Menilik Rencana Pengiriman 20.000 Prajurit TNI ke Gaza…
Warga Palestina bermain di kamp pengungsian baru yang didirikan oleh Komite Mesir di Nuseirat, Jalur Gaza, pada 11 November 2025.(AFP/EYAD BABA)
09:22
11 Februari 2026

Menilik Rencana Pengiriman 20.000 Prajurit TNI ke Gaza…

- Rencana pengiriman hingga 20.000 prajurit TNI ke Jalur Gaza terus menjadi sorotan publik, seiring belum adanya kejelasan mandat internasional serta perbedaan pandangan mengenai kebutuhan pasukan di lapangan.

Rencana pengiriman pasukan itu pertama kali disampaikan Presiden RI Prabowo dalam pidato di Sidang Majelis Umum PBB akhir 2025 kemarin.

Ketika itu, Prabowo menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengerahkan hingga 20.000 personel TNI guna membantu pengamanan perdamaian di Gaza, apabila mendapatkan mandat dari PBB.

Baca juga: Soal Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza, Kemlu: Dukungan Kemanusiaan dan Rekonstruksi

“Jika dan ketika Dewan Keamanan PBB dan majelis besar ini memutuskan, Indonesia siap untuk mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza atau di tempat lain,” kata Prabowo, dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).

Wacana pengiriman pasukan tersebut menguat setelah Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 di bawah pengawasan Amerika Serikat, Mesir, Turki, dan Qatar.

Jumlah pasukan tak perlu 20.000

Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menilai, jumlah prajurit yang akan dikirim Indonesia ke Gaza tidak perlu terlalu besar hingga mencapai 20.000 personel.

Menurut Utut, kebutuhan pasukan harus dihitung secara proporsional dengan mempertimbangkan luas wilayah dan kondisi di lapangan.

“Intinya hemat saya, tidak perlu terlalu besar seperti yang 20.000 itu. Tentu kan teman-teman di Kemhan sudah punya ukuran,” kata Utut, usai rapat kerja Komisi I DPR RI bersama Wakil Menteri Pertahanan dan jajaran TNI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Pandangan tersebut disampaikan Utut setelah mencermati kondisi geografis Jalur Gaza.

Dia menyebutkan, luas wilayah Gaza hanya sekitar 45 kilometer persegi, atau sedikit lebih kecil dibandingkan Jakarta Pusat.

“Kalau Jalur Gaza sempat saya pelajari itu luasnya 45 kilometer persegi, itu lebih kecil sedikit dari Jakarta Pusat. Jadi Jakarta Pusat ini Senayan, Tanah Abang, sampai Cempaka Putih itu, Senen, kurang lebih seperti itu,” ujar Utut.

Meski demikian, Utut menegaskan bahwa rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza telah beberapa kali dibahas bersama pemerintah di Komisi I DPR RI.

Bahkan, Presiden Prabowo Subianto telah mengundang para menteri luar negeri, mantan menteri luar negeri, tokoh, dan ilmuwan ke Istana Kepresidenan untuk membahas rencana tersebut secara menyeluruh.

“Poinnya adalah persetujuan teman-teman itu setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Bapak Presiden, mulai dari konsep filosofis sampai geopolitik terkini,” ujar Utut.

Utut menyebutkan, penentuan pemimpin misi dan konfigurasi pasukan akan diputuskan melalui perundingan di tingkat Presiden.

Dia menduga, Amerika Serikat akan memegang peran penting dalam kepemimpinan misi internasional tersebut.

Baca juga: Komisi I DPR Nilai Pengiriman Prajurit TNI ke Gaza Tak Perlu Sampai 20.000

“Jadi ini tentu leader-nya dugaan saya, saya juga belum dengar, dugaan saya pasti USA. Karena yang bisa membuat Israel nurut USA,” ucap Utut.

Meski begitu, Utut menegaskan Indonesia akan mengirimkan prajurit terbaik apabila rencana tersebut terealisasi.

Dia berharap keterlibatan Indonesia lebih berfokus pada misi penjaga perdamaian dan pemulihan Gaza pascakonflik.

“Tentu kita berdoa ini lebih seperti peacekeeping forces, penjaga perdamaian dan membantu percepatan perbaikan Gaza,” tutur Utut.

Dia menambahkan, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui solusi dua negara.

“Tetapi ada statement penting dari Bapak Presiden, bukan sekadar kemerdekaan Palestina tetapi juga pengakuan dan hidup damai berdampingan, two-state solution,” pungkas Utut.

Pasukan sudah disiapkan

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan mengatakan, pemerintah dan TNI pada prinsipnya telah menyiapkan pasukan untuk diberangkatkan ke Gaza sewaktu-waktu, apabila telah ada keputusan politik dan mandat yang jelas.

“Terkait dengan pengiriman pasukan yang terkait dengan Gaza, jadi intinya kita sudah siapkan ya. Mabes TNI, Panglima TNI sudah menyiapkan prajurit kita untuk sewaktu-waktu diberangkatkan,” kata Donny.

Donny menegaskan, saat ini pemerintah tinggal menunggu perintah dan koordinasi lanjutan.

