Mengapa Anak Rentan Terpapar Timbal?
– Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap paparan timbal, meski sering kali ancaman ini tidak disadari orangtua.
Epidemiolog dari Vital Strategies, Edwin Siswono menjelaskan, timbal merupakan logam berat yang bisa masuk ke tubuh manusia melalui berbagai cara.
“Pada prinsipnya, paparan timbal ini bisa terhirup dan tertelan, jadi jika timbal tertinggal di barang atau baju bisa rentan masuk ke tubuh anak,” tutur dia dalam hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) pada anak di Indonesia dan Risalah Kebijakan, di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).
Paparan ini menjadi persoalan serius karena dampaknya bersifat jangka panjang, mulai dari gangguan kesehatan hingga hambatan tumbuh kembang.
Anak-anak, yang masih berada pada masa pertumbuhan, menjadi kelompok paling rentan dibandingkan orang dewasa.
Mengapa anak-anak rentan terpapar timbal?
Timbal masuk lewat udara dan makanan
Edwin menegaskan, timbal dapat masuk ke tubuh melalui dua jalur utama, yaitu terhirup dan tertelan.
Debu yang mengandung timbal bisa masuk saat anak bernapas, sementara partikel yang menempel pada benda atau makanan dapat tertelan secara tidak sadar.
Kondisi lingkungan yang terpapar timbal, seperti area industri, bengkel, atau lokasi yang banyak menggunakan cat berbahan logam berat, dapat meningkatkan risiko.
Timbal bisa menempel pada pakaian, alas kaki, mainan, maupun perabot rumah tangga.
Anak-anak yang bermain di lantai atau sering memegang benda di sekitarnya sangat mudah terpapar, apalagi jika kebersihan lingkungan kurang terjaga.
Hal inilah yang membuat pencegahan paparan timbal tidak cukup hanya dengan menghindari sumber utamanya, tetapi juga memastikan kebersihan benda-benda yang ada di sekitar anak.
Kebiasaan Pica membuat anak lebih rentan terpapar
Salah satu alasan utama anak-anak sangat rentan terpapar timbal adalah kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut. Edwin menyebut perilaku ini sebagai Pica.
“Salah satu alasan mengapa anak-anak rentan terpapar, karena mereka itu masih sering memasukkan mainan atau barang di sekitarnya ke mulut atau yang kami sebut Pica,” jelasnya.
Pica pada anak adalah gangguan makan yang ditandai dengan kebiasaan mengonsumsi benda-benda non-nutrisi seperti tanah, kapur, kertas, atau serpihan cat secara terus-menerus selama minimal satu bulan dan tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Dalam konteks paparan timbal, kebiasaan ini menjadi sangat berbahaya. Benda-benda yang terkontaminasi timbal, meski tidak terlihat kotor, dapat menjadi sumber masuknya logam berat tersebut ke dalam tubuh anak.
Anak belum mampu membedakan mana benda yang aman dan mana yang berbahaya, sehingga risiko paparan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Daya serap timbal anak jauh lebih tinggi
Selain perilaku, faktor biologis juga membuat anak lebih rentan. Edwin menjelaskan bahwa tubuh anak memiliki kemampuan menyerap timbal jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa.
“Oleh karenanya, tubuh anak bisa 4 sampai 5 kali lebih banyak menyerap timbal dibandingkan orang dewasa,” ungkapnya.
Meskipun jumlah paparan yang diterima sama, dampak pada tubuh anak bisa jauh lebih berat.
Proses pertumbuhan organ dan sistem saraf yang masih berlangsung membuat timbal lebih mudah masuk dan menimbulkan efek kesehatan jangka panjang.
Kondisi ini pula yang membuat paparan timbal pada anak sering kali sulit terdeteksi di awal.
Dampaknya tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan langsung, tetapi perlahan memengaruhi kesehatan, kecerdasan, dan perkembangan fisik anak.
Risiko dari pakaian kerja orangtua yang terpapar timbal
Paparan timbal tidak hanya datang dari lingkungan sekitar anak, tetapi juga bisa dibawa masuk ke rumah melalui orangtua.
Terutama bagi mereka yang bekerja di bengkel, pabrik cat, atau sektor lain yang berisiko tinggi terhadap timbal.
“Jika orangtuanya bekerja di bengkel atau pabrik cat, sebaiknya ganti baju dan bersihkan diri sebelum pegang atau main dengan anak,” terang dia.
Pakaian kerja yang terkontaminasi timbal dapat menjadi media perpindahan zat berbahaya ini ke lingkungan rumah.
Ketika orangtua langsung memeluk atau bermain dengan anak tanpa membersihkan diri, timbal yang menempel pada pakaian bisa berpindah ke kulit, mainan, atau benda lain yang kemudian disentuh dan dimasukkan anak ke dalam mulut.
Oleh karenanya, kebiasaan sederhana seperti mengganti pakaian dan membersihkan diri sebelum berinteraksi dengan anak menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Peran gizi dalam menekan dampak paparan timbal
Faktor lain yang tak kalah penting untuk mencegah paparan timbal adalah memperhatikan kondisi gizi anak. Edwin menekankan, kecukupan nutrisi dapat membantu tubuh anak melawan dampak timbal.
“Jangan lupakan juga kebutuhan gizi anak harus lengkap agar sistem imunnya kuat. Timbal yang masuk ke tubuh anak masih bisa tertolong sedikit dengan konsumsi kalsium dan zat besi,” ujarnya.
Kalsium dan zat besi memiliki peran penting karena timbal bersaing dengan zat besi dalam tubuh. Jika asupan zat besi rendah, timbal lebih mudah diserap dan berpotensi menyebabkan anemia.
“Sebab, jika kekurangan kedua zat tersebut, anak rentan mengalami anemia dan bisa menghambat tumbuh kembangnya dalam jangka waktu yang panjang,” pungkasnya.
Anemia sendiri dapat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, hingga keterlambatan pertumbuhan.
Perlindungan anak dari paparan timbal tidak bisa hanya mengandalkan satu cara, melainkan memerlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari kebersihan lingkungan, kebiasaan hidup sehat, hingga pemenuhan gizi yang seimbang.