Milisi Bersenjata Kuasai Jalanan Caracas Usai Serangan AS, Warga Venezuela Hidup dalam Teror
Milisi bersenjata turun ke jalanan Venezuela usai AS tangkap Nicolas Maduro. (Guardian)
10:15
9 Januari 2026

Milisi Bersenjata Kuasai Jalanan Caracas Usai Serangan AS, Warga Venezuela Hidup dalam Teror

- Pemerintah Venezuela mengerahkan milisi bersenjata untuk menguasai jalan-jalan ibu kota Caracas, tak lama setelah serangan Amerika Serikat (AS) yang mengguncang pusat kekuasaan negara tersebut.

Langkah ini dinilai sebagai upaya rezim mempertahankan kendali sekaligus meredam potensi perlawanan publik pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Kelompok paramiliter yang dikenal sebagai colectivos terlihat berpatroli dengan sepeda motor dan senapan serbu sejak awal pekan kemarin. Mereka mendirikan pos pemeriksaan, menghentikan kendaraan, hingga memaksa warga membuka ponsel untuk memeriksa kontak, pesan, dan aktivitas media sosial.

Aksi tersebut menjadi sinyal keras bahwa kekuasaan masih berada di tangan rezim, meski Maduro kini ditahan dan menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.

“Semua orang takut. Ada warga sipil bersenjata di mana-mana. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, mereka bisa menyerang siapa saja,” ujar Mirelvis Escalona (40), warga Catia, Caracas bagian barat.

Ia mengatakan siapa pun yang dicurigai mendukung serangan AS berisiko langsung ditangkap.

Meski aktivitas ekonomi perlahan kembali berjalan, toko dan toko roti mulai buka, warga kembali bekerja, suasana kota tetap diliputi kecemasan. Ketidakpastian politik menciptakan ketegangan yang terasa di hampir setiap sudut Caracas.

Presiden interim Delcy Rodriguez berusaha menampilkan citra stabil sejak dilantik pada Senin. Namun, kegugupan pemerintah sulit disembunyikan.

Dalam pidato televisi, Rodriguez menegaskan bahwa tidak ada agen eksternal yang mengatur Venezuela, menanggapi klaim mantan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington kini mengendalikan negara Amerika Selatan tersebut.

Pernyataan itu menandai perubahan sikap Rodriguez, yang sehari sebelumnya sempat melontarkan nada lebih lunak dengan 'mengundang pemerintah AS bekerja sama dalam agenda kooperatif.

Situasi makin tegang setelah terdengar tembakan pada Senin (5/1) malam, ketika aparat menembaki drone tak dikenal yang diduga disangka sebagai bagian dari operasi AS lanjutan.

“Tidak ada konfrontasi, negara sepenuhnya dalam keadaan tenang,” klaim Wakil Menteri Informasi Simon Arrechider. Namun banyak warga menilai ketenangan itu rapuh.

Sementara itu, mengutip Guardian, sedikitnya 14 jurnalis dan pekerja media, 13 di antaranya dari media internasional, sempat ditahan pada Senin. Hampir semuanya dibebaskan beberapa jam kemudian.

Pemerintah juga memberlakukan dekret darurat yang melarang segala bentuk perayaan atas jatuhnya Maduro serta memerintahkan aparat memburu siapa pun yang dianggap mendukung serangan AS.

Rekaman di media sosial memperlihatkan colectivos, sebagian mengenakan topeng, memblokir jalan tol, menyusuri kawasan oposisi, dan menginterogasi warga. Banyak penduduk memperingatkan kerabat melalui WhatsApp agar meninggalkan ponsel di rumah atau menghapus konten politik.

Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello bahkan mengunggah foto dirinya bersama aparat bersenjata sambil meneriakkan slogan, 'selalu setia, tak pernah berkhianat'.

Bagi warga seperti Jeaneth Fuentes (53), seorang dokter di klinik swasta, perjalanan ke tempat kerja kini terasa seperti perjudian.

“Ini menakutkan, benar-benar mengerikan,” katanya. Ia mengaku hanya keluar rumah untuk bekerja dan tak pernah berada di luar setelah pukul 18.00.

Pendukung pemerintah, sebaliknya, mengecam penangkapan Maduro dan menegaskan kesiapan membela kedaulatan Venezuela. “Semangat juang ada dalam darah rakyat Venezuela,” kata Willmer Flores, pegawai Kementerian Keuangan. Ia menyatakan solidaritas penuh kepada Maduro.

Dengan ancaman serangan militer lanjutan dari AS dan tekanan ekonomi akibat blokade ekspor minyak, spekulasi tentang perpecahan internal rezim kian menguat. Berbeda dengan Rodriguez yang tak menghadapi tuntutan hukum di AS, sejumlah pejabat senior seperti Cabello terancam kehilangan bukan hanya kekuasaan, tetapi juga kebebasan mereka.

Kekhawatiran lain bagi pemerintah adalah Maria Corina Machado, pemimpin oposisi yang kini buron. Setelah mengklaim kemenangan besar dalam pemilu kontroversial tahun lalu dan menerima Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, Machado berjanji akan segera kembali ke Venezuela.

“Kami yakin transisi ini harus terus berjalan. Dalam pemilu yang bebas dan adil, kami akan menang lebih dari 90 persen suara,” katanya kepada Fox News.

Namun Trump secara terbuka meremehkan dukungan terhadap Machado dan justru memberi sinyal dukungan terhadap pemerintahan Rodríguez, dengan syarat Venezuela memenuhi tuntutan Washington, termasuk akses istimewa bagi perusahaan minyak AS.

 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #milisi #bersenjata #kuasai #jalanan #caracas #usai #serangan #warga #venezuela #hidup #dalam #teror

KOMENTAR