Trump Ajukan Proposal Keras, Sebut Iran Tak Akan Kembangkan Senjata Nuklir
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan telah memperoleh jaminan dari Iran bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan ini di tengah beredarnya laporan bahwa Trump telah mengirimkan proposal perdamaian yang lebih tegas kembali ke Teheran.
"Satu-satunya jaminan yang harus saya dapatkan adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik," katanya dalam sebuah wawancara pada Sabtu (30/5/2026) malam.
Baca juga: Tak Mau Ulangi Jejak Obama, Trump Perketat Tawaran Damai dengan Iran
Dikutip dari AFP, Minggu (31/5/2026), media-media AS melaporkan pada Sabtu, presiden telah mengirimkan kerangka kerja baru ke Iran dengan persyaratan yang "lebih keras", namun belum jelas apa yang dimaksud.
Trump mengatakan prioritasnya dalam setiap kesepakatan meliputi upaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir serta membuka kembali Selat Hormuz.
Dia ingin memperkuat beberapa poin dalam kesepakatan yang menurutnya penting secara pribadi, seperti apa yang dilakukan terhadap material nuklir Iran.
Perubahan-perubahan baru ini dapat memperpanjang negosiasi antara pihak-pihak terkait selama beberapa hari sebelum keputusan tercapai.
Baca juga: Trump Klaim AS Sengaja Ampuni Militer Iran, Sebut Bukan Target Utama
Namun, Teheran sebelumnya meragukan pernyataan Trump dan kedua pihak tampak memiliki pendapat yang berbeda tentang prioritas utama mereka.
Iran mengatakan pihaknya membutuhkan pelepasan aset beku senilai 12 miliar AS (Rp 213 triliun) sebelum beralih ke pembicaraan substantif tentang isu-isu seperti program nuklirnya.
Termasuk menganggap komentar Trump yang menyebut uranium yang diperkaya milik Iran akan dihancurkan sebagai hal tidak berdasar.
Teheran juga bersikeras Lebanon harus dilibatkan dalam setiap upaya penyelesaian perang, meskipun pertempuran masih berlangsung.
Baca juga: Banyak Musisi Mundur, Trump Ingin Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS
Iran tuntut pelepasan aset beku
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat berpidato dalam kampanye menjelang pemilihan presiden di Teheran, 15 Juni 2024.
Sebelumnya, Iran dikabarkan menuntut pelepasan aset beku senilai 12 miliar dolar AS dalam kesepakatan potensial dengan AS.
Dan bersikeras bahwa sisa 12 miliar dolar AS lainnya harus ditransfer dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan perjanjian, menurut media Tasnim, Selasa (26/5/2026) dilansir Anadolu.
Negosiator utama Iran sekaligus ketua parlemen Mohammed Bagher Qalibaf mengunjungi Qatar untuk melakukan pembicaraan pada Senin (25/5/2026).
Kunjungan itu disebut bertujuan "mengamankan akses ke dana sebesar 12 miliar dolar AS pada fase pertama, serta menghilangkan hambatan," demikian dilaporkan Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Baca juga: Ahmadinejad, Ikon Anti-Israel yang Muncul dalam Skenario AS untuk Iran
"Mengingat pengalaman masa lalu terkait pencairan dana Iran di Korea Selatan dan Qatar, penekanan diberikan pada pemantauan cermat proses pelaksanaannya untuk menghindari terulangnya masalah sebelumnya," kata sumber tersebut.
Sumber tersebut juga mencatat kunjungan Qalibaf bertujuan untuk memastikan akses yang lancar terhadap dana tersebut.
Negosiasi di Qatar "secara umum positif dan berkontribusi pada kemajuan dalam negosiasi yang lebih luas," tambahnya.
Tag: #trump #ajukan #proposal #keras #sebut #iran #akan #kembangkan #senjata #nuklir