6 Alasan Mengapa Skrining Kanker di Indonesia Masih Rendah
- Kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan skrining kanker masih tergolong rendah, meskipun teknologi medis dan akses layanan kesehatan terus berkembang.
Padahal, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien kanker.
Rendahnya angka skrining kanker dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketakutan pasien hingga maraknya informasi keliru di masyarakat.
Alasan skirining kanker masih rendah
Berikut ini beberapa alasan utama mengapa angka skrining kanker di Indonesia masih belum optimal. Simak penjelasannya.
1. Takut mengetahui diagnosis kanker
Talkshow “Pendekatan Terpadu dalam Onkologi: Adaptasi Teknologi, Kolaborasi, Multidisiplin, dan Protokol Rujukan di Eka Hospital Group”, di Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).
Salah satu hambatan terbesar dalam skrining kanker berasal dari faktor psikologis pasien.
Banyak orang merasa takut jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kanker, karena membayangkan dampak besar terhadap kehidupan sehari-hari.
Dokter Spesialis Ginekologi Onkologi, Konsultan Onkologi, dr. Muhammad Yusuf, SpOG (K) Onk menjelaskan, ketakutan tersebut membuat sebagian orang memilih menghindari pemeriksaan sejak awal.
“Skrining kanker itu ada beberapa hambatan, pertama dari aspek pasiennya. Banyak pasien merasa takut kalau ketahuan kankernya, mereka akan susah beraktivitas dengan normal,” jelas dr. Yusuf dalam Talkshow “Pendekatan Terpadu dalam Onkologi: Adaptasi Teknologi, Kolaborasi, Multidisiplin, dan Protokol Rujukan di Eka Hospital Group”, di Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).
Padahal, ia menilai, ketakutan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta medis.
2. Kurangnya pemahaman soal manfaat deteksi dini
Talkshow “Pendekatan Terpadu dalam Onkologi: Adaptasi Teknologi, Kolaborasi, Multidisiplin, dan Protokol Rujukan di Eka Hospital Group”, di Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).
Masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa kanker yang terdeteksi sejak dini memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih besar.
Persepsi bahwa kanker selalu berujung pada kondisi berat dan tidak bisa disembuhkan membuat orang enggan melakukan skrining kanker.
Dr. Yusuf menegaskan, deteksi dini justru memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi pasien.
“Padahal, faktanya adalah dengan mengetahui kondisi kanker sejak awal, beberapa kanker itu bisa disembuhkan, sehingga pasien punya harapan hidup lebih lama dan bisa beraktivitas seperti normal,” ujarnya.
Kurangnya edukasi yang merata membuat informasi penting ini belum sepenuhnya dipahami masyarakat luas.
3. Datang berobat saat kanker sudah stadium lanjut
Akibat menunda skrining, tidak sedikit pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut.
Pada kondisi ini, pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan proses pengobatan jauh lebih kompleks.
Dr. Yusuf menyampaikan, keterlambatan deteksi sangat memengaruhi perkembangan penyakit yang diidap pasien.
“Kalau telat mendeteksi kanker, alhasil baru ketahuan setelah stadium lanjut dan kondisinya sudah parah, serta pilihan pengobatannya sudah tidak banyak,” kata dia.
Kondisi ini membuat pengobatan menjadi lebih berat, baik dari sisi fisik, psikologis, maupun biaya.
4. Anggapan biaya screening kanker mahal
Faktor ekonomi juga masih menjadi alasan banyak orang menunda atau menghindari skrining kanker.
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa pemeriksaan kanker membutuhkan biaya besar dan tidak terjangkau.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dr. Yusuf menekankan, saat ini skrining kanker sudah bisa diakses melalui layanan BPJS Kesehatan.
“Banyak orang beranggapan kalau biaya pemeriksaan kanker itu mahal, sehingga hal ini menghambat mereka untuk rutin screening. Padahal screening kanker bisa dengan BPJS sekarang,” jelasnya.
Kurangnya informasi mengenai cakupan layanan BPJS untuk skrining kanker membuat masyarakat belum memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal.
5. Maraknya hoaks dan mitos soal pengobatan kanker
Selain faktor biaya dan ketakutan, penyebaran informasi hoaks juga menjadi hambatan besar dalam upaya meningkatkan angka screening kanker di Indonesia.
Chairman Eka Tjipta Widjaja Cancer Center Eka Hospital, Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk., M.Epid., MARS menyebut, banyak pasien masih mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
“Masih banyak orang yang mempercayai berita hoax, terlebih jika membayangkan operasi, pasti banyak pasien yang takut,” ujar dr. Sonar.
Ketakutan tersebut kemudian mendorong pasien mencari alternatif pengobatan yang tidak berbasis medis.
6. Percaya pengobatan alternatif yang tidak terbukti ilmiah
Hoaks mengenai pengobatan kanker sering kali dikaitkan dengan klaim kesembuhan hanya melalui konsumsi makanan tertentu atau metode non-medis lainnya. Hal ini membuat sebagian pasien menunda pemeriksaan dan pengobatan ke dokter.
“Alhasil banyak pasien lebih percaya berita hoax soal pengobatan kanker hanya dengan konsumsi makanan tertentu. Padahal itu tidak benar tapi mereka percaya dan memutuskan untuk tidak melakukan pengobatan ke dokter,” jelas dr. Sonar.
Keputusan tersebut justru berisiko memperburuk kondisi pasien. Ketika pasien akhirnya menyadari bahwa informasi yang mereka percayai tidak benar, kondisi kanker sering kali sudah berada pada tahap yang lebih serius.
“Namun, ketika mereka tahu cara tersebut hoax dan datang ke dokter lagi, kondisi kankernya sudah lebih parah,” kata dr. Sonar.
Situasi ini menunjukkan pentingnya edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat tidak terjebak informasi keliru dan mau melakukan screening sejak dini.
Rendahnya angka skrining kanker di Indonesia menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tenaga medis, pemerintah, hingga media.
Edukasi yang konsisten dan informasi yang akurat diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap deteksi dini kanker.
Tag: #alasan #mengapa #skrining #kanker #indonesia #masih #rendah