Orang Jawa Kuno Enggan Meniru Busana Bangsawan, Ini Kata Dosen Pendidikan Bahasa Jawa
Dari kemben hingga cawat, busana Jawa Kuno bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda status sosial dan etika masyarakatnya. (dok. Remen Jawi)
15:35
6 Januari 2026

Orang Jawa Kuno Enggan Meniru Busana Bangsawan, Ini Kata Dosen Pendidikan Bahasa Jawa

Dalam masyarakat modern, gaya berpakaian sering kali menjadi sarana meniru figur yang dianggap lebih tinggi statusnya, mulai dari selebritas hingga tokoh publik.

Namun, hal berbeda justru terjadi pada masyarakat Jawa Kuno. Pada masa itu, rakyat biasa tidak serta-merta meniru busana bangsawan atau raja, meski secara visual terlihat indah dan berwibawa.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Cara berpakaian masyarakat Jawa Kuno erat kaitannya dengan struktur sosial yang hierarkis dan nilai etika yang dijunjung tinggi.

Busana tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai penanda posisi seseorang dalam tatanan masyarakat.

Dosen Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Suryo Bintoro, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa sejak abad ke-9 hingga ke-15, masyarakat Jawa telah mengenal stratifikasi sosial yang jelas.

Struktur tersebut terbagi atas raja, kerabat atau bangsawan, dan kawula atau rakyat biasa. Pembagian ini memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara berpakaian.

Busana sebagai identitas sosial

Suryo mengatakan, masyarakat Jawa Kuno memiliki kesadaran sosial yang kuat terhadap identitas diri dan posisi sosialnya. Hal ini tercermin dalam pilihan busana yang dikenakan sehari-hari.

“Cara berpakaian sudah terstratifikasi. Golongan atas, menengah, dan bawah memiliki ciri masing-masing. Rakyat biasa sejak awal sudah memahami bahwa mereka tidak menggunakan busana yang dipakai golongan atas,” ujar Suryo saat ditemui Kompas.com di sela acara Piknik Syeroe ’80 Nostalgia bersama Remen Jawi dan Swara Prambanan, Rabu (31/12/2025).

Ia menambahkan, ketidakmampuan meniru busana bangsawan bukan semata karena keterbatasan ekonomi.

Ada nilai kesadaran sosial yang membuat rakyat biasa merasa tidak pantas menyamai gaya berpakaian kalangan elite.

Sikap ini menunjukkan adanya etika sosial yang sudah terbentuk sejak lama dalam masyarakat Jawa.

Dari kemben hingga cawat, busana Jawa Kuno bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda status sosial dan etika masyarakatnya.
dok. Remen Jawi Dari kemben hingga cawat, busana Jawa Kuno bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda status sosial dan etika masyarakatnya.

Belum mengenal jahitan, kain jadi andalan

Pada masa Jawa Kuno, teknik menjahit pakaian seperti sekarang belum dikenal. Busana dibuat dengan mengandalkan kain yang dililit, diikat, atau dilipat sesuai kebutuhan dan fungsi.

Relief-relief di Candi Borobudur dan Prambanan menjadi bukti visual bagaimana masyarakat kala itu berpakaian.

Banyak figur laki-laki dan perempuan digambarkan bertelanjang dada, dengan kain yang menutup bagian tubuh bawah.

Cara berkain tersebut tidak dianggap tabu, melainkan wajar dalam konteks budaya saat itu.

Jenis kain yang digunakan pun beragam, mulai dari kain panjang hingga mata kaki, kain pendek untuk menutup bagian tertentu, hingga kain kecil yang berfungsi sebagai pelindung tubuh bagian sensitif.

Istilah kain dan batas kepantasan

Suryo menyebutkan, dalam naskah dan prasasti Jawa Kuno dikenal berbagai istilah kain, seperti tapih, sinjang, ulas, hingga kalambi. Masing-masing memiliki fungsi dan konteks penggunaan yang berbeda.

Penggunaan kain tersebut juga dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan status sosial. Perempuan umumnya mengenakan kemben, nyamping, atau sinjang, sementara laki-laki memakai bubet, lancingan, hingga cawat atau kupina.

“Rakyat biasa sudah tahu batas. Mereka enggan menyamai busana kalangan atas karena memahami etika sosialnya,” kata Suryo.

Dalam pandangan masyarakat Jawa Kuno, meniru busana bangsawan justru dianggap tidak sesuai dengan posisi sosial dan dapat melanggar norma kepantasan.

Jejak nilai lama yang masih terasa

Meski zaman telah berganti, nilai “tahu diri” dalam berpakaian ini masih dapat dirasakan dalam budaya Jawa hingga kini. Dalam konteks tertentu, busana adat masih dikenakan sesuai aturan dan situasi, tidak sembarangan.

Bahkan, praktik berkain masa lalu masih hidup dalam bentuk yang lebih modern, seperti penggunaan sinjang atau teknik melilit kain dalam busana adat dan pertunjukan budaya.

Lebih dari sekadar kain, busana bagi masyarakat Jawa Kuno adalah cermin kesadaran sosial dan etika hidup bermasyarakat.

Sikap enggan meniru busana bangsawan menunjukkan bahwa sejak dahulu, orang Jawa telah memahami pentingnya menempatkan diri sesuai peran dan posisinya.

Tag:  #orang #jawa #kuno #enggan #meniru #busana #bangsawan #kata #dosen #pendidikan #bahasa #jawa

KOMENTAR