Ketika Genteng Ekonomi Nusantara Bocor
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Freepik)
06:04
11 Februari 2026

Ketika Genteng Ekonomi Nusantara Bocor

EKONOMI sebuah bangsa jarang runtuh seketika; ia lebih sering melemah lewat kebocoran-kebocoran kecil yang dibiarkan. Dari luar rumah tampak berdiri kokoh, tetapi di dalam, ember-ember mulai disusun menadah tetesan. Begitulah ekonomi bekerja: kerentanan tidak selalu dramatis, namun akumulatif.

Krisis besar hampir selalu diawali retakan kecil yang diabaikan—defisit yang dimaafkan, tata kelola yang dilonggarkan, dan program yang dinilai dari niat, bukan hasil. Dan ketika genteng mulai bocor, yang pertama basah bukanlah statistik, melainkan kehidupan rakyat.

Ironisnya, kebocoran sering terjadi justru ketika optimisme sedang tinggi. Di saat konferensi pers ramai dan angka-angka makro terlihat rapi, risiko kerap bersembunyi di detail implementasi. Ekonomi publik mengajarkan satu hal sederhana: kebijakan tidak dinilai dari seberapa baik ia diumumkan, tetapi dari seberapa tahan ia bekerja ketika diuji. Genteng tidak diuji saat matahari bersinar.

Metafora genteng ekonomi penting karena ia membumi. Genteng tidak dirancang untuk dipuji, melainkan untuk melindungi. Ia bekerja sunyi, tetapi menentukan rasa aman penghuninya. Ketika kebijakan lebih sibuk mengejar kemegahan desain daripada fungsi proteksi, di situlah kebocoran bermula.

Gagasan ini bukan pembenaran istilah gentengisasi dalam arti retoris atau politis, melainkan alat kritik: apakah kebijakan sungguh menjadi pelindung ekonomi domestik, atau hanya tampak kokoh di atas kertas. Dalam ekonomi publik, niat baik adalah prasyarat moral, tetapi hasil nyata adalah ukuran profesional.

Baca juga: Sri Mulyani Ungkap Anggaran Program MBG Lebih dari Rp 300 Triliun di 2026

Kebocoran dari Belanja Besar

Publik belakangan akrab dengan program beranggaran jumbo—dari bantuan sosial, subsidi sektoral, hingga penguatan ekonomi desa. Narasi yang dibangun kerap linier: anggaran besar berarti dampak besar. Secara politik, ini mudah dijual; secara ekonomi, belum tentu tahan uji.

Belanja publik yang tidak presisi menciptakan distorsi, moral hazard, dan ketergantungan. Ia memberi sensasi jangka pendek, tetapi meninggalkan kerentanan jangka panjang. Kebocoran fiskal tidak selalu berupa penyimpangan hukum; ia sering hadir dalam bentuk salah target, desain lemah, evaluasi minim, dan program yang tidak menambah kapasitas produksi. Ekonomi lalu terbiasa disangga, bukan diperkuat.

Anggaran besar bisa membeli program, tetapi tidak otomatis membeli ketahanan. Masalahnya bukan pada keberanian membelanjakan, melainkan pada disiplin mengevaluasi. Setiap rupiah belanja publik semestinya lulus uji net social benefit: apakah ia menaikkan produktivitas, memperluas kerja, atau memperdalam struktur industri. Tanpa itu, belanja publik ibarat menuang air ke atap bocor—sibuk menambah ember, lupa memperbaiki genteng.

Lebih satirnya lagi, dalam politik anggaran, keberhasilan sering diukur dari seberapa cepat dana terserap, bukan seberapa dalam dampaknya meresap. Serapan tinggi menjadi kabar baik, meski manfaatnya tipis. Di titik ini, kebijakan berisiko berubah dari instrumen pembangunan menjadi sekadar ritual administrasi.

Kebocoran dalam Pengelolaan Aset

Selain belanja, ada pula strategi bertumpu pada pengelolaan aset negara skala besar. Di sini kebocoran tidak terjadi lewat pengeluaran, tetapi lewat tata kelola. Mengelola aset publik berarti menjaga kekayaan kolektif lintas generasi—dan setiap kelemahan governance adalah celah risiko.

Aset negara dapat menjadi bantalan ekonomi bila dikelola profesional dan transparan. Ia bisa menjadi sumber dividen pembangunan dan penyangga krisis. Banyak negara berhasil menjadikannya instrumen stabilisasi. Namun pengalaman global juga memberi pelajaran pahit: aset strategis tanpa pengawasan kuat mudah terseret kepentingan jangka pendek.

Mengelola aset besar bukan soal keberanian, tetapi soal kedewasaan tata kelola. Pertanyaan mendasarnya bukan berapa besar aset dikonsolidasikan, tetapi siapa mengawasi, seberapa terbuka informasinya, dan bagaimana mitigasi risikonya. Tanpa jawaban meyakinkan, aset besar dapat berubah dari pelindung menjadi sumber kebocoran mahal.

Transparansi, dalam konteks ini, bukan slogan moral—melainkan mekanisme proteksi ekonomi.

Baca juga: Pemerintah dan DPR Bahas Tambahan Anggaran Program Makan Bergizi 2025

Menutup Bocor Struktural

Kebocoran ekonomi pada akhirnya tidak ditutup dengan tambalan sementara, tetapi dengan pembenahan struktur. Genteng ekonomi sejati dibangun dari produktivitas, kedalaman industri, dan UMKM yang naik kelas. Ia lahir dari institusi yang kredibel, regulasi konsisten, dan kepastian hukum yang membuat pelaku usaha berani menanamkan modal jangka panjang.

Ketahanan struktural menuntut investasi pada manusia, teknologi, dan tata kelola. Pendidikan vokasi, riset terapan, dan reformasi birokrasi mungkin kurang populer dibanding bantuan tunai, tetapi justru itulah bahan baku genteng tahan lama.

Negara yang tahan krisis bukan yang paling sering mengumumkan program, melainkan yang paling rapi menutup celah kerentanan. Ekonomi yang kuat bukan yang bebas hujan, tetapi yang gentengnya tidak bocor.

Pada akhirnya, kritik kebijakan bukan pesimisme, melainkan bentuk kepedulian pada kualitas pelindung rumah bersama. Ekonomi Nusantara tidak membutuhkan atap megah untuk dipuji, tetapi genteng kokoh yang bekerja diam. Sebab sejarah ekonomi menunjukkan: badai global datang silih berganti, tetapi rumah yang gentengnya rapi jauh lebih mungkin tetap tegak. Dan dalam ekonomi, ketahanan selalu dibangun dari kehati-hatian, bukan dari euforia.

Tag:  #ketika #genteng #ekonomi #nusantara #bocor

KOMENTAR