Luhut: Ekonomi 5 Persen Bukan Prestasi, RI Harus Tembus 8 Persen
- Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen belum layak disebut prestasi.
Sepanjang 2025, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11 persen secara tahunan. Angka itu dinilai menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia naik kelas.
“Jadi kalau 5 persen menurut saya bukan prestasi atau sampai 6 persen tidak prestasi. Kami bermimpi 8-9 persen dalam beberapa tahun ke depan, dan kita harus bisa memelihara itu paling tidak dua dekade untuk kita bisa menjadi high income country dan kita tidak terperangkap dari middle income trap," ujar Luhut di kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Luhut Sebut Reformasi Bursa Bisa Datangkan Dana Asing Rp 1.179 Triliun
Ia menegaskan target pertumbuhan perlu berada di kisaran 8 hingga 9 persen dan dipertahankan dalam jangka panjang.
Menurut Luhut, Indonesia masih berada pada fase bonus demografi, saat jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif. Kondisi ini memberi peluang untuk mendorong tenaga kerja, konsumsi, dan produktivitas.
Namun fase tersebut akan berakhir sekitar 2041 hingga 2042, saat proporsi penduduk lanjut usia meningkat.
“Kita mau 6-7 persen, 8-9 persen sebenarnya, tapi ingat demografi bonus kita habis tahun 2041-2042. Kalau itu habis, kita sudah pasti di middle income trap. Jadi semua harus sadar demografi bonus itu sudah akan habis 2040-an. Ini satu titik atau garis yang harus kita perhatikan," paparnya.
Ia menekankan investasi sebagai kunci utama mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Kontribusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara terhadap pertumbuhan dinilai hanya sekitar 15 hingga 16 persen.
“Investasi harus kita tambah, karena APBN hanya 15-16 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dampaknya. Sisanya 86 persen atau berapa persen itu tadi dari investasi. Jadi investor harus kita terima dengan karpet merah," katanya.
Baca juga: Luhut Sebut Pasar Modal RI Akan Bagus: Tapi Tidak Bisa Lagi Digoreng-goreng seperti yang Kemarin...
Menurut dia, pembenahan pasar modal menjadi salah satu pintu masuk untuk meningkatkan kepercayaan investor. Pasar saham yang kredibel dan transparan akan memperkuat persepsi terhadap iklim investasi nasional.
Ia mencontohkan India yang meningkatkan arus investasi setelah melakukan reformasi dan restrukturisasi pasar modal.
“Kalau 5,5 persen itu mudah. Tapi kita harus lebih dari itu,” tandasnya.
Tag: #luhut #ekonomi #persen #bukan #prestasi #harus #tembus #persen