Petani Amerika Tolak Tawaran Ratusan Miliar Rupiah untuk Pusat Data AI: Gelombang Investasi Big Tech Tertahan Identitas Agraria
Aksi warga setempat menolak pembangunan pusat data di Saline, Michigan, Amerika Serikat, 1 Desember 2025. (Foto: Business Insider)
16:03
23 Februari 2026

Petani Amerika Tolak Tawaran Ratusan Miliar Rupiah untuk Pusat Data AI: Gelombang Investasi Big Tech Tertahan Identitas Agraria

 

— Ekspansi pusat data untuk menopang lonjakan kecerdasan buatan (AI) global mulai menghadapi hambatan di sejumlah kawasan agraria Amerika Serikat. Di tengah perlombaan investasi infrastruktur digital berskala masif, sebagian petani memilih menolak tawaran ratusan miliar hingga triliunan rupiah demi mempertahankan identitas dan warisan lahan keluarga.

Kasus paling mencolok terjadi di Mason County, Kentucky. Pada Mei tahun lalu, Ida Huddleston, 82 tahun, didatangi dua perwakilan perusahaan yang menawarkan lebih dari USD 33 juta atau sekitar Rp 556,7 miliar (kurs Rp16.870 per dolar AS) untuk 650 acre lahan pertaniannya. Perusahaan itu disebut sebagai bagian dari “Fortune 100”, namun identitasnya dirahasiakan dan informasi lanjutan hanya dapat diakses setelah menandatangani perjanjian kerahasiaan.

Dilansir dari The Guardian, Senin (23/2/2026), lebih dari selusin tetangga Huddleston menerima tawaran serupa. Penelusuran dokumen publik menunjukkan adanya pengajuan proyek listrik 2,2 gigawatt—hampir dua kali kapasitas produksi tahunan pembangkit setempat—yang mengarah pada pembangunan pusat data. Namun Huddleston menolak tegas. “Anda tidak akan punya cukup uang untuk membeli tanah saya. Tanah ini tidak untuk dijual. Tinggalkan saya sendiri, saya sudah puas,” ujarnya.

Penolakan tersebut bukan kasus tunggal. Sedikitnya lima tetangganya menyampaikan penolakan kategoris, termasuk satu pemilik lahan yang diberi kebebasan menentukan harga sendiri. Di Pennsylvania, seorang petani menolak USD 15 juta atau sekitar Rp 253 miliar. Di Wisconsin, tawaran USD 80 juta atau sekitar Rp 1,35 triliun juga ditampik. Bahkan sejumlah pemilik lahan menolak harga lebih dari USD 120.000 per acre—angka yang beberapa tahun lalu sulit dibayangkan.

Bagi Huddleston, nilai tanah melampaui kalkulasi finansial. “Seluruh hidup saya tidak pernah lepas dari tanah ini. Tanah ini memberi saya segala yang saya butuhkan selama 82 tahun,” katanya. Empat generasi keluarganya bertani di lahan yang sama, dari era perang saudara hingga depresi besar.

Sikap serupa diungkapkan Dr Timothy Grosser, 75 tahun, yang menolak tawaran USD 8 juta atau sekitar Rp 134,9 miliar untuk 250 acre lahannya—3.500 persen lebih tinggi dari harga belinya hampir empat dekade lalu. Ketika pengembang kembali dan berkata, “Sebutkan harga Anda,” jawabannya singkat: “Tidak ada.” Dia menegaskan, “Yang mereka lakukan sepanjang hidup adalah bertani gandum, ternak, tembakau. Bagi mereka, seperti juga saya, uang tidak sepadan dengan menyerahkan gaya hidup.”

Putri Huddleston, Delsia Bare, menggambarkan keterikatan itu melampaui sekadar kepemilikan lahan. “Ada ikatan yang sangat kuat dengan tanah ini yang tidak mungkin diputus begitu saja. Ini tentang keluarga dan sejarah kami,” ujarnya. Dia juga menyinggung aspek ketahanan pangan dengan pernyataan lugas, “Anda tidak bisa menghasilkan sepotong roti dari sebuah pusat data.”

Di sisi lain, pejabat daerah menilai proyek tersebut sebagai peluang ekonomi. Direktur pengembangan industri Mason County, Tyler McHugh, dalam dengar pendapat publik Desember lalu menyatakan, “Kita bisa terus menyusut—kehilangan populasi, kehilangan pekerjaan dan melihat generasi muda pergi—atau kita bisa menentukan arah baru. Ini tentang menjaga orang-orang kita tetap di sini.” Proyek ini diklaim membawa 1.000 pekerjaan konstruksi, meski hanya sekitar 50 posisi operasional permanen.

Namun sejumlah akademisi mengingatkan dampak jangka panjangnya. Sosiolog pedesaan University of Missouri, Mary Hendrickson, menilai alih fungsi lahan pertanian untuk pusat data bersifat nyaris tidak dapat dipulihkan. “Jika lahan itu dialihkan kepada perusahaan pusat data, fungsi pertaniannya pada dasarnya akan musnah,” ujarnya.

Fenomena ini mencerminkan paradoks ekspansi AI global. Ketika teknologi menjanjikan efisiensi tanpa batas, infrastrukturnya tetap bergantung pada tanah, air, dan listrik dalam jumlah besar. Di perbukitan Kentucky dan ladang-ladang Amerika lainnya, batas tersebut kini diukur bukan hanya dalam dolar, melainkan dalam identitas agraria yang tak mudah diperjualbelikan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #petani #amerika #tolak #tawaran #ratusan #miliar #rupiah #untuk #pusat #data #gelombang #investasi #tech #tertahan #identitas #agraria

KOMENTAR