyarakat perkotaan yang sering terjebak macet.
“Sebelum bepergian, kencing saja dulu. Berasa atau tidak berasa. Mau sedikit, mau banyak, yang penting aman,” ujarnya.
Warna urine jadi penanda penting
Selain frekuensi, warna urine juga menjadi indikator kesehatan kandung kemih dan kecukupan cairan.
“Kalau kuningnya pekat, itu bahaya. Tapi kalau kuning sampai putih, malah putih bagus,” jelas dr. Agus.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam minum air, terutama bagi lansia.
“Ada yang harus minum tiga liter, empat liter, itu bahaya. Kalau orang usia tua kencing terlalu banyak, itu mengeluarkan natrium. Bisa tiba-tiba pingsan,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Umumnya, konsumsi dua hingga tiga liter per hari sudah cukup, kecuali bagi mereka yang berolahraga berat, yang memang membutuhkan cairan lebih banyak.
“Kecuali kalau ada lari, olahraga, minum empat sampai lima liter itu baik,” tutur dr. Agus.
Dengarkan sinyal tubuh
Dr. Agus menekankan, tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal kapan waktu yang tepat untuk buang air kecil. Mengabaikan dorongan tersebut secara terus-menerus justru dapat mengganggu fungsi alami kandung kemih.
“Kalau kurang dari satu jam sekali, itu mesti kita cari tahu. Tapi kalau rangenya dua sampai tiga jam, itu masih aman. Lebih dari tiga jam, hati-hati,” ujarnya.
Dengan memahami batas aman serta memperhatikan warna dan frekuensi buang air kecil, kesehatan kandung kemih dapat lebih terjaga.
Kebiasaan sederhana seperti tidak menunda pipis dan mencukupi cairan sesuai kebutuhan tubuh menjadi langkah penting untuk mencegah masalah di kemudian hari.
Tag: #sering #menahan #pipis #pegaruhi #kandung #kemih #dampaknya