Ekonomi Bandara Berubah: Gen Z dan Milenial Jadi Konsumen Utama Duty Free
Ilustrasi bandara. Angkasa Pura beri diskon 50 persen tarif bandara Lebaran 2026 di 37 bandara. Berlaku untuk tiket domestik dan extra flight.(Pexels/Ekaterina Belinskaya)
12:16
17 Februari 2026

Ekonomi Bandara Berubah: Gen Z dan Milenial Jadi Konsumen Utama Duty Free

Perubahan komposisi demografi penumpang kini menggeser sumber utama pendapatan bandara di berbagai negara di dunia.

Jika sebelumnya generasi baby boomers mendominasi aktivitas konsumsi dan belanja di bandara, kini Gen Z dan milenial muncul sebagai pembelanja terbesar, dengan nilai belanja yang jauh melampaui generasi sebelumnya.

Dikutip dari Gulf News, Selasa (17/2/2026), temuan ini terungkap dalam studi terbaru Airports Council International (ACI) Asia-Pacific & Middle East yang menganalisis 36 bandara utama di 21 negara dan melibatkan survei terhadap 4.000 penumpang.

Baca juga: Pesawat Ditembak, 11 Bandara Perintis Papua Ditutup Sementara

Ilustrasi bandara, terminal bandara.PIXABAY Ilustrasi bandara, terminal bandara.

Studi tersebut menunjukkan, ketika dibandingkan dengan baby boomers, Gen Z dan milenial membelanjakan hingga 3,5 kali lebih banyak di bandara, menandai perubahan fundamental dalam ekonomi bandara global.

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada perilaku konsumsi, tetapi juga memaksa operator bandara, pengelola duty-free, dan merek ritel global untuk menyesuaikan strategi mereka guna menarik generasi muda yang kini menjadi penggerak utama pendapatan non-penerbangan.

Generasi muda jadi pembelanja terbesar di bandara

Dalam laporan tersebut, milenial tercatat sebagai kelompok dengan pengeluaran tertinggi per penumpang, dengan indeks belanja sebesar 378.

Posisi ini diikuti oleh Gen Z dengan indeks 312, menempatkan kedua generasi ini sebagai kontributor utama pendapatan ritel bandara.

Baca juga: Reaktivasi Bandara Dumai, Sinyal Ekonomi Bergerak

Sebaliknya, generasi yang lebih tua, seperti Gen X dan baby boomers, menunjukkan tingkat pengeluaran yang relatif lebih rendah dan cenderung mempertahankan pola konsumsi tradisional.

Ilustrasi Bandara Incheon berencana menertibkan airport fashion para artis dan bintang K-Pop karena dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan.PEXELS/ Gustavo Fring Ilustrasi Bandara Incheon berencana menertibkan airport fashion para artis dan bintang K-Pop karena dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan.

Direktur Jenderal ACI Asia-Pacific & Middle East Stefano Baronci mengatakan, perubahan ini mencerminkan pergeseran fundamental dalam cara generasi berbeda memandang bandara.

“Generasi muda jauh lebih peka terhadap nilai jual komersial bandara dibandingkan dengan para pelancong yang lebih tua,” kata Baronci.

Pernyataan ini menunjukkan generasi muda tidak lagi melihat bandara hanya sebagai tempat transit, tetapi sebagai bagian dari pengalaman konsumsi dan gaya hidup.

Baca juga: Bandara Pinang Kampai Aktif Lagi, Dumai Bidik Konektivitas

Barang mewah, kosmetik, dan elektronik jadi incaran utama

Preferensi konsumsi Gen Z dan milenial juga berbeda secara signifikan dibanding generasi sebelumnya. Kedua generasi ini lebih tertarik pada produk premium, termasuk barang mewah, parfum, kosmetik, dan elektronik.

Studi ACI menemukan, Gen Z empat kali lebih mungkin membeli elektronik dibanding baby boomers, serta 2,5 kali lebih mungkin membeli barang mewah.

Secara keseluruhan, kategori barang mewah serta parfum dan kosmetik menjadi dua kategori dengan penjualan tertinggi di bandara, sementara elektronik menempati posisi ketiga.

Ketiga kategori ini memberikan margin keuntungan tertinggi bagi operator bandara dan peritel.

Baca juga: Punya Pengendali Baru, Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) Bidik Proyek Bandara hingga Logistik Nasional

Peningkatan pembelian elektronik juga mencerminkan perubahan perilaku konsumen modern.

