Child Grooming Bukan Sekadar Sentuhan, Ini Cara Pelaku Membangun Kendali
ilustrasi anak dan orang dewasa. Child grooming jarang terjadi tiba-tiba. Pelaku membangun kepercayaan anak dan keluarga secara perlahan. Ini penjelasan para ahli.(Freepik)
16:06
16 Januari 2026

Child Grooming Bukan Sekadar Sentuhan, Ini Cara Pelaku Membangun Kendali

Child grooming kerap luput dikenali karena pelakunya tidak datang sebagai ancaman terbuka, melainkan hadir sebagai sosok yang dipercaya anak dan orang di sekitarnya.

Fenomena ini kembali mendapat sorotan seiring temuan ilmiah dan kesaksian korban yang menunjukkan bahwa banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses manipulasi psikologis yang panjang.

Apa itu child grooming?

Jurnal Child Abuse & Neglect mendefinisikan child grooming sebagai proses manipulatif yang disengaja untuk mempersiapkan anak agar mudah dieksploitasi sekaligus mencegah korban mengungkapkan apa yang dialaminya.

Proses ini berlangsung bertahap, mulai dari memilih anak yang rentan, membangun akses dan kedekatan, menumbuhkan kepercayaan, hingga secara perlahan mendorong batas fisik maupun emosional korban.

Kenapa grooming sulit dikenali?

Ilustrasi anak. Child grooming jarang terjadi tiba-tiba. Pelaku membangun kepercayaan anak dan keluarga secara perlahan. Ini penjelasan para ahli.Freepik Ilustrasi anak. Child grooming jarang terjadi tiba-tiba. Pelaku membangun kepercayaan anak dan keluarga secara perlahan. Ini penjelasan para ahli.

Kesulitan utama terletak pada kemiripan perilaku grooming dengan interaksi orang dewasa dan anak yang tampak normal, seperti memberi perhatian lebih, hadiah, atau dukungan emosional.

Psikolog anak Cleveland Clinic, Vanessa Jensen, PsyD, menjelaskan bahwa grooming sering dimulai dari hubungan yang terlihat polos, seperti mentor atau figur otoritas, dan hampir selalu dilakukan tanpa transparansi.

“Grooming adalah proses yang sangat disengaja untuk membangun relasi demi mendapatkan kontrol,” ujar Jensen.

Pola umum child grooming

Berdasarkan Cleveland Clinic, GoodRX, dan jurnal Child Abuse & Neglect, grooming biasanya melibatkan rangkaian perilaku berikut:

  • Memberi perhatian dan perlakuan khusus kepada anak
  • Menggunakan pujian atau sanjungan untuk membangun kedekatan emosional
  • Memanfaatkan kerentanan anak, seperti rasa kesepian atau konflik keluarga
  • Memberi hadiah atau bantuan yang tidak wajar
  • Menciptakan situasi satu lawan satu tanpa pengawasan
  • Menjauhkan anak dari keluarga dan teman secara perlahan
  • Memperkenalkan rahasia kecil untuk membangun keterikatan

Tanda-tanda grooming yang perlu diwaspadai

Para ahli mengingatkan bahwa grooming sering ditandai perubahan perilaku pada korban, antara lain:

  • Menjadi lebih tertutup dan menarik diri dari keluarga atau teman
  • Menghabiskan waktu berlebihan dengan satu orang dewasa tertentu
  • Mengalami perubahan emosi, seperti cemas, mudah marah, atau stres
  • Menunjukkan perilaku atau bahasa seksual yang tidak sesuai usia
  • Memiliki barang atau uang tanpa penjelasan jelas
  • Lebih rahasia dalam aktivitas offline maupun online

Retraumatisasi Menurut Ahli

Grooming bukan isu politis

Dikutip dari Today, penyalahgunaan istilah “grooming” dalam konteks politik justru berbahaya karena mengaburkan makna aslinya dan dapat melindungi pelaku sesungguhnya.

Grace French, penyintas kasus Larry Nassar, mengatakan kepada Today bahwa grooming sering menyasar bukan hanya anak, tetapi juga orangtua.

“Ia membangun kepercayaan anak dan orangtua agar tetap punya akses,” ujarnya.

Psikolog klinis Jessica January Behr menambahkan bahwa grooming hampir selalu dimulai dari sentuhan ringan dan rahasia kecil sebelum perlahan melanggar batas.

Dampak psikologis dan peran orang dewasa

Allure menggambarkan grooming sebagai proses lambat dan metodis yang membuat korban sering merasa relasi tersebut bersifat sukarela, padahal sudah berada dalam kendali pelaku.

Jurnal Child Abuse & Neglect mencatat bahwa korban grooming berisiko mengalami trauma jangka panjang, kesulitan membangun relasi sehat, serta rasa bersalah yang menetap.

Para ahli sepakat bahwa pencegahan grooming tidak boleh dibebankan pada anak, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif orang dewasa melalui komunikasi terbuka, pengawasan yang proporsional, serta pemahaman tentang batas relasi yang sehat.

Child grooming bukan isu sensasional, melainkan persoalan perlindungan anak yang menuntut kewaspadaan sebelum manipulasi berubah menjadi kekerasan.

Tag:  #child #grooming #bukan #sekadar #sentuhan #cara #pelaku #membangun #kendali

KOMENTAR