Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim pembicaraan dengan Iran berlangsung dengan cepat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Namun, di saat yang sama, Teheran justru mengancam akan memperluas konflik dengan mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan membuka titik tekanan baru di kawasan.
Pernyataan Trump disampaikan saat perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, dan kelompok Hizbullah di Lebanon belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca juga: Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Upaya diplomatik yang berlangsung selama beberapa pekan juga belum berhasil mengakhiri konflik maupun membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Trump klaim negosiasi berjalan cepat
Melalui media sosial, sebagaimana dilaporkan AFP, Trump mengatakan, pembicaraan dengan Republik Islam Iran terus berlangsung.
"Pembicaraan terus berlanjut, dengan kecepatan yang tinggi, dengan Republik Islam Iran," tulis Trump, Senin (1/6/2026).
Pernyataan itu muncul setelah laporan Kantor Berita Tasnim menyebut Iran telah menangguhkan dialog dengan para mediator terkait meluasnya operasi militer Israel di Lebanon.
Trump juga mengatakan, dirinya telah membujuk Israel dan Hizbullah yang didukung Iran untuk menurunkan eskalasi konflik.
Kedutaan Besar AS di Lebanon menyatakan, Hizbullah telah menerima proposal Amerika Serikat mengenai "penghentian serangan secara timbal balik".
Meski demikian, perang yang telah berlangsung selama berminggu-minggu belum berakhir.
Serangkaian pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran, ancaman, serta serangan udara sejauh ini belum mampu mengakhiri konflik maupun membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak dan gas Teluk.
Iran tangguhkan dialog
Iran menyatakan, belum memasuki negosiasi mengenai program nuklirnya dan menegaskan bahwa Israel harus menghentikan ofensifnya di Lebanon sebelum kesepakatan yang lebih luas dapat dicapai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, "Tidak ada negosiasi yang berlangsung mengenai rincian isu nuklir. Pada tahap ini, prioritas kami adalah mengakhiri perang."
Ia menambahkan, "Kami bersikeras bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan syarat penting bagi setiap kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang."
Sementara itu, Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut blokade angkatan laut AS dan eskalasi di Lebanon sebagai "bukti jelas ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap gencatan senjata".
Pada Senin malam, Tasnim melaporkan Iran menangguhkan "dialog dan pertukaran pesan melalui mediator" sebagai respons terhadap tindakan Israel di Lebanon.
Dalam pesan yang disiarkan televisi pemerintah, badan intelijen Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa "melintasi garis merah di Lebanon dan Gaza" berarti "perang langsung".
Lembaga itu juga menegaskan, Iran bertekad mempertahankan apa yang disebutnya sebagai "persamaan Selat Hormuz" dan akan mengambil "tindakan yang berarti" dengan membuka front-front lain.
Baca juga: Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Israel perluas operasi di Lebanon
Di tengah ketegangan tersebut, Israel memperluas operasi daratnya di Lebanon. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji akan mendorong pasukannya lebih jauh dan mengancam serangan di pinggiran selatan Beirut.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab meminta warga di kawasan Dahiyeh untuk mengungsi "demi menjaga keselamatan mereka".
Foto-foto AFP menunjukkan kemacetan panjang ketika warga berusaha meninggalkan daerah tersebut.
Netanyahu kemudian mengatakan kepada Trump bahwa Israel akan menyerang Beirut jika Hizbullah tidak menghentikan serangannya terhadap Israel, sembari tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan.
Menjelang rapat darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Lebanon, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan kekhawatiran organisasi tersebut.
"Kami sangat khawatir dengan eskalasi aktivitas militer di seluruh Lebanon selatan dan wilayah lainnya," katanya.
Ancaman terhadap jalur energi dunia
Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.
Tasnim melaporkan Iran akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan bersama para sekutunya akan "mengaktifkan front-front lain", termasuk Selat Bab al-Mandab di pintu masuk Laut Merah.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman sebelumnya telah menyerang kapal-kapal di sekitar Bab al-Mandab. Penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu pengiriman jutaan barel minyak yang diekspor Arab Saudi setiap hari melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu.
Trump mengatakan, ancaman tersebut tidak berarti Washington akan "mulai menjatuhkan bom di seluruh wilayah itu", tetapi menegaskan blokade angkatan laut AS akan tetap dipertahankan.
Sementara itu, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan terjadi "ledakan besar" di sebuah kapal kargo di lepas pantai Irak setelah terkena "proyektil yang tidak diketahui".
Di medan perang Lebanon, militer Israel juga mengumumkan dua tentaranya kembali tewas di Lebanon selatan. Dengan demikian, jumlah personel militer Israel yang tewas sejak awal Maret bertambah menjadi 27 orang.
Baca juga: AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Tag: #trump #sesumbar #negosiasi #dengan #iran #makin #cepat #teheran #malah #ancam #perluas #perang