Purbaya ''Serang'' Bank Dunia, Airlangga Lebih Kalem: 2 Nada Pemerintah soal Ekonomi 2026
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Dok. Setpres)
07:06
10 April 2026

Purbaya ''Serang'' Bank Dunia, Airlangga Lebih Kalem: 2 Nada Pemerintah soal Ekonomi 2026

- Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2025 sebesar 4,8 persen.

Namun ada perbedaan respons mencolok ditunjukkan dua pejabat ekonomi utama pemerintah dalam menanggapi proyeksi terbaru Bank Dunia tersebut.

Pertama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru mengkritik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Bank Dunia. Ia menilai perhitungan tersebut keliru dan memicu sentimen negatif terhadap perekonomian nasional.

"Tapi dia sudah melakukan dosa besar, (bank dunia) menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal Kalau dia berubah prediksi ekonominya lagi," kata Purbaya di Kementerian Keuangan pada Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Akselerasi, Kuartal I Jadi Penentu

Purbaya menilai asumsi yang digunakan Bank Dunia terlalu pesimistis, terutama terkait harga minyak global. Ia meyakini kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama dan proyeksi akan berubah seiring normalisasi harga energi.

"Kan kuartal pertama aja mungkin 5,6 atau lebih Berarti World Bank menghitung kita mau resesi turun ke bawah sekali setelah itu kan kalau rata-ratanya ke 4,6 Saya pikir World Bank salah hitung," ujarnya.

Menurutnya, kinerja ekonomi domestik masih menunjukkan tren positif, bahkan berpotensi tumbuh di atas 5,6 persen pada kuartal I-2026. Pemerintah, kata dia, akan tetap mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga momentum tersebut.

"Tapi saya sih akan optimalkan semua mesin ekonomi yang ada di sini Itu aja mungkin aja World Bank betul nanti Tapi saya nggak tahu Yang jelas kalau di angka saya sih Sepertinya sedang membaik terus ke depan Dan kita akan jaga terus," kata Purbaya.

Berbeda dengan Purbaya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru melihat penurunan proyeksi tersebut sebagai fenomena global yang wajar.

Ia menilai banyak negara mengalami revisi serupa akibat kondisi geopolitik dan perang yang menekan ekonomi dunia.

"Ya kan berbagai dengan situasi perang kan ya mereka (bank dunia) semua menurunkan (prediksi) di berbagai wilayah. Tapi kalau kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan global rata-rata. Pertumbuhan global rata-rata kan di 3,4 persen," ujar Airlangga ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Kamis (9/4/2026).

Bagi Airlangga, proyeksi tersebut tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Ia menekankan bahwa angka pertumbuhan Indonesia tetap lebih tinggi dibanding rata-rata global, sehingga fundamental ekonomi masih relatif kuat.

Ia juga mengingatkan bahwa proyeksi lembaga internasional bersifat asumsi dan tidak selalu mencerminkan kondisi riil di lapangan.

"Ya kan masalah proyeksi kan mereka (bank dunia) punya perkiraan tersendiri. Tetapi kan dalam berbagai hal kita sering hasilnya lebih baik daripada prediksi mereka," katanya.

Airlangga menegaskan pemerintah tidak akan mencampuri atau mengintervensi proyeksi lembaga internasional.

"Kita juga nggak perlu intervensi," ujarnya.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 7,83 Persen, Tertinggi dalam 16 Tahun

Apa Isi Proyeksi Terbaru Bank Dunia soal RI? 

Bank DuniaBank Dunia Bank Dunia

Sebagai informasi, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 4,7 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,8 persen. Penyesuaian ini tercantum dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis Rabu (8/4/2026).

Walau mengalami revisi turun, proyeksi tersebut masih melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang diperkirakan hanya mencapai 4,2 persen. Kawasan ini meliputi sejumlah negara seperti China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga negara-negara Kepulauan Pasifik.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menjelaskan bahwa prospek ekonomi kawasan tidak lepas dari tekanan tiga faktor eksternal utama. Faktor tersebut mencakup konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi, kebijakan pembatasan perdagangan di Amerika Serikat disertai ketidakpastian arah kebijakan global, serta pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo seperti dikutip dari Antara, Kamis (9/4/2026).

 

Tag:  #purbaya #serang #bank #dunia #airlangga #lebih #kalem #nada #pemerintah #soal #ekonomi #2026

KOMENTAR