Bitcoin (BTC) Tertekan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.(UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN)
09:12
20 Februari 2026

Bitcoin (BTC) Tertekan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Harga bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir menyusul rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru.

Notulensi tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data pasar pada Kamis (19/2/2026), harga bitcoin terkoreksi sebesar 1,25 persen ke kisaran 66.450 dollar AS atau setara sekitar Rp 1,11 miliar.

Baca juga: Bitcoin Naik Tipis ke 66.978 Dollar AS, Masih Ambruk 24 Persen Sebulan

Ilustrasi bitcoin. WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.

Penurunan ini terjadi di tengah meredanya ekspektasi pelonggaran suku bunga global dalam waktu dekat, yang mendorong indeks sentimen pasar kripto turun ke level Extreme Fear.

Perbedaan sikap pejabat The Fed

Notulensi FOMC terbaru memperlihatkan bahwa para pembuat kebijakan hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di level saat ini.

Namun, pasar merespons negatif adanya perbedaan pandangan terkait langkah bank sentral selanjutnya.

Sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap persisten. Di sisi lain, sebagian pejabat menyatakan kesiapan untuk memangkas suku bunga jika tekanan harga mulai mereda.

Baca juga: Bitcoin Turun ke 67.172 Dollar AS, Investor Pantau Support 66.200

Sikap higher for longer yang masih membayangi kebijakan moneter AS dinilai memberi tekanan pada likuiditas global.

Hal ini tercermin dari penguatan Indeks Dollar AS (DXY) ke level 97,7 yang berdampak langsung pada terkoreksinya instrumen aset berisiko, termasuk kripto.

Kondisi tersebut memicu aksi jual di pasar kripto dan menyebabkan total kapitalisasi pasar aset digital menyusut.

Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.  UNSPLASH/KANCHANARA Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.

Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini bersikap lebih pesimistis. Probabilitas pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum pertemuan Juni tercatat kurang dari 50 persen.

Baca juga: Bitcoin Turun ke Level 66.500 Dollar AS, Dalam Sebulan Anjlok 28 Persen

INDODAX: fase konsolidasi wajar

Menanggapi dinamika global tersebut, Vice President INDODAX Antony Kusuma menyatakan fondasi bitcoin saat ini masih terjaga di tengah fase konsolidasi.

“Koreksi harga yang terjadi pasca rilis FOMC ini adalah reaksi pasar yang sangat wajar dan bersifat sementara. Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed," kata Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).

"Meskipun bitcoin saat ini berada di bawah 67.000 dollar AS, pergerakan ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang sehat. Area 64.000 dollar AS menjadi titik support yang kuat, dan secara historis, fase konsolidasi seperti ini justru sering menjadi fondasi yang baik sebelum pasar kembali menguat,” ujar dia.

Ia menambahkan, kondisi global tersebut juga berkaitan dengan kebijakan moneter dalam negeri.

Baca juga: Bitcoin Turun ke Kisaran 67.000 Dollar AS, Melemah Hampir 2 Persen

Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait BI Rate yang saat ini berada di kisaran 4,75 persen hingga 5,5 persen dinilai akan menentukan arah likuiditas investor domestik.

“Langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, investor kripto tidak perlu panik," terang Antony.

"Justru, kondisi makroekonomi seperti ini kembali mengingatkan kita pada fungsi utama bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge) jangka panjang yang tangguh. Kami melihat ini sebagai momentum yang baik bagi investor untuk merencanakan portofolio mereka secara lebih matang,” imbuh dia.

Tekanan likuiditas dan sentimen pasar

Koreksi harga bitcoin kali ini tidak terlepas dari dinamika likuiditas global.

Ilustrasi bitcoin. FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.

Baca juga: Ancaman Crypto Winter, Harga Bitcoin Diprediksi Turun ke 40.000 Dollar AS

Penguatan dollar AS membuat aset berisiko menjadi kurang menarik di mata investor global, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Penurunan ekspektasi pemangkasan suku bunga turut memengaruhi aliran dana ke pasar kripto.

Dengan peluang pemangkasan sebelum Juni yang berada di bawah 50 persen, pasar cenderung menahan posisi dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi.

Dalam situasi volatilitas tersebut, INDODAX menyatakan terus mengedukasi anggota untuk tetap rasional. Perusahaan mengimbau investor melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) serta menjaga manajemen risiko.

Baca juga: Menkeu AS Prediksi Regulasi Kripto Segera Terbit, Pengaruh ke Harga Bitcoin?

Strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) disebut tetap menjadi opsi untuk memitigasi volatilitas, khususnya di tengah tekanan makroekonomi global yang masih berlangsung.

Tag:  #bitcoin #tertekan #ketidakpastian #suku #bunga

KOMENTAR