“Hanya kita tinggal menunggu perintah, koordinasi, kapan kita untuk berangkat. Intinya kita sudah siap ya,” tegas dia.

Ketika ditanya mengenai jumlah pasukan yang disiapkan, Donny menyebut jumlahnya masih ratusan personel.

“Mungkin nanti wapang yang akan jawab ya, tapi sekitar 600-an sekian,” ungkap Donny.

Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menambahkan bahwa TNI siap mengirimkan pasukan sesuai dengan kebutuhan yang akan ditetapkan dalam proses perundingan internasional.

“Pada prinsipnya TNI siap ya berapapun yang dibutuhkan karena kan sekarang masih dalam proses perundingan,” ujar Tandyo.

Baca juga: Prabowo Bertemu Prajogo Pangestu hingga Anthony Salim, Bahas Apa?

Dia menyebutkan, keputusan terkait kontribusi pasukan Indonesia diperkirakan akan ditetapkan pada akhir Februari 2026 dan ditandatangani langsung oleh Presiden.

“Sampai sekarang kita banyak sudah ada beberapa opsi untuk bisa kita berpartisipasi aktif terhadap perdamaian di Gaza. Secara pastinya menunggu keputusan dari, akhir bulan inilah yang nanti akan ditandatangani langsung oleh Bapak Presiden,” tutur Tandyo.

Terkait kesiapan menghadapi kondisi lapangan, Tandyo menyampaikan bahwa TNI akan mengerahkan prajurit berpengalaman dari misi sebelumnya.

“Saya kira kita sudah punya pengalaman ya, ada Unifil yang pernah ke sana, satuan-satuan yang pernah dikirim ke sana, inilah nanti yang akan kita rekrut,” kata Tandyo.

“Kita kalau tidak salah sudah mengirimkan dari tahun 2008 ya, dari 2008 itu kita sudah mengirimkan Unifil ke sana sudah berkali-kali, dan orang-orang inilah nanti yang akan kita kirim ke sana,” sambung dia.

Menunggu kesepakatan Board of Peace

Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, rencana pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza masih dalam tahap pembahasan.

Menurut Prasetyo, jumlah pasukan yang dibicarakan berkisar ribuan personel dan menjadi bagian dari total pasukan internasional.

“Belum. Sedang dibicarakan tapi ada kemungkinan kita akan, kurang lebih di angka 8.000 itu. Totalnya kurang lebih sekitar 20.000. Total ya,” ujar Prasetyo, di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Prasetyo menambahkan, pengiriman pasukan tersebut masih menunggu kesepakatan di lingkungan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Belum. Kita baru mempersiapkan diri aja. Kalau sewaktu-waktu sudah tercapai kesepakatan, dan harus mengirimkan pasukan perdamaian, tentu itu sebagai sebuah komitmen itu akan kita lakukan,” kata Prasetyo.

Penjelasan pemerintah tersebut sejalan dengan pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mawengkang sebelumnya.

Bukan di bawah pasukan perdamaian PBB

Yvonne mengatakan, hingga saat ini detail pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza masih terus dibahas, termasuk terkait mandat internasional yang berlaku.

“Tapi, memang saat ini kita masih terus, sebagaimana disampaikan terakhir ya terkait Gaza itu masih dibicarakan berbagai detail yang ada,” ujar Yvonne, dalam konferensi pers, Kamis (8/1/2026).

Yvonne menjelaskan bahwa pasukan yang akan ditempatkan di Gaza bukan berada di bawah mandat pasukan perdamaian PBB, melainkan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF).

“Saat ini Pasukan Stabilisasi Internasional yang memegang mandat terkait pengiriman pasukan ke wilayah Gaza, bukan pasukan perdamaian PBB,” kata Yvonne.

Karena itu, Indonesia perlu mendalami aturan dan kesepakatan yang mengatur keterlibatan pasukan stabilisasi internasional tersebut.

Baca juga: Anggota Denma TNI Akui Aniaya Ojol di Kembangan dan Beri Ganti Rugi

Di sisi lain, sembari menunggu kejelasan mandat, pemerintah terus mematangkan detail teknis antar kementerian dan lembaga yang terlibat.

“Jadi, kami belum bisa menyampaikan secara resmi jumlah kontribusi kita. Kalau mau dibilang kemarin kan Pak Presiden di GA bilangnya 20.000, terus ini kemarin muncul 2.000, 3.000. Tapi itu memang tergantung kebutuhan on the ground,” ujar Yvonne.

Yvonne menegaskan bahwa hingga kini konfigurasi, jumlah, dan peran pasukan Indonesia masih memerlukan pembahasan lanjutan di tingkat internasional.

“Karena ini semua, balik lagi bentuk potensi kontribusi Indonesia, jumlah peran, konfigurasi itu masih memerlukan pembahasan lebih lanjut,” kata dia.

Meski berbagai persiapan teknis telah dilakukan, termasuk penyiapan pasukan hingga kapal rumah sakit, pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza hingga kini belum terealisasi.

Tag:  #menilik #rencana #pengiriman #20000 #prajurit #gaza

KOMENTAR