Data Ritel AS Loyo dan Isu AI, Wall Street Bergerak Variatif
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street bergerak variatif pada perdagangan Selasa (10/2/2026) waktu setempat.
Pelemahan data penjualan ritel serta meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada sektor keuangan membebani sentimen investor.
Mengutip CNBC Rabu (11/2/2026) WIB, indeks S&P 500 turun 0,33 persen dan ditutup di level 6.941,81.
Nasdaq Composite melemah 0,59 persen ke posisi 23.102,47.
Adapun Dow Jones Industrial Average justru menguat 52,27 poin atau 0,10 persen dan mencetak rekor penutupan baru di 50.188,14.
Baca juga: Tidak Hanya BUMN, Danantara Juga Sasar Saham Swasta
Sepanjang sesi, Dow sempat membukukan rekor intraday untuk ketiga kalinya secara beruntun, melanjutkan reli setelah menembus level 50.000 untuk pertama kali pekan lalu.
Tekanan pasar terutama datang dari sektor ritel.
Saham Costco turun lebih dari 2 persen, sementara Walmart melemah lebih dari 1 persen.
Pelemahan ini menyusul laporan penjualan ritel Desember yang menunjukkan belanja konsumen stagnan, peleset dari proyeksi kenaikan 0,4 persen secara bulanan.
Padahal, pada November penjualan ritel masih tumbuh 0,6 persen.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan utama pada Rabu, disusul data inflasi indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) pada Jumat.
Tanggapan kepala strategi pasar
Kepala Strategi Pasar Ameriprise Financial Anthony Saglimbene menilai, ketidakpastian pasar tenaga kerja menjadi faktor tambahan yang menekan konsumen berpendapatan rendah hingga menengah.
“Komponen lain yang saat ini menekan konsumen berpendapatan rendah hingga menengah adalah persepsi mereka terhadap kondisi pasar kerja, dan kita tahu ketidakpastian itu meningkat,” ujarnya kepada CNBC.
Di sisi lain, saham sektor keuangan turut tertekan setelah platform teknologi Altruist meluncurkan perangkat perencanaan pajak berbasis AI.
Saham LPL Financial anjlok 8,3 persen, Charles Schwab turun 7,4 persen, dan Morgan Stanley melemah lebih dari 2 persen.
Menurut Saglimbene, tekanan tersebut memicu rotasi sektor.
Investor mulai beralih ke sektor yang dinilai lebih tahan terhadap sentimen AI. “Terlihat ada rotasi ke sektor-sektor lain yang dinilai lebih terlindungi dari dampak perdagangan bertema AI,” paparnya.
Meski terkoreksi, Wall Street masih ditopang reli dua hari sebelumnya yang dipimpin saham teknologi.
Dow Jones bahkan mencatatkan rekor tertinggi baik secara intraday maupun penutupan.
Secara teknikal, pasar dinilai masih relatif solid.
S&P 500 berhasil kembali bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari setelah sempat menembus ke bawah level tersebut pekan lalu.
Selain itu, sejumlah kelas aset menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan indeks utama, yang oleh pelaku pasar dibaca sebagai sinyal penguatan lanjutan.