PTBA Genjot Produksi 50 Juta Ton Batu bara di 2026
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
17:36
6 April 2026

PTBA Genjot Produksi 50 Juta Ton Batu bara di 2026

- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi batu bara sekitar 50 juta ton pada tahun 2026. Target tersebut meningkat 5,93 persen dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 47,2 juta ton.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengatakan target tersebut ditetapkan setelah perseroan memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 pada 6 Maret lalu. Di mana, pemerintah tidak mengurangi volume produksi yang diusulkan perseroan sebelumnya.

"Memasuki 2026 kami tetap optimistis. Berdasarkan RKAB pada 2026, kami menargetkan volume (produksi) sekitar 50 juta ton," ujar Arsal saat konferensi pers, Senin (6/4/2026).

Pada 2025, perseroan berhasil meningkatkan volume produksi sebesar 9 persen menjadi 47,2 juta ton, serta mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 6 persen menjadi 45,4 juta ton.

Baca juga: Volume Produksi Naik 9 Persen, PTBA Sasar Ekspor Batu Bara ke Eropa

Sejalan dengan peningkatan produksi dan penjualan, volume angkutan batu bara juga naik 6 persen dari yang sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton di tahun ini.

Arsal menilai capaian di sisi hulu dan hilir tersebut mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, baik untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional.

Adapun, PTBA mengalokasikan 54 persen dari total penjualan untuk pasar domestik. Selain itu, PTBA juga melakukan ekspansi dan diversifikasi pasar global dengan mencatatkan porsi ekspor sebesar 46 persen.

Selain memperkokoh posisi di negara-negara Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, PTBA juga melakukan penetrasi pasar baru ke benua Eropa, yakni ke Spanyol dan Rumania.

"Tahun 2025 adalah pembuktian atas resiliensi operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar global," paparnya.

Lebih jauh, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun sepanjang 2025. Angka itu turun 42,5 persen dibanding 2024, yakni Rp 5,10 triliun.

Penurunan laba bersih PTBA secara konsolidasi pada 2025 disebabkan oleh tekanan komoditas global, terutama harga batu bara pada periode tersebut.

Menurutnya, meskipun profitabilitas mengalami tekanan harga global, PTBA menunjukkan pemulihan (recovery) yang menjanjikan secara kuartalan. Hal itu didukung oleh posisi keuangan yang tetap kokoh, ditandai dengan kenaikan arus kas operasi yang tumbuh 24 persen menjadi Rp 6,26 triliun.

Pertumbuhan aset meningkat menjadi Rp 43,92 triliun didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja modal (Capex) sebesar Rp 4,55 triliun difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim - Kramasan.

Baca juga: Industri Batubara Diprediksi Masih Tertekan hingga 2026

Batu Bara 2026: Peluang Relaksasi di Tengah Lonjakan Harga Global

Sebagai informasi, pemerintah membuka peluang relaksasi terbatas kuota produksi batu bara 2026 seiring kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan ini akan diambil secara terukur untuk menjaga keseimbangan pasar.

“Andaikan harganya stabil terus, bagus, kami akan membuat relaksasi terhadap perencanaan produksi, tetapi terukur,” ujar Bahlil, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (26/3/2026).

Sebelumnya, pemerintah menetapkan kuota produksi batu bara 2026 sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Penurunan ini dilakukan karena kelebihan pasokan global yang sempat menekan harga hingga 97,65 dollar AS per ton atau sekitar Rp 1,61 juta pada pertengahan 2025.

Namun, kondisi berbalik pada awal Maret 2026. Harga batu bara melonjak dari di bawah 120 dollar AS per ton menjadi di atas 130 dollar AS per ton atau sekitar Rp 2,15 juta dalam waktu sepekan.

“Relaksasi terukur itu terbatas dan tetap menjaga kestabilan supply dan demand, dan harga,” kata Bahlil.

Pemerintah juga tengah menyiapkan revisi RKAB batu bara 2026 untuk mengoptimalkan penerimaan negara, seiring lonjakan harga komoditas energi global.

Tag:  #ptba #genjot #produksi #juta #batu #bara #2026

KOMENTAR