



Menurut Psikologi, Ini 8 Tanda Seseorang Sebenarnya Bukan Sosok yang Tulus di Media Sosial
Menavigasi dunia sosial bisa menjadi tantangan besar, terutama ketika kamu berinteraksi dengan orang-orang yang mungkin tidak sejujur yang tampak di permukaan.
Ketidaktulusan ini sering sulit dideteksi, mengingat banyak orang yang sangat terampil dalam berpura-pura, terutama jika mereka berupaya memikatmu atau mendapatkan sesuatu dari hubungan tersebut.
Kabar baiknya, psikologi menawarkan trik dan wawasan guna membantumu mengenali tanda-tanda ketidaktulusan.
Dengan memahami petunjuk-petunjuk ini, kamu bisa lebih waspada terhadap orang yang mungkin tidak sebaik yang mereka klaim.
Dilansir dari Geediting, berikut ini beebrapa tanda seseorang sebenarnya bukan sosok yang tulus di media sosial menurut psikologi.
1. Tampak begitu sempurna
Orang yang benar-benar tulus umumnya tidak berusaha menyembunyikan kekurangan atau kesalahan mereka.
Mereka manusia, seperti kita semua, dan tentu saja pernah melakukan kesalahan. Sayangnya, orang yang tidak tulus cenderung menampilkan diri mereka sebagai sosok yang hampir sempurna.
Cerita mereka sering hanya menyoroti sisi positif diri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersalah pada keadaan apapun dan selalu punya jawaban untuk setiap masalah.
Psikologi menyatakan bahwa sikap perfeksionis seperti ini adalah sebuah topeng. Ini merupakan cara mereka menyembunyikan siapa mereka sebenarnya, sambil berusaha mengendalikan bagaimana orang lain memandang mereka. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar sempurna.
Jadi, apabila seseorang tampak terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan, mungkin ada alasan meragukan keaslian mereka.
2. Tidak konsisten
Ketidakkonsistenan bisa menjadi indikator penting. Orang yang tulus biasanya konsisten terhadap perkataan dan perbuatan mereka sesuai dengan apa yang mereka katakan. Akan tetapi, orang yang tidak tulus sering kali sebaliknya.
Contohnya, kamu pernah bertemu seseorang yang sering bercerita tentang kegiatan amal yang mereka lakukan.
Akan tetapi, ketika kamu menggali lebih dalam, cerita mereka mulai berubah atau tidak jelas, seolah-olah mereka kesulitan menjaga narasi yang konsisten.
Ketidakkonsistenan semacam ini menjadi sinyal peringatan. Kondisi ini menerangkan bahwa orang tersebut mungkin tidak sejujur yang mereka tunjukkan. Jika cerita mereka terasa tidak masuk akal, maka bisa jadi itu tanda bahwa mereka tidak sepenuhnya jujur denganmu.
3. Sering menghakimi
Orang yang tulus mampu membuat orang lain merasa dihargai dan diterima, sementara mereka yang kurang autentik cenderung menghakimi dan mengkritik.
Psikologi mengungkapkan bahwa kritik sering berasal dari rasa tidak aman, di mana mereka yang cepat mencari kesalahan orang lain sebenarnya berusaha mengalihkan perhatian dari kekurangan mereka sendiri.
Sigmund Freud menyebut ini sebagai proyeksi mekanisme pertahanan diri di mana seseorang memindahkan karakteristik yang mereka anggap buruk dalam diri mereka kepada orang lain.
Jadi, apabila seseorang terus-menerus menunjuk kelemahan orang lain, itu mungkin lebih mencerminkan ketidakamanan diri mereka dibandingkan kesalahan orang yang mereka kritik.
4. Sering bergosip
Bergosip bisa menjadi tanda ketidaktulusan. Walaupun obrolan santai mengenai kenalan bersama mungkin biasa, gosip negatif yang terus-menerus bisa menunjukkan hal lain.
Mereka yang sering bergosip mungkin berupaya mengalihkan perhatian dari diri mereka atau bahkan meningkatkan status dengan berbagi informasi eksklusif.
Psikologi mengungkapkan bahwa perilaku ini sering kali berasal dari kebutuhan akan perhatian atau penerimaan.
Sebaliknya, orang yang tulus cenderung fokus terhadap ide positif dan interaksi yang membangun, bukan menyebarkan rumor atau merendahkan orang lain.
5. Jarang rentan
Kerentanan sering dianggap sebagai tanda keaslian, memperlihatkan bahwa seseorang merasa nyaman dengan dirinya, termasuk kekurangannya, dan cukup mempercayaimu untuk terbuka.
Sebaliknya, orang yang tidak tulus cenderung menghindari kerentanan, menyimpan emosi mereka dan jarang mengungkapkan ketakutan atau rasa tidak aman.
Ini bisa disebabkan oleh ketakutan akan penghakiman atau penolakan, atau keinginan tetap mengendalikan situasi dan menjaga jarak dengan orang lain.
6. Kurang berempati
Salah satu kualitas terbaik dari orang yang tulus adalah empati mereka. Mereka dapat secara mudah memahami dan berbagi perasaan orang lain, menciptakan ikatan yang hangat dan mendalam. Sebaliknya, orang yang tidak tulus sering kesulitan memperlihatkan empati.
Mereka mungkin mengabaikan perasaanmu atau tampak acuh tak acuh saat kamu sedang kesulitan.
Kurangnya empati ini bisa sangat menyakitkan dan sering menjadi tanda jelas bahwa seseorang tidak sejujur yang terlihat.
Orang yang tulus memahami bahwa setiap orang mempunyaimasalah dan tidak takut berbagi perasaan dengan orang lain.
7. Bukan pendengar yang baik
Mendengarkan adalah keterampilan yang sering dikuasai oleh orang-orang yang tulus. Mereka tidak hanya mendengarkan kata-katamu, tetapi juga benar-benar terlibat pada percakapan, menunjukkan minat yang nyata dengan mengajukan pertanyaan yang relevan dan memberikan tanggapan secara bijaksana.
Bagi mereka, mendengarkan bukan sekadar mendengar, melainkan juga menciptakan ruang empati dan penghargaan terhadap perasaan orang lain.
Ketika seseorang gagal menunjukkan kualitas ini secara konsisten seperti sering mengabaikan atau tidak memberi perhatian pada apa yang kamu katakan itu dapat menjadi indikasi bahwa mereka tidak tulus.
Orang yang tulus benar-benar mendengarkan karena mereka peduli, sementara mereka yang tidak tulus cenderung lebih fokus pada diri mereka sendiri daripada pada orang lain.
8. Sering tidak stabil
Keandalan merupakan ciri khas orang yang tulus. Mereka selalu menepati janji, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan.
Sebaliknya, orang yang tidak tulus biasanya tidak dapat diandalkan, mereka membatalkan rencana mendadak, lupa tanggal penting, atau gagal memenuhi janji.
Perilaku yang tidak konsisten ini bisa sangat mengecewakan dan memberi kesan bahwa mereka tidak menghargai waktu atau perasaanmu. Kondisi ini menjadi tanda jelas bahwa seseorang tidak sepenuhnya tulus.
Tag: #menurut #psikologi #tanda #seseorang #sebenarnya #bukan #sosok #yang #tulus #media #sosial