Di kawasan Timur Tengah, misalnya, pengeluaran per penumpang untuk elektronik meningkat 14 persen dibandingkan periode sebelum pandemi, karena penumpang mencari produk eksklusif bandara dan harga yang lebih kompetitif dibanding pusat perbelanjaan di kota.

Perubahan ini menegaskan, bandara telah berkembang menjadi destinasi belanja yang kompetitif, bukan sekadar lokasi transit.

Generasi tua tetap dominan dalam kategori tradisional

Sementara generasi muda mendominasi kategori premium dan teknologi, baby boomers tetap menjadi pembeli utama dalam kategori tradisional seperti alkohol dan produk makanan ringan.

Ilustrasi Bandara Internasional Muan di Korea Selatan.Dok. Wikimedia Commons/Lerk Ilustrasi Bandara Internasional Muan di Korea Selatan.

Baca juga: Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026, InJourney Siapkan 37 Bandara

Studi ACI menunjukkan baby boomers 2,5 kali lebih mungkin membeli alkohol dibanding Gen Z, mencerminkan pola konsumsi yang lebih konservatif dan berbasis kebiasaan.

Selain itu, minat generasi muda terhadap produk seperti tembakau dan alkohol jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya, menandakan pergeseran preferensi yang lebih luas dalam perilaku konsumen.

Penurunan minat terhadap tembakau juga sejalan dengan tren global, di mana pembelian produk tembakau di bandara terus menurun, sementara kategori lain seperti elektronik dan barang premium mengalami pertumbuhan.

Pola perjalanan baru meningkatkan peluang belanja

Selain perubahan preferensi konsumsi, pergeseran juga terjadi dalam pola perjalanan generasi muda. Gen Z dan milenial semakin sering menggabungkan perjalanan bisnis dan rekreasi, yang dikenal sebagai bleisure travel.

Baca juga: InJourney Bakal Benahi 5 Bandara Tahun Ini, Mana Saja?

Data ACI menunjukkan, sebanyak 25 persen generasi milenial dan 22 persen Gen Z menggabungkan perjalanan dinas dan rekreasi, dibandingkan hanya 15 persen generasi X dan 4 persen baby boomers.

Sebaliknya, sekitar 73 persen baby boomers masih melakukan perjalanan terutama untuk tujuan rekreasi.

Pola perjalanan yang lebih fleksibel ini meningkatkan waktu yang dihabiskan generasi muda di bandara, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan mereka berbelanja.

Waktu tunggu yang lebih lama di terminal memberi lebih banyak peluang bagi penumpang untuk menjelajahi toko duty free dan melakukan pembelian.

Baca juga: 10 Bandara Tersibuk di Dunia Sepanjang 2025

Pembelian impulsif masih mendominasi

Ilustrasi bandara.Dok. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Ilustrasi bandara.

Meskipun generasi muda dikenal sebagai pengguna aktif teknologi digital, mayoritas pembelian di bandara masih dilakukan secara langsung di toko fisik.

Studi ACI menemukan, sekitar 70 persen pembelian di bandara bersifat impulsif, menunjukkan keputusan pembelian sering terjadi secara spontan.

Faktor utama yang memengaruhi pembelian meliputi pilihan produk dan harga atau promosi, yang secara bersama-sama menyumbang hampir 70 persen motivasi pembelian.

Sementara itu, pengalaman toko hanya memengaruhi sekitar 16 persen keputusan pembelian, menunjukkan faktor praktis seperti harga dan ketersediaan tetap menjadi pendorong utama konsumsi.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Pasok Avtur di Bandara Notohadinegoro Jember

Meski demikian, keterlibatan digital tetap memainkan peran dalam membentuk kesadaran produk dan minat konsumen, meskipun belum sepenuhnya menggantikan pengalaman belanja fisik.

Pendapatan bandara kini bergantung pada siapa yang bepergian

Temuan ini juga mengungkap perubahan mendasar dalam ekonomi bandara. Jika sebelumnya pendapatan bandara dianggap bergantung pada jumlah penumpang, kini faktor utama adalah profil dan perilaku penumpang itu sendiri.

Baronci mengatakan, asumsi lama tersebut tidak lagi berlaku.

“Asumsi tradisional bahwa kinerja komersial secara otomatis meningkat seiring dengan volume penumpang tidak lagi dapat diandalkan,” sebut Baronci.

