Tren ''Career Minimalism'': Generasi Muda Tak Lagi Kejar Jabatan
Ilustrasi karier(hobo_018/ Getty Images/iStockphoto)
09:20
12 Februari 2026

Tren ''Career Minimalism'': Generasi Muda Tak Lagi Kejar Jabatan

- "Di pekerjaanku yang sekarang ini, aku enggak mau naik jabatan sih. Karena aku merasa sudah stabil," ujar Putri, seorang Gen Z yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan asing di Jakarta.

Sudah lima tahun ia bekerja di perusahaan tersebut. Gaji dan bonus yang diterimanya diakui sudah cukup, bahkan relatif tinggi dibandingkan teman-teman selingkarannya.

Selain itu, dengan pekerjaan yang sekarang, ia tetap bisa mengatur waktu untuk istirahat hingga menjalani hobi. Oleh karena itu, naik jabatan tak masuk dalam daftarnya.

Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

Ilustrasi bekerja di kantor.PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor.

"Aku lebih ke khawatir, kalau naik jabatan, waktuku untuk kehidupan pribadi semakin terbatas. Kayaknya belum siap untuk menghadapi itu," Putri mengakui.

Lain lagi dengan Miftah. Pekerja generasi milenial yang berkarier di industri kreatif di Jakarta dengan tegas mengaku enggan naik jabatan.

Menurut dia, dengan posisi pekerjaannya saat ini, ia bisa mencurahkan waktu dan perhatian untuk putri semata wayangnya.

"Gue pernah ditawari naik jabatan, tapi gue tolak. Karena dengan yang sekarang ini, gue bisa tetap fokus ngurus anak," tuturnya.

Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja

Miftah mengaku tak tergiur dengan kenaikan gaji atau fasilitas yang dia terima lantaran promosi jabatan. Menurut dia, apa yang diperolehnya saat ini sudah cukup.

"Kalau mengejar uang, kayaknya enggak. Buat gue waktu untuk anak itu enggak tergantikan," cetusnya.

Di tengah lanskap pasar kerja global yang berubah cepat, muncul satu istilah yang kian sering dibicarakan, yakni career minimalism.

Konsep career minimalism merujuk pada pendekatan bekerja yang lebih sederhana dan selektif, fokus pada stabilitas, batasan yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi, serta penolakan terhadap ambisi korporat yang berlebihan. Fenomena ini terutama dikaitkan dengan generasi milenial dan Gen Z.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?

Alih-alih mengejar promosi setinggi mungkin atau berlomba menduduki posisi manajerial, sebagian dari mereka memilih jalur karier yang “cukup", yakni cukup stabil, cukup menghasilkan, dan cukup memberi ruang bagi kehidupan di luar kantor.

Laporan tren tenaga kerja dari Glassdoor menyoroti perubahan sikap ini. Morgan Sanner, pakar karier di Glassdoor, menggambarkan pergeseran tersebut dengan metafora yang cukup kuat.

“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel, sebuah jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini,” ungkap Sanner.

Ilustrasi bekerja di kantor. PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.

Alih-alih menaiki tangga karier yang kaku dan linear, generasi muda kini dinilai lebih memilih berpindah dari satu lompatan ke peluang lain yang dirasa paling sesuai pada waktu tertentu.

Baca juga: Tips Karier untuk Gen Z dari Barack Obama, Jadilah Karyawan Seperti Ini

Pekerjaan sampingan dan redefinisi sukses

Salah satu indikator yang kerap dikaitkan dengan career minimalism adalah meningkatnya kepemilikan side hustle alias pekerjaan sampingan di kalangan generasi muda.

Putri mengakui, ia memiliki side hustle, meski tak rutin dilakukan. Dengan pekerjaan sampingan sebagai penerjemah, ia memanfaatkan penghasilan yang diperoleh untuk "modal" liburan.

"Side hustle aku ada sih, tapi enggak rutin. Lumayan untuk aku liburan ke luar negeri," tuturnya.

Dalam laporan tren 2025 yang dirilis Glassdoor, sekitar 57 persen pekerja Gen Z dilaporkan memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan 48 persen milenial.

Baca juga: Mengapa AI Bisa Menghambat Kenaikan Karier bagi Banyak Pekerja Muda

Data ini menunjukkan bahwa banyak pekerja muda tidak lagi menggantungkan seluruh ambisi dan pertumbuhan finansial mereka pada satu pekerjaan utama.

