Mengapa Tumbler Seakan Mencerminkan Status Sosial Seseorang? Sosiolog Jelaskan Alasannya
Ilustrasi tumbler.(Pexels/ Bach Hanzo)
18:55
29 November 2025

Mengapa Tumbler Seakan Mencerminkan Status Sosial Seseorang? Sosiolog Jelaskan Alasannya

- Tumbler kembali menjadi perbincangan setelah seorang penumpang KAI kehilangan tumbler miliknya dari dalam cooler bag, yang tertinggal di gerbong kereta. 

Penumpang tersebut kemudian menyampaikan keluhan melalui media sosial, sehingga peristiwa ini menjadi sorotan warga internet. 

Saat ini, penggunaan tumbler memang sudah menjadi bagian hidup banyak orang yang berdampak baik dalam mengurangi sampah plastik. 

Akan tetapi, penggunaan tumbler kini seakan menggambarkan kelas sosial penggunanya. Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Nilai dasar bangsa tidak membeda-bedakan status sosial

Sosiolog Nia Elvina menegaskan, para pendiri bangsa sebenarnya telah membangun fondasi nilai sosial yang kuat dan berpihak pada kemanusiaan.

“Sebenarnya pendiri bangsa ini sudah membangun nilai yang amat baik untuk kemajuan masyarakat kita,” jelas Nia saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (29/11/2025).

Ia mengungkap, nilai dasar tersebut menempatkan nilai dan budi pekerti manusia sebagai pusat, bukan status sosial atau kemampuan ekonomi.

“Tidak membeda-bedakan status sosial dari ekonomi, posisi dalam masyarakat, yakni nilai dasar negara kita, kemanusiaan yang adil dan beradab,” ujarnya.

Menurut Nia, para pendiri bangsa menginginkan masyarakat yang mengutamakan kesetaraan dan rasa saling menghormati, bukan masyarakat yang mengukur seseorang berdasarkan barang yang dimilikinya.

Ketika nilai kemanusiaan tergantikan oleh sebuah barang

Nia menilai, kecenderungan masyarakat modern menilai seseorang dari barang yang dibawa, termasuk tumbler, merupakan bentuk penyempitan makna kemanusiaan.

“Jika merujuk nilai yang dibangun oleh pendiri bangsa ini, generasi saat ini sebagai penerus bangsa itu amat malu, mengkerdilkan nilai humanity (kemanusiaan) menjadi sebatas tumbler,” kata Nia.

Ia menjelaskan, perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, di mana masyarakat terlalu mudah memberi label berdasarkan simbol-simbol material. 

Barang yang seharusnya berfungsi secara praktis berubah menjadi penanda status, yang kemudian memengaruhi cara seseorang diperlakukan.

Fenomena memandang tumbler sebagai simbol status bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga bagian dari budaya konsumsi global. 

Namun, ia menegaskan, fenomena ini bertentangan dengan nilai dasar bangsa yang seharusnya dijunjung tinggi.

Menilai orang dari barang yang dipakai adalah bentuk kedangkalan sosial

Lebih jauh, Nia menyebut bahwa tindakan menilai seseorang berdasarkan jenis atau merek tumbler yang dibawa termasuk perilaku sosial yang dangkal.

“Jadi kalau masih ada orang yang masih menilai seseorang dari barang yang dikenakannya atau lainnya, mereka termasuk orang yang amat dangkal kemanusiaannya,” tegasnya.

Nilai seseorang tidak seharusnya diukur dari simbol material, karena hal tersebut mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih mendasar seperti integritas, empati, dan etika. 

Ia menegaskan, perilaku seperti ini mencerminkan lemahnya pemahaman terhadap nilai sosial yang seharusnya dipegang bersama.

Tumbler, tas, atau barang apa pun yang melekat pada seseorang tidak dapat menggambarkan moralitas, kualitas diri, maupun kapasitas intelektual seseorang. 

Menilai individu dari barangnya hanya akan memperkuat stratifikasi sosial yang tidak sehat.

Masyarakat ideal berbasis nilai kemanusiaan bukan barang

Sebagai penutup, Nia mengingatkan, masyarakat Indonesia seharusnya kembali pada nilai-nilai yang dirumuskan oleh pendiri bangsa, yakni menjadikan manusia sebagai pusat penghormatan.

“Idealnya masyarakat Indonesia yang ingin dibangun oleh pendiri bangsa ini adalah masyarakat yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan, manusia paling utama, bukan barang atau posisi sosial,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dapat kembali menilai seseorang berdasarkan karakter, kontribusi, dan perilakunya dalam kehidupan sosial, bukan dari barang yang dibawa atau merek yang dikenakan.

Dengan demikian, perbincangan tentang tumbler dan status sosial bukan lagi soal barang itu sendiri, tetapi bagaimana masyarakat memaknai simbol-simbol material dalam interaksi sosial. 

Fenomena ini menjadi refleksi bahwa nilai kemanusiaan perlu terus dipelihara agar tidak tergerus oleh budaya konsumsi yang dangkal.

Tag:  #mengapa #tumbler #seakan #mencerminkan #status #sosial #seseorang #sosiolog #jelaskan #alasannya

KOMENTAR