Antara Bom AS dan Penindasan, Warga Iran Hadapi Dilema
Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi(AFP/ATTA KENARE)
08:54
11 April 2026

Antara Bom AS dan Penindasan, Warga Iran Hadapi Dilema

Rencana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) memicu reaksi beragam dari warga di Teheran. 

Di tengah upaya mengubah gencatan senjata menjadi perdamaian abadi, masyarakat Iran justru diselimuti rasa skeptis dan ketakutan yang mendalam.

Warga merasa terjebak di antara pemerintah domestik yang dianggap tidak memahami perdamaian dan sosok Presiden AS Donald Trump yang sempat mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran.

Baca juga: Negosiasi Damai AS-Iran Digelar Hari Ini, Pakistan Sambut Delegasi

Keraguan warga

Banyak warga yang meragukan apakah meja diplomasi mampu menghasilkan solusi jangka panjang, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (10/4/2026). 

Amir (40), seorang seniman, mengaku pesimistis terhadap keberlangsungan kesepakatan tersebut.

"Saya tidak berpikir perjanjian sementara dan negosiasi ini akan bertahan bahkan selama seminggu," ujar Amir.

Menurutnya, mesin propaganda pemerintah telah menguatkan posisi Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. 

Hal ini membuat kesepakatan damai menjadi sulit dicapai.

Baca juga: Imbas Perang Iran, Negara-negara Teluk Atur Ulang Strategi Keamanan

"Mesin propaganda telah menyampaikan kebohongan sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar percaya telah memenangkan perang. Mereka tidak bisa bertahan dalam perdamaian karena mereka tidak memahami perdamaian," lanjutnya.

Bagi sebagian warga lainnya, ketidakpastian ini juga menimbulkan kecemasan luar biasa. 

Sheida (38) mengungkapkan bahwa beban hidup yang menumpuk membuat warga bingung menentukan prioritas kekhawatiran mereka.

"Begitu banyak kesulitan yang ditimpakan kepada kami sehingga kami bahkan tidak tahu apa yang harus dikhawatirkan terlebih dahulu," kata Sheida. 

Baca juga: Risiko Tinggi Wapres AS: Tolak Perang Iran, Kini Disuruh Mengakhiri

"Sekarang setelah gencatan senjata dimulai, semua orang berebut untuk melunasi utang dan membereskan urusan keuangan," lanjutnya.

Ia pun merasa tidak memiliki pilihan ideal antara kembalinya serangan udara AS-Israel atau bertahannya sistem pemerintahan saat ini.

"Saya takut perang dimulai lagi, dan di saat yang sama saya takut rezim ini tetap bertahan," tambahnya.

Dia juga menyebut bahwa pihak berkuasa kini menjadi semakin agresif.

Baca juga: Bukan Perangi Iran, Menteri Turkiye Ingatkan Trump Fungsi Asli NATO

Kritik terhadap Trump

Sikap Trump juga tak luput dari sorotan. Seorang warga Teheran berusia 30 tahun menilai pernyataan Trump sering kali tidak konsisten dan sulit dipahami tujuannya.

"Saya rasa Anda tidak seharusnya menganggap Trump terlalu serius. Dia ingin menghapus sebuah peradaban dan 12 jam kemudian dia membuat gencatan senjata yang dibangun di atas kekosongan," tuturnya. 

"Sebagian besar dari apa yang dia katakan hanyalah kebisingan belaka," tambahnya.

Kekecewaan serupa disampaikan oleh Shahrzad (39), seorang ibu rumah tangga. 

Dia merasa terhina dengan ancaman Trump yang menyebut seluruh peradaban Iran akan musnah jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz.

"Mengancam lebih dari 90 juta orang dengan penghancuran peradaban adalah sebuah kejahatan tersendiri," tegas Shahrzad. 

Dia mengaku sempat berharap pada jatuhnya rezim, namun kini dia kehilangan kepercayaan pada sisi kemanusiaan Trump.

Baca juga: Islamabad Lockdown, Ini 5 Hal tentang Negosiasi AS-Iran di Pakistan

Masa pepan yang kelam

Warga Iran mengibarkan bendera negara dalam aksi mendukung angkatan bersenjata di Teheran, 25 Maret 2026.AFP Warga Iran mengibarkan bendera negara dalam aksi mendukung angkatan bersenjata di Teheran, 25 Maret 2026.

Di sisi lain, Sara (44), seorang desainer grafis, mengingatkan bahwa pemerintahan Iran saat ini memiliki basis ideologi yang kuat hingga ke akar rumput, sehingga sulit untuk digulingkan begitu saja.

"Pemerintah ini adalah pemerintahan ideologis, dan tidak akan runtuh dengan mudah," jelasnya.

Amir menutup dengan kekhawatiran bahwa jika rezim bertahan setelah perang melawan AS dan Israel, mereka tidak akan lagi memiliki rasa takut. 

Hal ini dikhawatirkan akan memicu ambisi Iran untuk mengejar senjata atom.

Namun, warga lain memperingatkan risiko besar bagi siapa pun yang mencoba melawan. 

"Jangan protes jika Anda ingin hidup," tutup warga berusia 30 tahun.

Baca juga: Ukraina Mulai Beraksi Jatuhkan Drone Iran di Timur Tengah

Tag:  #antara #penindasan #warga #iran #hadapi #dilema

KOMENTAR