"Generasi Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini," tutur Daniel Zhao, Lead Economist Glassdoor.

Pernyataan ini menegaskan bahwa definisi kesuksesan profesional tengah mengalami perubahan.

Kesuksesan tidak lagi selalu identik dengan jabatan tinggi atau kenaikan gaji dalam struktur korporasi tradisional.

Baca juga: Tips Karier Mantan Wapres AS Kamala Harris: Tak Terima Jawaban Tidak

Bagi sebagian generasi muda, stabilitas finansial yang cukup, fleksibilitas waktu, dan peluang mengembangkan minat pribadi menjadi parameter yang sama pentingnya.

Kepuasan kerja dan realitas generasi muda

Data dari Pew Research Center menunjukkan tingkat kepuasan kerja tertinggi cenderung ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua.

Ilustrasi bekerja. Psikolog membagikan langkah sederhana untuk mengatasi post-vacation blues agar transisi kembali bekerja tetap ringan dan tidak menguras energi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi bekerja. Psikolog membagikan langkah sederhana untuk mengatasi post-vacation blues agar transisi kembali bekerja tetap ringan dan tidak menguras energi.

Pekerja muda memang mayoritas menyatakan cukup puas dengan pekerjaannya, tetapi tingkat “sangat puas” relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.

Dalam laporan terbarunya, Pew mencatat aspek seperti peluang promosi dan pengembangan keterampilan menjadi salah satu sumber ketidakpuasan di kalangan pekerja muda. Ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap fleksibilitas kerja dan keseimbangan hidup.

Baca juga: Tips Karier dari Bill Gates untuk Gen Z di Tengah Gempuran AI

Data tersebut menjadi latar penting dalam membaca fenomena career minimalism.

Jika promosi dan kenaikan jabatan tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber kepuasan, maka wajar bila sebagian pekerja memilih bertahan pada posisi yang stabil tanpa ambisi menaiki tangga manajemen.

Quiet quitting dan batasan kerja

Fenomena career minimalism juga kerap disandingkan dengan istilah quiet quitting, yang populer pasca-pandemi Covid-19.

Meski tidak identik, keduanya sama-sama menekankan batasan yang lebih tegas terhadap pekerjaan.

Baca juga: Bias Gender dan Beban Ganda Hambat Karier Perempuan di Sektor Finansial

Harvard Business Review mendefinisikan quiet quitting sebagai memilih untuk tidak mengerjakan tugas-tugas di luar kewajiban yang diberikan dan/atau mengurangi keterlibatan psikologis dalam pekerjaan.

Dalam salah satu artikelnya, Harvard Business Review juga menekankan bahwa fenomena ini sering kali bukan sekadar soal etos kerja individu, melainkan berkaitan dengan kepemimpinan dan desain pekerjaan.

Dalam artikel lain, Harvard Business Review menyatakan, quiet quitting adalah tentang bos yang buruk, bukan karyawan yang buruk.

Pernyataan tersebut menggeser fokus dari stereotip generasi menuju kualitas manajemen dan budaya organisasi.

Ilustrasi pegawai.FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi pegawai.

Baca juga: Sikap Negatif di Kantor, Red Flag yang Harus Dihindari untuk Karier Cemerlang

Dengan demikian, career minimalism tidak selalu dapat dipahami sebagai kurangnya motivasi.

Dalam banyak kasus, ia muncul sebagai respons terhadap beban kerja berlebihan, ketidakjelasan penghargaan, atau pengalaman kolektif seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ketidakpastian ekonomi.

Dampak pandemi Covid-19 dan ketidakpastian ekonomi

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting dalam cara generasi muda memandang pekerjaan.

Pengalaman bekerja jarak jauh, perampingan karyawan, hingga meningkatnya diskusi soal kesehatan mental, membentuk ulang prioritas karier.

Baca juga: Gen Z dan Pilihan Karier: Di Antara Passion, Uang, dan Harapan Orangtua

Banyak pekerja muda menyaksikan langsung bagaimana stabilitas pekerjaan bisa goyah dalam waktu singkat. Dalam konteks tersebut, menginvestasikan seluruh identitas pada satu perusahaan menjadi terasa berisiko.