Baca juga: Çelebi Aviation Resmi Beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta dan Bali

Ia menambahkan, pendapatan kini semakin bergantung pada siapa yang bepergian, bukan hanya berapa banyak penumpang yang datang.

“Studi ini menyoroti perubahan struktural: seiring dengan semakin tersegmentasinya perilaku penumpang, hasil pendapatan semakin bergantung pada siapa yang bepergian, bukan hanya berapa banyak yang bepergian,” ujarnya.

Perubahan ini memaksa operator bandara untuk lebih memahami profil demografi penumpang mereka.

Pendapatan non-penerbangan jadi tulang punggung bisnis bandara

Ilustrasi Bandara New Chitose di Chitose, Hokkaido, Jepang.Dok. Wikimedia Commons/? (Keyaki) Ilustrasi Bandara New Chitose di Chitose, Hokkaido, Jepang.

Pendapatan non-penerbangan, termasuk ritel, makanan dan minuman, serta duty-free, kini menjadi komponen utama dalam model bisnis bandara modern.

Baca juga: Ini 5 Bandara Tersibuk Sepanjang Nataru, Penumpang Tembus 10,2 Juta

Di kawasan Timur Tengah, misalnya, pendapatan non-penerbangan menyumbang 43,3 persen dari total pendapatan bandara pada 2023, menjadikannya yang tertinggi secara global.

Pendapatan non-penerbangan per penumpang juga mencapai 16,36 dollar AS, lebih tinggi dibanding wilayah lain seperti Eropa dan Amerika Utara.

Duty free menjadi komponen utama, dengan kontribusi lebih dari 50 persen pendapatan bandara di beberapa negara Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.

Data ini menunjukkan, aktivitas belanja kini memainkan peran yang sama pentingnya dengan aktivitas penerbangan dalam menopang keuangan bandara.

Baca juga: Bandara IKN Jadi Komersil Setelah Revisi Aturan, Kesiapan Teknis Sudah Tuntas

Kepuasan penumpang ikut menentukan belanja

Selain faktor demografi, kepuasan penumpang juga menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat belanja.

Studi tersebut menemukan bahwa setiap peningkatan 1 persen dalam kepuasan penumpang dapat meningkatkan pendapatan non-penerbangan sebesar 1,5 persen.

Faktor-faktor seperti tata letak terminal, kualitas layanan, kemudahan akses, dan pengalaman perjalanan secara keseluruhan berkontribusi langsung terhadap tingkat belanja.

Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam pengalaman pelanggan dapat menghasilkan dampak finansial yang signifikan bagi bandara.

Baca juga: Ini 5 Bandara Tersibuk Sepanjang Nataru, Penumpang Tembus 10,2 Juta

Ilustrasi bandara.PIXABAY/MARKUS WINKLER Ilustrasi bandara.

Perubahan strategi ritel bandara

Dengan meningkatnya peran generasi muda sebagai pembelanja utama, operator bandara dan retailer kini menyesuaikan strategi mereka.

Produk premium, elektronik, dan kosmetik menjadi fokus utama, menggantikan kategori tradisional seperti alkohol dan tembakau yang kini mengalami penurunan permintaan dari generasi muda.

Selain itu, Gen Z juga menunjukkan minat yang lebih besar terhadap produk berkelanjutan.

Studi tersebut menemukan, 65 persen Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan, meskipun hanya 20 persen bandara yang saat ini menjadikan keberlanjutan sebagai prioritas utama dalam strategi ritel mereka.

Baca juga: IWIP Bantah Kabar Penyelundupan Nikel Ilegal di Bandara Khusus

Kesenjangan ini menunjukkan adanya peluang bagi operator bandara untuk mengembangkan strategi baru yang sesuai dengan preferensi generasi muda.

Masa depan ekonomi bandara ditentukan oleh generasi muda

Temuan ACI menunjukkan, transformasi demografi penumpang akan terus memengaruhi ekonomi bandara di masa depan.

Dengan investasi global sebesar 240 miliar dollar AS yang direncanakan untuk pengembangan bandara dalam satu dekade ke depan, memahami perilaku konsumen generasi muda menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan finansial bandara.

Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam model bisnis bandara, di mana aktivitas ritel kini menjadi komponen utama yang didorong oleh generasi muda yang semakin dominan dalam perjalanan udara global.

Tag:  #ekonomi #bandara #berubah #milenial #jadi #konsumen #utama #duty #free

KOMENTAR