Dokter Ingatkan Bahaya FOMO Parfum terhadap Perilaku Remaja
- Belum lama ini, segerombolan anak-anak dan remaja terlihat mengantre di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta untuk mendapatkan parfum yang sedang viral.
Tren tersebut tidak hanya memperlihatkan meningkatnya minat anak muda terhadap produk wewangian, tetapi juga memunculkan kekhawatiran soal fenomena fear of missing out (FOMO) pada anak.
Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan tren digital, dokter mengingatkan agar orangtua tidak menganggap kondisi ini sebagai hal sepele.
Baca juga: Viral Anak Kecil dan Remaja Berburu Parfum, Usia Berapa Sebaiknya Mulai Pakai Parfum?
Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua mengatakan, anak memang boleh belajar merawat diri, termasuk menggunakan parfum.
Namun, penggunaan parfum tidak seharusnya berubah menjadi simbol status sosial.
“Jangan jadikan parfum sebagai simbol status. Anak boleh rawat diri, tapi enggak perlu sampai maksain beli produk tertentu agar dianggap sebagai berharga atau statusnya,” kata dr. Arifin saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, orangtua perlu memahami bahwa tren parfum yang sedang berkembang di kalangan anak dan remaja tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi banyak faktor sosial dan digital.
Pengaruh media sosial dan lingkungan pertemanan
Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua
Dr. Arifin menjelaskan, fenomena FOMO parfum pada anak muncul akibat kombinasi pengaruh media sosial, influencer, iklan digital, hingga lingkungan pertemanan.
“Anak FOMO terhadap tren parfum muncul karena kombinasi dari influencer, digital advertisement, dan juga teman sebayanya, sehingga perlu pendampingan dan edukasi dari orangtua,” ujarnya.
Ia menilai anak-anak dan remaja berada dalam fase perkembangan yang membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh tren yang sedang populer di lingkungan sekitar maupun media sosial.
Dalam berbagai literatur, anak dan remaja disebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap penilaian sosial, perbandingan dengan orang lain, dan tekanan dari media sosial.
Kondisi tersebut membuat mereka lebih mudah merasa harus mengikuti tren tertentu agar diterima dalam lingkungan pergaulan.
Selain itu, UNICEF juga pernah menyatakan bahwa pemasaran digital dapat memengaruhi anak ketika kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan mereka belum berkembang secara matang.
Kondisi ini umumnya terjadi pada anak usia prasekolah, usia sekolah, hingga sebagian remaja yang masih berada dalam fase labil secara emosional.
Karena itu, tren parfum yang ramai di media sosial dinilai tidak sepenuhnya lahir dari kebutuhan nyata anak, melainkan juga dorongan untuk mengikuti arus sosial yang sedang berkembang.
Parfum bukan solusi utama untuk bau badan
Lebih lanjut, dr. Arifin mengatakan, penggunaan parfum pada anak sebaiknya tidak dijadikan solusi utama untuk mengatasi bau badan.
Menurutnya, akar persoalan justru lebih berkaitan dengan kebersihan diri dan perubahan tubuh saat memasuki masa pubertas.
Baca juga: Pemakaian Parfum Dewasa pada Remaja Bisa Picu Gangguan Tiroid, Benarkah?
Ia menilai, bila tujuan penggunaan parfum adalah untuk menutupi bau badan, maka langkah pertama yang perlu diperbaiki justru kebiasaan menjaga kebersihan tubuh.
“Jika ingin menjadikan parfum sebagai solusi bau badan, seharusnya diperbaiki kebersihannya. Misalnya dengan mandi, sering mengganti baju, atau memakai deodorant,” imbau dr. Arifin.
Ia menilai, kebiasaan menjaga kebersihan tubuh penting diajarkan sejak dini agar anak memahami bahwa parfum hanyalah pelengkap, bukan kebutuhan utama.
Orangtua perlu mencegah anak menjadi konsumtif
Dr. Arifin mengingatkan agar orangtua tidak membiarkan anak menjadikan parfum sebagai ukuran nilai diri atau simbol penerimaan sosial.
Ia khawatir tekanan sosial yang terus muncul di media sosial dapat membuat anak merasa kurang percaya diri apabila tidak memiliki produk tertentu yang sedang tren.
“Jangan sampai parfum jadi sumber anak merasa kurang percaya diri, hingga berubah menjadi konsumtif dan bergantung pada validasi sosial,” tutur dr. Arifin.
Di situasi seperti ini, sangat penting pendampingan orangtua dalam membangun pola pikir anak terkait tren konsumsi dan media sosial.
Anak perlu diajarkan, bahwa rasa percaya diri tidak ditentukan oleh merek parfum atau barang yang dimiliki, melainkan dari kemampuan mengenali dan menghargai diri sendiri.
Baca juga: 4 Bahaya Pakai Parfum Dewasa pada Anak dan Remaja, Orangtua Harus Tahu
Tag: #dokter #ingatkan #bahaya #fomo #parfum #terhadap #perilaku #remaja