Glassdoor mencatat, kekhawatiran terhadap keamanan kerja dan dampak otomatisasi, termasuk kecerdasan buatan (AI), turut memengaruhi rencana karier Gen Z.

Dalam laporan trennya, perusahaan tersebut menyoroti meningkatnya diskusi terkait AI di kalangan pencari kerja muda.

Kondisi ini mendorong sebagian pekerja untuk mengamankan sumber pendapatan alternatif. Side hustle bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga strategi mitigasi risiko.

Baca juga: Kiamat Pekerjaan Kelas Menengah: 5 Karier Ini Akan Diambil Alih AI pada 2030

Tantangan bagi perusahaan

Bagi perusahaan, fenomena career minimalism menghadirkan tantangan tersendiri.

Model manajemen tradisional yang bertumpu pada promosi vertikal mungkin kurang relevan bagi generasi yang tidak melihat jabatan sebagai tujuan utama.

Harvard Business Review menyoroti disengagement karyawan sering kali berkaitan dengan kurangnya dukungan manajerial dan struktur kerja yang tidak adaptif.

Ilustrasi bekerja.PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.

Jika perusahaan ingin mempertahankan talenta muda, pendekatan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kesejahteraan menjadi penting.

Baca juga: 10 Negara Terbaik untuk Wanita Karier, Tak Ada dari Asia

Selain itu, meningkatnya jumlah pekerja dengan pendapatan terdiversifikasi juga berpotensi mengubah pola loyalitas kerja.

Pekerja yang memiliki usaha sampingan mungkin tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu perusahaan, sehingga daya tawar mereka dalam negosiasi kerja meningkat.

Generasi dan identitas kerja

Analisis dari McKinsey & Company mengenai karakteristik Gen Z menunjukkan generasi ini tumbuh di tengah krisis global, perkembangan teknologi cepat, dan paparan informasi yang luas.

Pengalaman tersebut membentuk pola pikir yang lebih pragmatis terhadap institusi, termasuk tempat kerja.

Baca juga: Dilema PNS Jabatan Pelaksana: Karier Buntu, Solusi Tak Tentu

Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan dipandang sebagai salah satu komponen kehidupan, bukan pusat identitas. Pendekatan ini sejalan dengan semangat minimalisme yang menekankan kesederhanaan dan selektivitas.

Namun, para analis juga mengingatkan bahwa fenomena ini tidak bersifat universal. Faktor budaya, kondisi ekonomi lokal, dan sektor industri sangat memengaruhi bagaimana sikap tersebut termanifestasi.

Variasi konteks global

Sebagian besar data dan laporan mengenai career minimalism berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Karena itu, konteks lokal di negara lain dapat menghasilkan dinamika berbeda.

Di negara dengan tingkat pengangguran tinggi atau sistem perlindungan sosial terbatas, pilihan untuk bersikap minimalis dalam karier mungkin tidak selalu tersedia.

Baca juga: Seberapa Menjanjikan Karier sebagai Agen Asuransi? Ini Peluang dan Tantangannya

Ilustrasi promosi jabatan. SHUTTERSTOCK/GAJUS Ilustrasi promosi jabatan.

Stabilitas pekerjaan formal bisa tetap menjadi prioritas utama.

Meski demikian, tren global menunjukkan adanya pergeseran nilai yang cukup luas terkait makna kerja, ambisi, dan keseimbangan hidup.

Perdebatan dan kritik

Sebagian pengamat menilai istilah career minimalism berisiko menyederhanakan realitas yang kompleks.

Tidak semua pekerja yang menolak promosi jabatan berarti tidak ambisius. Ambisi bisa bergeser bentuk, bukan hilang.

Baca juga: Peluang Karier di Era AI: Kuasai 2 Keterampilan Ini agar Dilirik Perekrut

Sejumlah analis juga menekankan label generasional sering kali terlalu luas. Variasi individu dalam satu generasi bisa lebih besar dibandingkan perbedaan antar generasi.

Namun demikian, data survei dan laporan tren menunjukkan bahwa perubahan sikap terhadap kerja memang sedang terjadi. Definisi kesuksesan profesional tidak lagi tunggal.

“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel," terang Sanner.

Pernyataan tersebut mencerminkan realitas bahwa jalur karier kini lebih cair dan tidak selalu linear.

Tag:  #tren #career #minimalism #generasi #muda #lagi #kejar #jabatan

KOMENTAR