Belajar dari Curhat Ohim-Salshabilla, Seberapa Penting Kesepakatan Peran Sebelum Menikah?
Salshabilla Adriani dan Ibrahim Risyad membagikan foto pernikahan mereka di Instagram.(Tangkapan Layar Instagram @salshabillaadr )
21:05
12 Januari 2026

Belajar dari Curhat Ohim-Salshabilla, Seberapa Penting Kesepakatan Peran Sebelum Menikah?

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh potongan video pernyataan pasangan selebritas Ibrahim Risyad atau Ohim dan Salshabilla Adriani terkait dinamika rumah tangga mereka.

Mulai dari curhatan Salshabilla soal suami yang hanya membeli satu porsi makanan di awal nikah, hingga pandangan Ibrahim mengenai istri yang harus tetap produktif agar suami tidak merasa menjadi "babu".

Perbincangan tersebut memicu diskusi panjang netizen mengenai pembagian peran domestik.

Namun, di balik keriuhan tersebut, ada isu psikologis yang jauh lebih mendalam, seberapa penting sebenarnya kesepakatan peran antara suami dan istri?

Bukan soal siapa yang bekerja, tapi kesepakatan bersama

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., menjelaskan bahwa setiap keluarga memiliki pengaturan tersendiri yang unik.

Menurutnya, tidak ada satu model tunggal yang dianggap paling benar.

"Ada keluarga yang menikmati model tradisional dengan suami sebagai penafkah utama dan istri sebagai IRT. Namun, ada juga yang memilih model egalitarian di mana keduanya berbagi peran mencari nafkah dan mengurus rumah tangga," ujar Verauli saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/1/2026).

Ia menegaskan bahwa indikator keluarga yang sehat bukan terletak pada pembagian peran berdasarkan stereotipe gender, melainkan pada kesepakatan bersama.

Selama pilihan tersebut lahir dari kesadaran diri dan tanpa paksaan, peran apa pun, termasuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, bisa sangat menyehatkan bagi mental pasangan.

Fondasi "emotional safety"

Dalam perspektif psikologi keluarga, kesepakatan bersama bukan sekadar soal pembagian tugas, melainkan fondasi dari emotional safety atau rasa aman secara emosional.

Tanpa adanya obrolan eksplisit di awal, perbedaan ekspektasi dapat berubah menjadi bom waktu.

"Tanpa kesepakatan, keputusan akan berubah menjadi sumber konflik berkepanjangan, akumulasi kekecewaan, dan aksi saling menyalahkan di kemudian hari," tambah Verauli.

Di sisi lain, kesepakatan ini tidak bersifat permanen, tetapi bisa ditinjau ulang seiring perubahan kondisi keluarga.

"Kesepakatan bukan berarti selalu sepakat selamanya loh ya, tetapi ada komitmen untuk meninjau ulang keputusan seiring perubahan kondisi kehidupan keluarga seperti keuangan, anak, kesehatan, karier," ungkap Verauli.

Makna nafkah, lebih dari sekadar finansial

Terkait isu nafkah yang sering memicu perdebatan, Verauli memberikan catatan penting.

Secara ilmiah, peran pencari nafkah saat ini tidak lagi bersifat tunggal.

Pasangan muda masa kini cenderung lebih adaptif dan mampu berbagi risiko ekonomi.

"Meski, tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap relevan dipikul oleh suami," ujar Verauli.

Namun, ia mengingatkan bahwa makna "menafkahi" mencakup spektrum yang luas, bukan hanya soal uang di rekening.

"Menafkahi juga mencakup kehadiran emosional, rasa aman, dukungan psikologis, keterlibatan dalam pengasuhan, hingga tanggung jawab mental," jelasnya.

Mengapa isu nafkah begitu sensitif bagi pria?

Terkait pernyataan Ibrahim Risyad yang sempat menuai pro-kontra, Verauli menjelaskan mengapa isu kemampuan finansial sangat berkaitan dengan harga diri pria.

Secara historis, lelaki dibesarkan dengan pesan bahwa nilai dirinya ditentukan oleh kemampuannya berkontribusi secara materi.

"Ketika kemampuan menafkahi terganggu, yang terpukul bukan hanya ekonomi, tapi identitas maskulin dan harga diri. Inilah mengapa sebagian suami menjadi defensif atau menarik diri saat merasa gagal secara finansial," ungkapnya.

Bahkan, sikap suami yang terlihat "santai" saat belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga bisa jadi merupakan bentuk avoidant coping, sebuah upaya untuk menghindari perasaan gagal, atau dalam tahap yang lebih ekstrem, merupakan bentuk pengabaian emosional (emotional neglect).

Pesan untuk pasangan muda

Membangun pernikahan sehat di era modern tidak lagi tentang memenuhi standar lama atau peran kaku yang ditentukan masyarakat.

Pesan penutup dari Roslina Verauli bagi para pasangan muda adalah pentingnya membangun sistem yang realistis.

"Pernikahan adalah tentang menciptakan sistem baru yang berlandaskan kesepakatan berdua dan berwelas asih bagi suami, istri, dan anak-anak yang tumbuh di dalamnya," ungkapnya.

Tag:  #belajar #dari #curhat #ohim #salshabilla #seberapa #penting #kesepakatan #peran #sebelum #menikah

KOMENTAR