Rusia Senang AS dan NATO Ribut karena Greenland, Ledek Barat: Aliansi Berakhir
Lingkaran dalam Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut gembira atas retaknya aliansi AS dan NATO karena isu Greenland.(SPUTNIK/MIKHAIL METZEL via AFP)
08:06
21 Januari 2026

Rusia Senang AS dan NATO Ribut karena Greenland, Ledek Barat: Aliansi Berakhir

Polemik antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara NATO terkait Greenland justru disambut dengan rasa puas di Moskwa.

Lingkaran dekat Presiden Rusia Vladimir Putin memandang ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan tarif kepada sekutu NATO sebagai sinyal melemahnya aliansi transatlantik.

Bagi Rusia, situasi ini dinilai menguntungkan di tengah perang Ukraina yang sejak awal mereka gambarkan sebagai konflik proksi melawan NATO. Pernyataan bernada mengejek dari pejabat tinggi Rusia pun bermunculan.

Pandangan Moskwa

Salah satu suara paling vokal datang dari Kirill Dmitriev, figur penting Rusia yang terlibat dalam berbagai jalur komunikasi dengan Washington terkait perang di Ukraina.

Lewat akun X, seperti dikutip Newsweek pada Senin (19/1/2026), Dmitriev menulis singkat namun tajam, “aliansi transatlantik telah berakhir.”

Bagi Kremlin, gesekan antara AS dan sekutu-sekutunya ini memiliki arti strategis. Rusia selama ini membingkai invasinya ke Ukraina sebagai perang proksi melawan NATO.

Karena itu, meningkatnya ketegangan akibat ambisi Trump untuk menguasai Greenland dipandang berpotensi melemahkan aliansi Barat pada fase penting konflik.

Latihan militer Eropa di Greenland

Ilustrasi Greenland, aktivitas warga di Greenland. UNSPLASH/VISIT GREENLAND Ilustrasi Greenland, aktivitas warga di Greenland.

Ketegangan semakin terasa setelah pekan lalu pasukan dari Perancis, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya tiba di Greenland untuk menggelar latihan militer.

Kehadiran pasukan ini berlangsung di tengah retorika Trump yang kian keras soal keinginannya mengambil alih pulau otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark tersebut.

Tak lama berselang, Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap beberapa negara NATO, termasuk Perancis, Swedia, Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Tarif itu disebut akan tetap diberlakukan sampai AS mencapai kesepakatan terkait akuisisi Greenland.

Menanggapi latihan militer Eropa, Dmitriev kembali melontarkan sindiran. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari “permainan berbahaya dengan mengirim militer ke Greenland,” seraya menambahkan, “Eropa seharusnya tidak memprovokasi Daddy mereka.”

Dalam unggahan lain, ia menulis, “runtuhnya persatuan transatlantik. Akhirnya—sesuatu yang benar-benar layak dibahas di Davos.”

Medvedev lontarkan ejekan

Sindiran tak kalah pedas juga datang dari Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sekaligus mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev.

Melalui media sosial, Medvedev menilai AS kini “sedang bersiap menyerang Greenland, memilih pulau itu sendiri alih-alih semacam solidaritas Atlantik.”

Ia bahkan memelintir slogan kampanye Trump dengan nada sarkastik: “Make America Great Again (MAGA) = Make Denmark Small Again (MDSA) = Make Europe Poor Again (MEPA). Apakah ide ini akhirnya meresap, wahai orang-orang bodoh?”

Kritik ekonom soal dampak tarif

Di luar reaksi politik, kebijakan tarif Trump juga menuai kritik dari kalangan akademisi. Eric Golson, profesor ekonomi madya di University of Surrey, menilai langkah tersebut justru akan membebani konsumen AS sendiri.

Menurut Golson, tarif baru akan mendorong kenaikan harga di tengah tekanan inflasi yang masih dirasakan warga AS, sekaligus semakin menekan ekspor Eropa yang sebelumnya sudah terdampak putaran tarif terdahulu.

“Uni Eropa cukup kuat secara ekonomi untuk menyerap dampaknya tanpa harus menyerah pada tekanan. Uni Eropa memiliki surplus perdagangan yang besar dan fondasi ekonomi yang relatif solid,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan itu “pada akhirnya hanya akan menjadi biaya tambahan bagi konsumen dan pelaku usaha di kedua sisi Atlantik.”

Golson juga menilai, “strategi Trump kecil kemungkinannya menghasilkan kemenangan bagi Amerika Serikat, tetapi mungkin itu satu-satunya pendekatan yang diketahui oleh timnya.”

Tag:  #rusia #senang #nato #ribut #karena #greenland #ledek #barat #aliansi #berakhir

KOMENTAR