Perundingan Damai Diwarnai Saling Curiga, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS
Warga berjalan di bawah layar digital yang menampilkan berita tentang pembicaraan perdamaian AS-Iran di sepanjang jalan di Islamabad pada Jumat (10/4/2026). Pembicaraan damai AS-Iran sedianya digelar Sabtu (11/4/2026).(AFP/FAROOQ NAEEM)
12:12
11 April 2026

Perundingan Damai Diwarnai Saling Curiga, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS

- Delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, hari ini, Sabtu (11/4/2026). 

Pertemuan bersejarah ini berlangsung di tengah suasana ketidakpercayaan mendalam dan perbedaan tajam terkait tuntutan utama kedua negara.

Pengamanan ketat diberlakukan di ibu kota Pakistan tersebut, sebagaimana dilansir AFP.

Baca juga: Perundingan Damai Belum Mulai, Trump Ancam Serang Iran Lagi

Seluruh rute menuju Hotel Serena, yang menjadi lokasi pertemuan, telah ditutup. 

Spanduk dan papan digital bertuliskan "Islamabad Talks" tampak menghiasi sepanjang jalan protokol.

Delegasi Iran yang berjumlah lebih dari 70 orang tiba lebih dulu di Islamabad, dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. 

Dalam pernyataan setibanya di lokasi, Ghalibaf menegaskan sikap skeptis Teheran terhadap AS.

"Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak percaya (kepada AS)," ujar Ghalibaf sebagaimana dikutip media pemerintah Iran. 

Baca juga: Kendalikan Selat Hormuz, Posisi Iran Sangat Kuat Jelang Pembicaraan Damai

"Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan orang-orang Amerika selalu berujung pada kegagalan dan janji-janji yang diingkari," lanjutnya.

Di sisi lain, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance, yang didampingi menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan khusus Steve Witkoff. 

Vance menyatakan Washington tetap membuka peluang diplomasi namun dengan kewaspadaan tinggi.

"Jika pihak Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan," kata Vance sebelum meninggalkan Washington. 

Namun, dia memberi peringatan keras bahwa Iran tidak boleh mempermainkan AS.

Baca juga: Antara Bom AS dan Penindasan, Warga Iran Hadapi Dilema

Tuntutan Trump dan nasib Selat Hormuz

Trump sebelumnya telah menetapkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai syarat gencatan senjata dua minggu yang memungkinkan negosiasi ini terjadi. 

Jalur vital yang dilalui seperlima minyak mentah dunia tersebut hingga kini belum beroperasi normal.

Trump menegaskan akan memastikan selat tersebut segera terbuka, baik dengan maupun tanpa kerja sama Iran. 

Baginya, prioritas utama dalam pembicaraan di Islamabad adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

"Tanpa senjata nuklir. Itulah 99 persen dari tujuan (perundingan) ini," tegas Trump pada Jumat (10/4/2026).

Baca juga: China Jadi Kunci Rahasia Gencatan Senjata Iran-AS, Lanjut Negosiasi Damai

Momentum make or break

Warga Pakistan berjalan melewati perbatasan Taftan usai kembali dari Iran menuju Provinsi Balochistan, di tengah serangan Amerika Serikat-Israel pada 9 Maret 2026.AFP/BANARAS KHAN Warga Pakistan berjalan melewati perbatasan Taftan usai kembali dari Iran menuju Provinsi Balochistan, di tengah serangan Amerika Serikat-Israel pada 9 Maret 2026.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengakui bahwa mencapai kemajuan dalam perundingan ini merupakan tantangan yang sangat berat.

"Gencatan senjata sementara telah diumumkan, namun sekarang tahap yang lebih sulit menanti: tahap mencapai gencatan senjata yang langgeng dan menyelesaikan isu-isu rumit melalui negosiasi," kata Sharif.

Dia menambahkan bahwa fase ini merupakan penentu bagi masa depan hubungan kedua negara. 

"Inilah tahap yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai make or break (berhasil atau hancur sama sekali)," lanjutnya.

Baca juga: Negosiasi Damai AS-Iran Digelar Hari Ini, Pakistan Sambut Delegasi

Tag:  #perundingan #damai #diwarnai #saling #curiga #iran #blak #blakan #percaya

KOMENTAR