Saat Kapal Perang AS Kena Ranjau Iran: Langsung Terpental, Bolong 6 Meter
Pada suatu sore berkabut di Teluk Persia hampir 40 tahun lalu, sebuah kapal perang Amerika Serikat mendadak menghadapi ancaman mematikan yang tak terlihat.
Sebuah ranjau laut Iran meledak tepat di bawah lambung kapal, menciptakan lubang besar dan hampir menenggelamkannya.
Kejadian itu menimpa fregat Angkatan Laut AS, USS Samuel B Roberts, pada 14 April 1988.
Baca juga: AS Pulangkan Kapal Induk USS Gerald R Ford dari Operasi Iran, Tanda Perang Berakhir?
Saat itu, kapal sedang beroperasi di Teluk Persia sebagai bagian dari misi pengawalan tanker minyak.
Letnan Gordan Van Hook, kepala teknisi kapal, mengingat momen sebelum ledakan ketika ia melihat tiga ranjau di depan kapal menggunakan teropong.
Kapal sempat berhenti untuk menghindari bahaya tersebut. Namun, sekitar 10 menit kemudian, ranjau lain yang tak terdeteksi meledak tepat di bawah kapal.
“Anda bisa merasakannya terangkat,” kata Van Hook dalam wawancara terbaru, sebagaimaan dilansir New York Times, Rabu (25/3/2026).
“Itu ledakan yang sangat besar.”
Ledakan tersebut merobek lambung kapal hingga berlubang sekitar 6 meter, membuat kapal hampir tenggelam dan melukai serius 10 awaknya.
Upaya putus asa menyelamatkan kapal
Ledakan menyebabkan dua kompartemen kapal langsung terendam air, sementara satu kompartemen lain mulai kemasukan air. Situasi ini membuat kapal berada di ambang tenggelam.
Dalam kondisi darurat, para awak melakukan langkah improvisasi ekstrem. Mereka menyumbat kebocoran menggunakan bantal dan kasur, yang ditahan dengan kayu lapis dan balok.
“Seperti jika Anda punya luka — Anda menekannya dengan sesuatu,” ujar Van Hook.
Upaya tersebut akhirnya berhasil. Pompa air mampu menguras air lebih cepat daripada yang masuk melalui celah-celah, sehingga kapal bisa diselamatkan.
Baca juga: Kapal Induk USS Gerald R Ford Terbakar di Laut Merah, 2 Awak Luka-luka
Misi pengawalan di zona perang
Insiden ini terjadi dalam konteks Operasi Earnest Will, misi AS sejak 1987 untuk mengawal tanker minyak di tengah perang Iran-Irak. Saat itu, kedua negara kerap menyerang kapal tanker di Teluk Persia.
Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, memutuskan untuk melindungi pengiriman minyak Kuwait dengan mengibarkan bendera AS pada kapal-kapal tanker dan mengawal mereka menggunakan kapal perang.
Namun, misi ini tidak berjalan mulus. Bahkan pada pengawalan pertama, sebuah tanker Kuwait bernama Bridgeton juga sempat menghantam ranjau.
Meski begitu, USS Samuel B Roberts menjadi salah satu kapal perang AS yang mengalami kerusakan paling parah akibat ranjau.
Empat hari setelah insiden tersebut, Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap kapal Angkatan Laut Iran dan fasilitas minyaknya.
Aksi ini menjadi salah satu eskalasi terbesar antara kedua negara selama konflik di Teluk.
Ancaman yang masih nyata
Iran disebut menebar ranjau di Selat Hormuz di tengah ketegangan dengan AS dan Israel.
Peristiwa tahun 1988 itu kini kembali menjadi pengingat serius di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Iran dilaporkan kembali menebar ranjau laut, sementara ratusan kapal tanker menunggu jalur aman untuk melintas.
Presiden AS Donald Trump bahkan sempat mengusulkan pengawalan kapal tanker oleh militer untuk menjaga aliran minyak global.
Namun, risiko tetap tinggi. Meski teknologi modern seperti drone bawah laut dapat mendeteksi ranjau, kapal pengawal tetap rentan terhadap ancaman lain.
“Ini seperti melewati rentetan bahaya,” kata Emma Salisbury, peneliti dari Foreign Policy Research Institute.
Baca juga: Iran Klaim Kapal Induk Lincoln Kabur dari Drone di Selat Hormuz, AS Buka Suara
Tag: #saat #kapal #perang #kena #ranjau #iran #langsung #terpental #bolong #meter