Tekanan Agenda Iklim Global, Investasi Dana Amal Bill Gates di Industri Bahan Bakar Fosil Kembali Menguat
ill Gates skeptis divestasi bisa hentikan perubahan iklim, meski investasinya di minyak dan gas meningkat. (The Guardian)
13:57
20 Januari 2026

Tekanan Agenda Iklim Global, Investasi Dana Amal Bill Gates di Industri Bahan Bakar Fosil Kembali Menguat

 - Portofolio investasi Gates Foundation Trust, lembaga pengelola dana abadi yayasan filantropi Bill Gates, kembali menjadi sorotan dalam dinamika filantropi dan transisi energi. Analisis terbaru menunjukkan kepemilikan trust tersebut di perusahaan pengekstraksi bahan bakar fosil justru meningkat signifikan sepanjang 2024, bertolak belakang dengan klaim divestasi yang pernah disampaikan Gates beberapa tahun sebelumnya.

Pada akhir 2024, Gates Foundation Trust tercatat memiliki investasi senilai USD 254 juta—setara sekitar Rp 4,3 triliun dengan kurs Rp 16.950 per dolar AS—di perusahaan minyak dan gas besar seperti Chevron, BP, Shell, serta produsen energi lainnya.

Nilai ini menjadi rekor tertinggi dalam sembilan tahun terakhir dan naik sekitar 21 persen dibandingkan 2016, sekaligus menjadi level tertinggi sejak 2019 setelah disesuaikan dengan inflasi.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (20/1/2026), data tersebut bersumber dari analisis laporan keuangan akhir tahun yang tercantum dalam dokumen 990-PF yayasan. Media tersebut menegaskan bahwa lonjakan investasi ini terjadi meskipun Bill Gates pada 2019 menyatakan telah melepas kepemilikan saham minyak dan gas, baik secara pribadi maupun melalui trust yang mengelola dana yayasannya.

Isu divestasi sendiri bukan hal baru bagi Gates. Pada 2015, ketika kampanye global penarikan investasi dari bahan bakar fosil menguat, dia mengakui memahami tekanan publik yang diarahkan kepada yayasannya. Dalam bukunya yang bertajuk How to Avoid a Climate Disaster (2021), Gates menulis, “Saya memahami mengapa The Guardian menyoroti yayasan kami dan diri saya, dan saya mengagumi semangat para aktivis.”

Namun, Gates juga secara terbuka menyampaikan keraguannya terhadap efektivitas divestasi semata. Dia menilai pelepasan saham tanpa disertai terobosan teknologi energi bersih tidak otomatis menghentikan perubahan iklim atau membantu negara-negara miskin yang masih bergantung pada energi fosil.

Meski demikian, Gates menegaskan sikap personal yang tegas. “Saya tidak ingin mendapatkan keuntungan jika harga saham mereka naik karena kita gagal mengembangkan alternatif nol-karbon,” tulisnya. “Saya akan merasa bersalah jika memperoleh manfaat dari keterlambatan menuju nol emisi.”

Namun pada praktiknya, data menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks. Setelah sebelumnya sempat turun ke sekitar USD 133 juta pada 2020, nilai investasi trust di sektor hulu bahan bakar fosil justru kembali meningkat. Kepemilikan di Glencore, BP, dan Occidental Petroleum naik tajam, sementara itu investasi di Inpex melonjak menjadi USD 139 juta pada 2024, atau meningkat tujuh kali lipat dibandingkan 2020.

Isu ini menjadi semakin sensitif karena perusahaan-perusahaan tempat trust berinvestasi dilaporkan secara kolektif menghasilkan emisi yang pada 2023 melampaui gabungan emisi Rusia, Jepang, dan Jerman. Sejumlah perusahaan tersebut juga menghadapi kritik dan pemberontakan pemegang saham terkait tuduhan greenwashing dan praktik penangkapan karbon yang justru digunakan untuk meningkatkan produksi minyak.

Dalam konteks yang lebih luas, Gates belakangan mendorong apa yang dia sebut sebagai “pergeseran strategis” agenda iklim global, dari fokus semata pada pemangkasan emisi menuju pencegahan kemiskinan dan penderitaan. Hingga laporan ini disusun, Gates Foundation Trust belum memberikan tanggapan resmi, sementara perdebatan antara idealisme iklim dan realitas pasar terus menjadi sorotan dalam lanskap filantropi global.

Editor: Edy Pramana

Tag:  #tekanan #agenda #iklim #global #investasi #dana #amal #bill #gates #industri #bahan #bakar #fosil #kembali #menguat

KOMENTAR