Seni Membangun Batasan yang Sehat: 8 Cara Melindungi Kesehatan Mental Anda Ketika Orang Lain Terlalu Banyak Berbagi Informasi
seseorang yang melindungi kesehatan mental. (Freepik/user15503477)
11:52
5 Januari 2026

Seni Membangun Batasan yang Sehat: 8 Cara Melindungi Kesehatan Mental Anda Ketika Orang Lain Terlalu Banyak Berbagi Informasi

Di era keterbukaan dan media sosial, berbagi cerita terasa seperti hal yang wajar—bahkan sering dianggap sebagai tanda keakraban. Namun, tidak semua cerita yang dibagikan orang lain selalu siap kita terima. Ada kalanya kita merasa lelah, terbebani, atau bahkan terganggu ketika seseorang terus-menerus melimpahkan masalah, trauma, atau detail pribadi tanpa mempertimbangkan kondisi mental kita.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai emotional dumping—saat seseorang menumpahkan emosi tanpa adanya ruang timbal balik atau persetujuan emosional dari pendengar. Jika dibiarkan, hal ini dapat menggerus kesehatan mental secara perlahan. Di sinilah seni membangun batasan yang sehat menjadi keterampilan hidup yang sangat penting.

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan cara psikologis yang efektif untuk melindungi diri Anda tanpa harus menjadi orang yang dingin atau tidak peduli.

1. Sadari Bahwa Anda Tidak Wajib Menjadi “Tempat Sampah Emosi”

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi pendengar yang baik berarti harus selalu tersedia, kapan pun dan untuk siapa pun. Padahal, psikologi menegaskan bahwa empati tidak sama dengan pengorbanan diri.

Menyadari bahwa Anda boleh menolak mendengarkan ketika tidak siap adalah langkah awal membangun batasan. Kelelahan emosional bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa sistem psikologis Anda sedang bekerja melindungi diri.

2. Dengarkan Tubuh Anda Sebelum Mendengarkan Orang Lain

Tubuh sering kali memberi peringatan lebih cepat daripada pikiran. Ketika seseorang mulai terlalu banyak berbagi, perhatikan tanda-tanda seperti:

kepala terasa berat,

dada sesak,

emosi mudah tersulut,

atau keinginan kuat untuk menghindar.

Dalam psikologi somatik, respons tubuh ini adalah indikator bahwa batasan Anda sedang dilanggar. Menghormati sinyal tersebut adalah bentuk perawatan diri yang sehat.

3. Gunakan Bahasa Netral untuk Menghentikan Percakapan

Menetapkan batasan tidak harus kasar atau konfrontatif. Justru, batasan yang sehat sering kali disampaikan dengan nada tenang dan bahasa netral, misalnya:

“Aku ingin mendengarkan, tapi sekarang energiku sedang tidak cukup.”

“Topik ini cukup berat buatku saat ini.”

Pendekatan ini menegaskan batas tanpa menyalahkan, yang menurut psikologi komunikasi jauh lebih efektif dalam menjaga hubungan jangka panjang.

4. Bedakan Antara Kedekatan dan Ketergantungan Emosional

Kedekatan yang sehat bersifat dua arah. Sebaliknya, jika seseorang terus berbagi tanpa pernah bertanya kabar Anda, itu bisa mengarah pada ketergantungan emosional.

Psikologi hubungan menyebut ini sebagai pola relasi tidak seimbang, di mana satu pihak menjadi “penampung” dan pihak lain menjadi “penumpah”. Mengenali pola ini membantu Anda menentukan kapan harus menarik garis batas.

5. Ingatkan Diri Anda Bahwa Empati Tidak Harus Disertai Solusi

Banyak orang terjebak mendengarkan terlalu lama karena merasa harus membantu menyelesaikan masalah orang lain. Padahal, empati sejati tidak selalu menuntut solusi.

Anda boleh berkata, “Aku harap kamu bisa menemukan bantuan yang tepat,” tanpa harus menjadi penopang emosional utama. Ini melindungi Anda dari burnout empatik yang sering terjadi pada orang-orang berjiwa peduli.

6. Tetapkan Batas Waktu Secara Halus

Jika seseorang sering berbagi terlalu panjang, batas waktu adalah alat psikologis yang sangat efektif. Misalnya:

“Aku punya waktu 10 menit sebelum harus lanjut kerja.”

“Boleh kita lanjutkan lain waktu?”

Batas waktu membantu menjaga ruang mental Anda tetap aman tanpa memutus hubungan secara drastis.

7. Lepaskan Rasa Bersalah Saat Mengatakan Tidak

Rasa bersalah sering muncul karena kita takut dianggap egois. Namun, psikologi menegaskan bahwa batasan adalah fondasi hubungan yang sehat, bukan penghalangnya.

Orang yang menghormati Anda akan menghormati batas Anda. Sebaliknya, mereka yang marah ketika Anda memasang batas sering kali lebih diuntungkan oleh ketiadaan batas tersebut.

8. Prioritaskan Pemulihan Setelah Interaksi yang Melelahkan

Jika Anda sudah terlanjur menjadi pendengar dari curahan yang berat, penting untuk melakukan emotional reset. Bisa melalui:

menyendiri sejenak,

menulis jurnal,

berjalan tanpa gawai,

atau melakukan aktivitas yang menenangkan sistem saraf.

Pemulihan ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan psikologis agar Anda tidak membawa beban orang lain ke dalam hidup pribadi Anda.

Kesimpulan: Batasan Bukan Dinding, Melainkan Pintu dengan Kunci

Membangun batasan yang sehat bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memilih dengan sadar apa yang boleh masuk ke ruang batin Anda. Dalam psikologi, batasan adalah bentuk penghormatan—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Ketika Anda mampu berkata “cukup” tanpa rasa bersalah, Anda sedang menjaga kesehatan mental sekaligus mengajarkan orang lain cara memperlakukan Anda. Dan pada akhirnya, hubungan yang paling sehat bukanlah yang penuh pengorbanan, melainkan yang memberi ruang bernapas bagi kedua belah pihak.

 

***

 

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #seni #membangun #batasan #yang #sehat #cara #melindungi #kesehatan #mental #anda #ketika #orang #lain #terlalu #banyak #berbagi #informasi

KOMENTAR