Investor Global Cabut Investasi di RI: I Have Zero Exposure to Indonesia
IHSG melemah terus tanpa henti saat Rupiah membersamainya. [Antara]
13:31
5 Juni 2026

Investor Global Cabut Investasi di RI: I Have Zero Exposure to Indonesia

Kepercayaan investor global terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia dilaporkan tengah berada dalam tekanan yang sangat berat. Saat ini, pasar saham Indonesia mencatatkan laju penurunan tercepat di dunia, sementara nilai tukar rupiah terus terperosok hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Hanya dalam waktu lima bulan setelah sempat mencapai rekor tertinggi, indeks harga saham gabungan domestik telah ambles hingga 36 persen, menjadikannya performa terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau oleh Bloomberg.

Aksi jual massal ini menandai titik balik yang dramatis bagi negara kaya komoditas ini, yang sebelumnya selalu menjadi alokasi utama dalam portofolio pasar berkembang (emerging markets).

Sentimen negatif dari para investor asing dipicu oleh kekhawatiran terhadap agenda populis dan intervensi ekonomi yang kian agresif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, di mana Indonesia selama ini dikenal sangat ramah terhadap modal asing.

Sentimen negatif ini mendorong penarikan dana keluar (outflow) bernilai miliaran dolar dari pasar obligasi Indonesia.

Pergeseran sentimen di kalangan pengelola dana global tergambar jelas dari keputusan para petinggi institusi finansial luar negeri. Skala perdagangan besar di Asia saat ini dinilai telah bergeser ke arah pengurangan aset dari Indonesia secara masif.

Kepala Riset Hedge Fund K2 Asset Management, George Boubouras, mengungkapkan bahwa setelah puluhan tahun menanamkan modal di tanah air, pihaknya telah melikuidasi seluruh posisi portofolionya sejak tahun 2024.

"I have zero exposure to Indonesia," katanya, seperti dalam laporan Bloomberg. "I won’t give them an opportunity."

Sejak resmi menjabat, Presiden Prabowo telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 8 persen, meluncurkan program makan siang gratis nasional, memperluas peran negara dalam roda ekonomi, serta menyuntikkan dana besar ke dalam BPI Danantara.

Kebijakan terbaru untuk mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas utama demi menekan angka pemalsuan pajak justru memicu aksi jual massal pada saham-saham emiten eksportir.

Bagi mayoritas pelaku pasar, berakhirnya masa jabatan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada tahun 2025 menjadi titik balik krusial.

Sri Mulyani, yang selama ini dipandang sebagai penjamin disiplin fiskal, sebelumnya berhasil meyakinkan pasar bahwa Indonesia akan mempertahankan pengelolaan anggaran yang konservatif guna menjaga peringkat utang investment-grade.

Kepala Strategi Suku Bunga dan Valuta Asing Asia di J.P. Morgan Private Bank Hong Kong, Tang Yuxuan, menilai situasi ini sebagai risiko tipikal.

"Ketidakpastian politik domestik adalah risiko pasar negara berkembang (emerging market/EM) yang umum terjadi, dan investor global cenderung bereaksi dengan tetap berada di posisi netral hingga situasi yang dapat diprediksi kembali muncul.," kata Tang Yuxuan.

George Boubouras, Head of Research and Executive Director at K2 Asset Management [PAUA Wealth]George Boubouras, Head of Research and Executive Director at K2 Asset Management [PAUA Wealth]

Keterpurukan Rupiah dan Intervensi Surat Utang

Mata uang rupiah menjadi indikator paling nyata dari kecemasan pasar, dengan akumulasi pelemahan mencapai 14 persen sejak masa jabatan presiden baru dimulai, sekaligus menempatkannya sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di Asia sepanjang tahun 2026.

Rupiah secara resmi melewati level psikologis historis Rp18.000 per dolar AS pada 4 Juni, dan pasar opsi menunjukkan potensi penurunan lanjutan yang cukup besar:

Proyeksi Desember 2026: Para pelaku pasar melihat adanya probabilitas sebesar 45 persen bahwa rupiah dapat merosot ke level Rp19.000 per dolar AS.

Proyeksi Jangka Panjang: Terdapat peluang sebesar 27 persen nilai tukar rupiah akan merosot hingga ke level Rp20.000 per dolar AS dalam satu tahun ke depan.

Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, Gary Tan, menjelaskan faktor fundamental di balik aksi ambil posisi jual (short) terhadap aset domestik.

"Pendorong utama di balik aksi jual pendek di Indonesia adalah prospek bearish untuk rupiah, di mana investor tetap khawatir tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan, khususnya di sisi fiskal," ujarnya.

Tekanan ini merembet serius ke pasar surat utang negara. Investor asing telah memangkas kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp86 triliun, atau menyusut sekitar 9 persen sejak Agustus tahun lalu.

Kondisi ini membuat obligasi Indonesia mencatatkan kerugian lebih dari 8 persen bagi investor berbasis dolar AS sepanjang tahun 2026, berbanding terbalik dengan rata-rata utang pasar berkembang global yang masih tumbuh 1,6 persen.

Kekhawatiran lain yang muncul di kalangan analis adalah porsi kepemilikan utang pemerintah oleh bank sentral yang kian menebal.

Bank Indonesia saat ini mendekap sekitar 27 persen dari total obligasi negara, sebuah angka yang dinilai tidak lazim untuk ukuran negara berkembang.

Manajer Portofolio GAMA Asset Management, Rajeev De Mello, menilai langkah tersebut telah bergeser dari tujuan awalnya.

"Apa yang awalnya dimulai sebagai pembelian untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi mungkin telah berubah menjadi semacam pelonggaran kuantitatif," kata Rajeev.

Kondisi pelarian modal ini pada akhirnya menghidupkan kembali kecemasan atas profil risiko kredit berdaulat (sovereign credit profile) Indonesia.

Padahal, predikat investment grade tersebut diraih dengan susah payah dari berbagai lembaga pemeringkat internasional pada rentang tahun 2012 hingga 2017.

Kepala Pendapatan Tetap Pasar Berkembang dan Asia-Pasifik di UBS Asset Management New York, Shamaila Khan, mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas regulasi tersebut.

"Indonesia sulit untuk mendapatkan kepercayaan investor, tapi begitu mudah untuk kehilangannya," ungkap Shamaila Khan.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #investor #global #cabut #investasi #have #zero #exposure #indonesia

KOMENTAR