Cara AS Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Pakai 3 Alat Ini
Presiden Donald Trump memerintahkan militer Amerika Serikat untuk mengambil alih Selat Hormuz dan membersihkannya dari ranjau laut yang dipasang Iran.
Langkah ini diambil setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) menemui jalan buntu.
Adapun Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia, telah tertutup sejak perang pecah pada 28 Februari. Penutupan ini membuat ribuan kapal tertahan dan mengganggu arus perdagangan global.
Baca juga: 24 Drone MQ-9 Reaper AS Ditembak Jatuh Iran, Total Kerugian Rp 12 T
Operasi pembersihan ranjau
Sebagaimana dilansir New York Post, Presiden Trump mengatakan bahwa operasi pembersihan ranjau akan melibatkan Angkatan Laut AS serta negara-negara sekutu.
“Kami sudah memiliki kapal penyapu ranjau di sana sekarang,” kata Trump kepada Fox News dalam program Sunday Morning Futures.
Ia menambahkan, “Kami memiliki penyapu ranjau bawah laut yang sangat canggih, yang terbaru dan terbaik, tetapi kami juga membawa penyapu ranjau yang lebih tradisional.”
Trump juga menyebut bahwa Inggris dan beberapa negara lain turut mengirimkan kapal penyapu ranjau. Menurutnya, tidak banyak negara yang memiliki kemampuan tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi telah dimulai sejak Sabtu, setelah dua kapal perusak Amerika melintasi selat itu untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Misi ini juga mencakup penggunaan drone bawah laut untuk mendeteksi dan menghancurkan ranjau dalam beberapa hari ke depan.
Drone canggih jadi andalan
Dalam operasi ini, militer AS mengandalkan berbagai teknologi mutakhir, termasuk kendaraan bawah laut tanpa awak (UUV). Salah satunya adalah drone Knifefish seberat sekitar 1.700 pon yang dikembangkan oleh General Dynamics.
Sistem ini mampu mendeteksi, mengklasifikasi, dan mengidentifikasi ranjau, baik yang terkubur maupun yang berada di lingkungan laut yang kompleks.
Selain itu, Angkatan Laut AS juga menggunakan drone Kingfish Mod 2 berbentuk seperti rudal yang dilengkapi sonar untuk memindai dasar laut.
Tidak hanya dari bawah air, operasi juga didukung helikopter MH-60S yang membawa sistem pendeteksi ranjau berbasis laser (ALMDS) serta sistem penetral ranjau udara (AMNS).
Menurut Angkatan Laut, sistem tersebut memungkinkan helikopter menemukan ranjau dengan cepat dan menghancurkannya menggunakan hulu ledak kecil.
Baca juga: Trump Ngamuk Negosiasi AS-Iran Gagal, Mulai Blokade Selat Hormuz
CENTCOM janjikan jalur aman untuk perdagangan global
Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pihaknya tengah membuka jalur pelayaran baru yang aman.
“Hari ini, kami memulai proses pembentukan jalur baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong kelancaran arus perdagangan,” ujarnya.
CENTCOM juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur laut internasional yang vital bagi ekonomi global, termasuk untuk distribusi minyak dan gas alam cair.
Ribuan kapal tertahan
Kapal kargo Mayuree Naree dari Thailand yang diserang di Selat Hormuz Iran, terbakar pada 11 Maret 2026. Selat Hormuz ditutup imbas dari perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Sejak konflik dimulai, lebih dari 2.000 kapal dilaporkan terjebak di sekitar Selat Hormuz. Hanya sebagian kecil yang bisa melintas setiap hari, itupun setelah melakukan negosiasi dan” pembayaran” dengan Iran.
Trump mengecam situasi ini sebagai “pemerasan dunia” dan berjanji akan membuka kembali jalur tersebut. Ia juga menyatakan bahwa kapal-kapal perang AS akan mengawal kapal dagang dari ancaman pembalasan Iran.
Iran diperkirakan memiliki antara 2.000 hingga 6.000 ranjau laut, serta armada kapal kecil yang mampu menyebarkannya dengan cepat.
Bahkan, pejabat AS menyebut Iran kemungkinan telah kehilangan jejak lokasi pasti dari sebagian ranjau yang telah dipasang, sehingga meningkatkan risiko bagi pelayaran.
Ranjau laut sendiri dikenal sebagai salah satu senjata paling mematikan di laut, yang telah menyebabkan lebih banyak kerusakan pada kapal perang dibandingkan senjata lain sejak Perang Dunia II.
Baca juga: Iran Siapkan “Pusaran Mematikan” di Selat Hormuz Usai Ancaman Blokade Trump