Situasi Terkini Virus Nipah di Indonesia, Epidemiolog Ingatkan Gejala dan Pencegahannya
Ilustrasi flu. Simak situasi terkini Virus Nipah di Indonesia 2026. Meski Kemenkes nyatakan aman, Epidemiolog ingatkan gejala mirip flu yang bisa berakibat fatal pada otak.(Freepik)
14:36
28 Januari 2026

Situasi Terkini Virus Nipah di Indonesia, Epidemiolog Ingatkan Gejala dan Pencegahannya

Kementerian Kesehatan menyatakan hingga saat ini belum ada kasus virus Nipah yang terkonfirmasi di Indonesia, meski penyakit menular berisiko kematian tinggi itu kembali dilaporkan muncul di India.

Pemerintah meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait temuan kasus di Asia.

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis berbahaya dan belum memiliki vaksin maupun obat khusus. Karena itu, masyarakat diimbau memahami cara penularan dan gejalanya sejak dini.

Baca juga: Waspada Lonjakan Kasus Virus Nipah di India, Ini Langkah Antisipasi Kemenkes untuk Wilayah Indonesia

Kemenkes: Indonesia masih aman, pengawasan diperketat

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa hingga kini Indonesia masih bebas dari virus Nipah.

“Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia,” ujar Aji dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes terus memantau perkembangan global, memperketat pengawasan pintu masuk negara, serta meningkatkan deteksi dini melalui fasilitas pelayanan kesehatan dan sistem surveilans penyakit infeksi emerging.

Baca juga: Situasi Terkini Ancaman Virus Nipah di Indonesia, Ini Cara Pencegahannya Menurut Kemenkes

Virus lama dengan risiko tinggi

Ilustrasi virus Nipah. Simak situasi terkini Virus Nipah di Indonesia 2026. Meski Kemenkes nyatakan aman, Epidemiolog ingatkan gejala mirip flu yang bisa berakibat fatal pada otak.Google Gemini AI Ilustrasi virus Nipah. Simak situasi terkini Virus Nipah di Indonesia 2026. Meski Kemenkes nyatakan aman, Epidemiolog ingatkan gejala mirip flu yang bisa berakibat fatal pada otak.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman B.Med, MScPH, PhD, menjelaskan bahwa virus Nipah bukanlah virus baru.

Penyakit ini pertama kali dikenali pada 1998–1999 di Malaysia dan sejak itu menyebabkan wabah berulang di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Virus Nipah adalah virus zoonotik, menular dari hewan ke manusia. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus,” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Ia menambahkan, virus ini tergolong sangat berbahaya karena tingkat kematiannya tinggi, berkisar 40–75 persen, terutama pada kasus berat.

“Tingginya kematian bukan karena virusnya sangat ganas, tetapi karena belum ada vaksin dan belum ada terapi antivirus yang spesifik,” ujarnya.

Baca juga: Waspada Virus Nipah dengan Gejala Mirip Flu yang Berakibat Fatal, Ini Penjelasan Kemenkes

Indonesia punya faktor risiko alami

Menurut Dicky, Indonesia secara ekologi memiliki faktor risiko alami karena kelelawar buah hidup luas di berbagai wilayah.

“Secara ekologi, Indonesia punya potensi. Bukan berarti harus panik, tetapi harus dicegah agar virus ini tidak menginfeksi manusia,” jelasnya.

Penularan virus Nipah terutama terjadi melalui konsumsi buah atau produk pangan yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar, kontak dengan hewan perantara seperti babi, serta kontak erat antarmanusia melalui cairan tubuh, terutama di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan.

Baca juga: Dari Kelelawar ke Manusia, Ini Penyebab Virus Nipah di Balik Wabah India

Gejala awal sering mirip flu

Gejala awal virus Nipah kerap tidak khas dan menyerupai flu, sehingga sering tidak terdeteksi. Keluhan awal meliputi:

  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Lemas
  • Mual
  • Muntah
  • Batuk
  • Sesak napas

Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis), ditandai penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.

“Jika ada demam akut disertai gangguan saraf atau pernapasan, apalagi dengan riwayat kontak hewan atau perjalanan ke wilayah berisiko, itu harus segera diperiksa,” kata Dicky.

Baca juga: Kasus Virus Nipah Meningkat di India, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pencegahan jadi kunci

Baik Kemenkes maupun pakar menekankan pentingnya pencegahan. Masyarakat diimbau:

  • Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar.
  • Mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi.
  • Tidak mengonsumsi nira atau produk hewani mentah.
  • Menghindari kontak dengan hewan sakit atau mati mendadak.
  • Menjaga kebersihan tangan dan daya tahan tubuh.

Pengingat One Health

Dicky menegaskan, virus Nipah menjadi contoh nyata konsep One Health, yakni keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

“Indonesia adalah hotspot penyakit zoonosis. Karena itu, kewaspadaan, literasi masyarakat, dan perlindungan lingkungan menjadi kunci agar risiko penyakit seperti Nipah tidak berkembang,” pungkasnya.

Baca juga: Bukan Flu Biasa, Virus Nipah Bisa Menyerang Otak dan Berujung Fatal

Tag:  #situasi #terkini #virus #nipah #indonesia #epidemiolog #ingatkan #gejala #pencegahannya

KOMENTAR