seseorang yang sibuk membuka ponsel (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)
Orang yang Sibuk Membuka Ponsel Saat Orang Lain Berbicara Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Kepribadian Ini Tanpa Disadarinya Menurut Psikologi
Di era digital seperti sekarang, pemandangan seseorang yang menunduk menatap layar ponsel saat lawan bicaranya sedang berbicara sudah menjadi hal yang nyaris lumrah. Notifikasi berdatangan, pesan menumpuk, media sosial terus bergerak tanpa henti. Namun di balik kebiasaan sederhana ini, psikologi memandangnya bukan sekadar soal distraksi teknologi.
Tanpa disadari, kebiasaan sering membuka ponsel ketika orang lain berbicara dapat mencerminkan pola kepribadian tertentu. Bukan berarti orang tersebut “buruk” atau “tidak sopan” secara mutlak, tetapi ada dinamika psikologis yang bekerja di balik perilaku tersebut. Dilansir dari Geediting pada Rabu (8/1), terdapat tujuh ciri kepribadian yang kerap muncul pada orang-orang dengan kebiasaan ini, menurut sudut pandang psikologi.
1. Memiliki Tingkat Kecemasan yang Lebih Tinggi
Banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa ponsel sering berfungsi sebagai coping mechanism—alat untuk meredakan kecemasan. Orang yang gelisah atau mudah cemas cenderung merasa tidak nyaman dalam interaksi tatap muka yang intens. Membuka ponsel memberi rasa aman semu, seolah ada “pelarian” jika percakapan terasa menekan atau membosankan.
Tanpa sadar, layar ponsel menjadi tameng emosional. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena pikiran mereka sulit benar-benar tenang saat fokus penuh pada satu interaksi.
2. Kesulitan Memberikan Perhatian Penuh (Low Attention Span)
Kebiasaan multitasking digital membuat otak terbiasa berpindah fokus dengan cepat. Orang yang sering membuka ponsel saat orang lain berbicara biasanya memiliki rentang perhatian yang lebih pendek. Psikologi kognitif menyebut kondisi ini sebagai attention fragmentation.
Bagi mereka, mendengarkan percakapan tanpa stimulasi tambahan terasa melelahkan. Bukan karena topiknya tidak penting, tetapi karena otak sudah terlatih mencari rangsangan baru setiap beberapa detik.
3. Cenderung Menghindari Kedekatan Emosional
Percakapan tatap muka sering kali membuka ruang keintiman emosional—kontak mata, jeda hening, ekspresi perasaan. Tidak semua orang nyaman dengan kedekatan semacam ini. Membuka ponsel bisa menjadi cara halus untuk menjaga jarak emosional.
Dalam psikologi kepribadian, ini sering berkaitan dengan gaya keterikatan (attachment style) yang cenderung menghindar. Mereka tetap hadir secara fisik, tetapi menjaga jarak secara emosional.
4. Memiliki Kebutuhan Tinggi Akan Kontrol
Sebagian orang merasa perlu selalu “terkoneksi” agar tetap memegang kendali atas lingkungan sosial dan informasi di sekitarnya. Ponsel memberi ilusi kontrol: tahu apa yang terjadi, siapa yang menghubungi, dan apa yang sedang ramai dibicarakan.
Saat orang lain berbicara, dorongan untuk mengecek ponsel muncul karena ada ketakutan tertinggal informasi (fear of missing out). Ini bukan semata kebiasaan buruk, melainkan refleksi dari kebutuhan psikologis untuk merasa aman dan relevan.
5. Cenderung Lebih Berorientasi pada Diri Sendiri
Psikologi sosial mencatat bahwa perhatian adalah bentuk penghargaan. Orang yang sering mengalihkan perhatian ke ponsel saat orang lain berbicara bisa menunjukkan kecenderungan egosentris ringan—fokus utama tetap pada dunia internal dan kepentingan pribadi.
Ini tidak selalu berarti narsistik. Sering kali, mereka hanya terbiasa menempatkan pengalaman pribadi (pesan, notifikasi, feed) sebagai prioritas utama, bahkan tanpa niat merendahkan lawan bicara.
6. Mengalami Kelelahan Mental atau Emosional
Orang yang sedang mengalami mental fatigue atau kelelahan emosional sering kesulitan terlibat penuh dalam percakapan. Membuka ponsel menjadi bentuk istirahat singkat bagi otak yang sudah penuh.
Dalam kondisi ini, perilaku tersebut lebih merupakan sinyal bahwa seseorang sedang tidak berada dalam kapasitas emosional terbaiknya, bukan tanda ketidaksopanan atau kurang empati.
7. Kurang Terlatih dalam Keterampilan Sosial Mendalam
Kemampuan mendengarkan aktif (active listening) adalah keterampilan yang dilatih, bukan bakat bawaan. Orang yang tumbuh di era digital sering kali lebih terbiasa berkomunikasi melalui teks daripada percakapan mendalam.
Psikologi perkembangan sosial menunjukkan bahwa kurangnya latihan interaksi tatap muka dapat membuat seseorang tidak sadar bahwa membuka ponsel saat orang lain berbicara berdampak besar pada kualitas hubungan.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Kebiasaan, Tapi Cermin Psikologis
Membuka ponsel saat orang lain berbicara sering kali dinilai sebagai sikap tidak sopan. Namun psikologi mengajak kita melihatnya lebih dalam. Di balik perilaku tersebut bisa tersembunyi kecemasan, kelelahan mental, kebutuhan akan kontrol, hingga keterampilan sosial yang belum terasah.
Memahami hal ini tidak berarti membenarkan kebiasaan tersebut, tetapi memberi ruang empati—baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri. Pada akhirnya, kualitas hubungan manusia tetap ditentukan oleh kehadiran utuh: perhatian, empati, dan kesediaan untuk benar-benar mendengarkan.
Karena dalam dunia yang semakin bising oleh notifikasi, memberi perhatian penuh justru menjadi bentuk penghargaan yang paling langka dan paling berharga. ***
Editor: Novia Tri Astuti
Tag: #orang #yang #sibuk #membuka #ponsel #saat #orang #lain #berbicara #biasanya #menunjukkan #ciri #kepribadian #tanpa #disadarinya #menurut #psikologi