Anak Mudah Marah? Psikolog Jelaskan Faktor Emosi dan Lingkungan yang Berperan
Anak yang mudah marah kerap dianggap sekadar “bandel” atau kurang disiplin.
Namun, menurut psikolog, ledakan emosi pada anak sering kali merupakan sinyal adanya persoalan yang lebih dalam, baik dari sisi emosi maupun lingkungan tempat ia tumbuh.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi menjelaskan, perilaku marah berlebihan pada anak umumnya tidak muncul secara tiba-tiba.
Dalam banyak kasus, kemarahan ekstrem merupakan puncak dari rangkaian masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan dan penanganan sejak dini.
“Anak belum memiliki kemampuan kontrol impuls dan fungsi eksekutif yang matang. Artinya, kemampuan untuk menahan diri dan mempertimbangkan konsekuensi masih dalam proses berkembang,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.
Emosi anak belum sepenuhnya matang
Secara perkembangan, anak masih belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya. Ketika menghadapi frustrasi, rasa dipermalukan, atau tekanan yang menumpuk, anak belum selalu mampu menyalurkannya dengan cara yang aman.
Akumulasi stres, trauma, dan rasa tidak berdaya yang lama dipendam dapat memicu ledakan agresi.
Dalam kondisi ini, kemarahan menjadi bentuk ekspresi emosi yang paling mudah muncul, meski sering kali berisiko melukai diri sendiri maupun orang lain.
Lingkungan keluarga berperan besar
Lingkungan tempat anak tumbuh memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap cara ia mengekspresikan emosi. Vera menekankan, anak cenderung meniru apa yang ia anggap sebagai cara efektif menyelesaikan konflik.
“Jika di rumah kekerasan verbal atau fisik menjadi hal yang biasa, besar kemungkinan anak akan meniru pola tersebut,” jelasnya.
Konflik keluarga yang kronis, pola komunikasi kasar, disiplin yang keras atau tidak konsisten, pengawasan yang lemah, serta batasan yang tidak jelas dapat memperbesar risiko anak meluapkan emosi dengan cara agresif.
Riwayat kekerasan, penelantaran, atau trauma di rumah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, masalah kesehatan mental orangtua, tekanan ekonomi, serta stres berkepanjangan dalam keluarga turut memengaruhi kondisi emosional anak.
Ilustrasi
Tidak selalu terkait gangguan mental
Vera menegaskan, tidak semua anak yang mudah marah memiliki gangguan mental. Sebagian anak memang memiliki kondisi klinis tertentu, seperti gangguan perilaku atau masalah regulasi emosi, yang dapat meningkatkan risiko agresi.
Namun, dalam banyak kasus, perilaku marah ekstrem dipicu oleh akumulasi emosi negatif, seperti marah yang lama dipendam, rasa putus asa, atau perasaan dipermalukan yang tidak pernah tersalurkan dengan sehat.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai
Orangtua perlu lebih waspada jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain ledakan marah yang semakin sering dan berat, merusak barang, mengancam orang lain, serta menurunnya empati terhadap orang di sekitarnya.
Perilaku kejam terhadap hewan atau teman, obsesi pada tema kekerasan, fantasi balas dendam, hingga menarik diri secara drastis dari aktivitas sekolah juga menjadi sinyal bahaya.
Termasuk bila anak mulai menulis atau mengunggah ancaman serta membicarakan rencana menyakiti orang lain.
Pentingnya rasa aman emosional
Menurut Vera, rasa aman emosional merupakan faktor pelindung yang sangat kuat bagi anak.
Anak yang merasa diterima, didengar, dan memiliki tempat aman untuk mengekspresikan perasaan cenderung lebih mampu mengelola emosinya.
Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa kehangatan emosional dan keterampilan mengelola emosi lebih rentan memilih kemarahan atau kekerasan sebagai jalan keluar.
Pengaruh media dan lingkungan sosial
Paparan konten kekerasan atau media sosial bukan satu-satunya penyebab anak menjadi mudah marah.
Namun, konten tersebut dapat memperkuat perilaku agresif bila anak sudah memiliki faktor risiko lain, seperti impulsivitas, trauma, konflik rumah, serta kurangnya pendampingan dari orang dewasa.
Karena itu, orangtua disarankan untuk mendampingi penggunaan media, membatasi durasi, mengkurasi konten, serta memastikan anak memiliki ruang aman untuk berdiskusi tentang apa yang ia lihat dan rasakan.
Pendekatan yang lebih sehat
Menghadapi anak yang mudah marah membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat.
Alih-alih membentak atau mempermalukan, orangtua dianjurkan membantu anak mengenali emosinya, memberi contoh cara mengelola konflik secara sehat, serta menerapkan batasan yang konsisten.
Dengan dukungan emosional yang cukup dan lingkungan yang aman, anak dapat belajar mengekspresikan kemarahan secara lebih adaptif, tanpa harus melukai diri sendiri maupun orang lain.
Tag: #anak #mudah #marah #psikolog #jelaskan #faktor #emosi #lingkungan #yang #berperan