Bukan Damai, Bukan Perang: AS dan Iran Sama-sama Enggan Mengalah
Amerika Serikat dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik meski gencatan senjata telah memasuki bulan kedua.
Situasi ini membuat konflik berada di wilayah abu-abu: bukan perang terbuka, tetapi juga belum benar-benar damai.
Dilansir Wall Street Journal, Presiden Donald Trump pada Senin (11/5/2026) memperingatkan bahwa gencatan senjata dengan Iran kini “berada dalam kondisi memakai alat bantu hidup” atau sangat rapuh.
Baca juga: Ngebet Akhiri Perang, Trump “Kehabisan Kartu” untuk Paksa Iran Tunduk
Ia menegaskan, pemerintahannya tidak akan mundur dari target untuk menekan Iran agar meninggalkan program nuklirnya.
Trump mengatakan, Iran berharap dirinya akan lelah menghadapi konflik atau terdorong mengakhirinya akibat kenaikan harga energi, tetapi itu tidak terjadi.
“Namun tidak ada tekanan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
“Kami akan meraih kemenangan penuh.”
Di sisi lain, Iran terus menggambarkan dirinya sebagai pemenang perang. Pemerintah Iran menilai rezimnya tetap bertahan, sementara program misil dan nuklirnya masih menjadi ancaman.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga memperingatkan AS agar tidak meningkatkan eskalasi.
“Angkatan bersenjata kami siap memberikan respons yang pantas terhadap agresi apa pun,” tulisnya di platform X.
Perang bergeser jadi tekanan ekonomi
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Alih-alih kembali bertempur secara langsung, kedua negara kini memperkuat strategi saling tekan melalui blokade.
Pemerintahan Trump memperketat embargo terhadap pelabuhan dan kapal Iran. Sementara Iran tetap mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia.
Allison Minor, mantan pejabat AS untuk kebijakan Timur Tengah yang kini berada di lembaga pemikir Atlantic Council, menilai situasi saat ini membuat kedua pihak hanya memiliki pilihan buruk.
“Kita berada dalam situasi di mana satu-satunya pilihan yang tersisa adalah banyak pilihan buruk,” ujar Minor.
Menurutnya, jika pemerintahan Trump ingin kebuntuan segera berakhir, Washington mungkin akan dipaksa melunakkan target utamanya terhadap Iran.
“Pemerintahan Trump akan dipaksa memilih,” katanya.
Negosiasi damai kembali mandek
Sepekan lalu sempat muncul optimisme mengenai peluang diplomasi. Pejabat AS dan pihak yang terlibat dalam negosiasi menyebut kedua negara mulai mendekati kerangka kesepakatan damai jangka panjang.
Namun optimisme itu mulai memudar. Sumber yang dekat dengan pembicaraan menyebut masih ada perbedaan besar antara posisi AS dan Iran, terutama terkait masa depan pengelolaan Selat Hormuz serta pembatasan program nuklir Iran.
Suzanne Maloney dari Brookings Institution mengatakan, belum jelas apakah AS mampu memaksa Iran memberikan konsesi besar.
“Tidak sepenuhnya jelas bagi saya bahwa Amerika Serikat akan mampu membujuk Iran membuat konsesi signifikan terhadap program nuklirnya sambil kembali membuka akses lebih besar ke Selat Hormuz,” ujar Maloney.
Iran juga disebut tetap percaya diri dalam perundingan. Proposal terbaru Teheran yang ditolak Trump pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa Iran yakin ancaman eskalasi dari AS tidak akan benar-benar dilakukan.
Baca juga: UEA Diam-diam Ikut Serang Iran, Timur Tengah di Ambang Perang?
Iran tuntut jaminan
Proposal Iran dinilai tidak menunjukkan fleksibilitas besar terhadap tuntutan Washington agar Teheran menghentikan program nuklirnya dalam jangka panjang.
Iran ingin isu nuklir dibahas hanya setelah syarat-syarat lain mengenai akhir perang disepakati dan diterapkan. Teheran juga menginginkan pelonggaran sanksi sejak awal.
Selain itu, pejabat Iran meminta aturan baru mengenai lalu lintas di Selat Hormuz dibentuk dengan melibatkan kawasan regional.
Iran bahkan mengusulkan mekanisme seperti pungutan atau biaya tertentu sebagai “kompensasi perang”.
Teheran juga ingin akhir perang dikaitkan dengan gencatan senjata permanen di Lebanon, tempat pasukan Israel masih bentrok dengan Hizbullah. Namun syarat itu ditolak AS dan Israel.
Raz Zimmt dari Institute for National Security Studies di Israel mengatakan, kepercayaan diri Iran meningkat setelah AS gagal membuka Selat Hormuz secara militer.
“Iran tidak siap kembali ke status sebelum perang dan menuntut jaminan ekonomi serta keamanan jangka panjang bahwa perang tidak akan dimulai lagi dan bahwa mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi dari situasi ini,” kata Zimmt.
Trump hadapi tekanan dari dalam negeri
Trump dijadwalkan berkunjung ke China pekan ini dan diperkirakan akan meminta Beijing membantu mencari jalan keluar dari kebuntuan diplomatik dengan Iran.
China, sebagai pembeli utama energi Iran, dinilai memiliki pengaruh terhadap Teheran.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang semakin besar. Sejumlah anggota Partai Republik mendesak agar operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz kembali dijalankan atau bahkan perang terhadap Iran dimulai lagi.
Namun kelompok Republik lain yang skeptis terhadap intervensi luar negeri justru meminta Trump segera mengakhiri konflik karena kekhawatiran terhadap ekonomi dan penurunan dukungan publik.
Sejumlah sekutu AS di Teluk Persia juga disebut mendorong Gedung Putih agar tidak kembali melanjutkan perang.
AS dinilai belum capai tujuan strategis
Pejabat AS yang berpengalaman di Timur Tengah menilai pemerintahan Trump memang berhasil mencetak keuntungan taktis dalam perang, seperti melemahkan kepemimpinan Iran, basis industri pertahanan, dan angkatan lautnya.
Namun hingga kini, Washington dinilai belum mencapai tujuan strategis utama, termasuk memaksa Iran menghentikan program nuklir, misil balistik, maupun dukungannya terhadap kelompok proksi di kawasan.
Pemerintah Gedung Putih tetap menyatakan blokade terhadap perdagangan Iran memberi AS posisi tawar kuat. Mereka juga menilai di balik retorika keras Iran, Teheran sebenarnya berada di ambang krisis ekonomi dan ingin mencari jalan keluar konflik.
Meski demikian, Maloney menilai skenario paling mungkin saat ini adalah kebuntuan berkepanjangan.
“Saya pikir Washington dan Teheran masih berusaha mencapai tujuan maksimalis atau sesuatu yang mendekatinya melalui proses negosiasi yang gagal mereka capai dalam perang itu sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Gagal Damai, Trump Berencana Akhiri Gencatan Senjata dengan Iran
Tag: #bukan #damai #bukan #perang #iran #sama #sama #enggan #mengalah