Prabowo Bicara Ekonomi Pancasila dan Cita-cita yang Lebih Berani
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan amanat saat Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6/2026). (DOK. Kemenkop)
08:40
2 Juni 2026

Prabowo Bicara Ekonomi Pancasila dan Cita-cita yang Lebih Berani

- Presiden Prabowo Subianto berbicara panjang lebar mengenai ekonomi Pancasila saat menjadi Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila di Kemenlu, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia kini harus memiliki cita-cita yang lebih berani, bukan hanya soal pembangunan terus.

"Kita tidak hanya mau bicara pembangunan. Kita sekarang punya cita-cita yang lebih berani. Kita sedang dan akan menjalankan terus strategi transformasi bangsa. Strategi kita sejatinya adalah transformasi menjadi haluan yang sejalan dengan Pancasila," ujar Prabowo.

Baca juga: Pernah Terjadi 2025, Momen Prabowo Megawati Bergandengan Kembali Terulang 2026

Prabowo meyakini, Indonesia tidak akan menjadi bangsa meminta-minta bantuan kepada negara lain jika menjalani prinsip ekonomi Pancasila.

Dia menduga, tidak akan ada bangsa yang kasihan dengan Indonesia jika rakyat kesulitan dan kelaparan.

Maka dari itu, kata dia, Indonesia harus menjalankan Pancasila sungguh-sungguh di bidang politik, hukum, sosial, budaya, dan bidang ekonomi.

Ciptakan kemakmuran, bukan hanya angka statistik

Prabowo menegaskan dasar-dasar ekonomi Pancasila yang perlu diterapkan di Indonesia.

Menurut dia, ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang bertujuan untuk kemakmuran rakyat.

Pertumbuhannya tidak boleh hanya menghasilkan angka statistik di atas kertas.

"Saudara-saudara, apa arti ekonomi berdasarkan Pancasila? Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik. Pembangunan ekonomi harus menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Prabowo.

"Anak-anak kita, anak-anak saudara-saudara yang paling lemah, paling miskin, paling tidak berdaya, harus memperoleh gizinya yang cukup" imbuh dia.

Kepala Negara menegaskan, ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang religius, berperikemanusiaan, dan memperkuat persatuan nasional.

Artinya, ia percaya kekayaan alam bukan sekadar komoditas ekonomi.

Kekayaan alam adalah amanah Tuhan, yang harus dikelola secara bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan untuk masa depan generasi-generasi yang akan datang.

Baca juga: Teddy Ungkap Prabowo Tanggung Sendiri Biaya Perjalanan Luar Negeri jika Sudah Melebihi Anggaran

Dengan kata lain, seluruh masyarakat pun harus mendapat hak-haknya.

"Petani kita harus memperoleh pupuk yang tepat waktu dan harga yang benar. Nelayan kita harus memperoleh akses pasar yang adil dan harus dibantu dan harus diberdayakan. Para nelayan kita adalah produsen protein yang sangat penting, agar rakyat kita bisa menjadi rakyat yang kuat," tutur dia.

Begitu pula para pekerja yang harus memperoleh kesempatan penghidupan dan penghasilan yang layak.

"Nasib pekerja kita harus dilindungi, harus dibantu," ucap dia.

Prabowo menekankan bahwa ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang harus berpihak kepada kepentingan nasional dan kepentingan rakyat.

Ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Ia tidak memungkiri, sudah terlalu lama harga kekayaan alam ditentukan oleh negara lain.

Alat untuk angkat rakyat dari kemiskinan

Prabowo mengingatkan, perekonomian Indonesia sudah tercetak jelas, di mana harus disusun berdasarkan asas kekeluargaan.

"Ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang egaliter, ekonomi yang kerakyatan, ekonomi kita, berdasarkan rancang bangun cetak biru yang dibuat oleh pendiri-pendiri bangsa kita," ujar Prabowo.

"Oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan semua pendiri-pendiri bangsa kita, tertuang dengan sangat jelas dalam Pasal 33 UUD 1945, di mana sangat jelas diamanatkan bahwa perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan," sambung dia.

Baca juga: Prabowo Sering ke Luar Negeri, Seskab Teddy: Investasi Masuk Rp 2.430 Triliun ke RI

Oleh karena itu, kata Prabowo, koperasi harus diperkuat dan bangkit.

Dia menyebut koperasi sebagai salah satu alat untuk mengangkat rakyat RI dari keadaan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

"Usaha kecil dan menengah harus kita perkuat, dan desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Saudara-saudara, karena itu, rakyat harus menjadi pelaku utama dari pembangunan, bukan sekadar obyek pembangunan, apalagi hanya menjadi alat pembangunan," imbuh Prabowo.

Pertumbuhan ekonomi sudah merata?

Prabowo mengatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia memang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi, Prabowo mengajak semua pihak untuk jujur kepada diri sendiri, apakah pertumbuhan ekonomi itu sudah merata atau belum.

"Marilah kita selalu jujur kepada diri kita sendiri, kita harus mengakui kelemahan-kelemahan dan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Selama beberapa dasawarsa terakhir, Indonesia ekonominya memang tumbuh. Tetapi apakah pertumbuhan itu sudah merata?" ujar Prabowo.

"Sudah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara adil? Marilah kita jujur melihat kenyataan yang kita hadapi sekarang," sambung dia.

Prabowo menyampaikan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, di mana pemerintah mengerti bahwa RI sangat kaya.

"Kita salah satu produsen terbesar komoditas-komoditas penting yang dibutuhkan dunia modern, yang dibutuhkan oleh teknologi tinggi," kata Prabowo.

Prabowo menyebut, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar mineral-mineral penting, mulai dari tembaga, timah, emas, logam tanah jarang.

Baca juga: PDI-P: Masalah yang Dihadapi Prabowo Saat Ini Banyak Warisan Pemerintahan Jokowi

"Kita produsen kelapa sawit, batu bara, nikel. Komoditas-komoditas pertanian lainnya yang sangat penting," ujar dia.

Prabowo menyinggung Indonesia yang sudah mencapai swasembada pangan.

Padahal, kata Prabowo, banyak negara lain yang masih kesulitan dalam bidang pangan.

"Dan sekarang kita sudah swasembada pangan, di mana banyak negara menghadapi kesulitan, kita sudah lebih siap," kata Prabowo.

Tag:  #prabowo #bicara #ekonomi #pancasila #cita #cita #yang #lebih #berani

KOMENTAR