Rebalancing MSCI Februari 2026: INDF Turun Kelas, ACES dan CLEO Terdepak
Indeks MSCI (MSCI)
09:08
11 Februari 2026

Rebalancing MSCI Februari 2026: INDF Turun Kelas, ACES dan CLEO Terdepak

- Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), akhirnya mengumumkan February 2026 Index Review alias hasil tinjauan berkala untuk periode Februari 2026.

Perubahan hasil rebalancing tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dan efektif mulai 2 Maret 2026.

“Seluruh perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari dengan tanggal efektif pada 2 Maret,” tulis MSCI dalam pengumuman dikutip Rabu (11/2/2026) .

Dari tinjauannya, MSCI merombak komposisi saham Indonesia, di mana PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) keluar dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes.

Baca juga: Ketika Danantara Ikut Hadiri Pertemuan dengan MSCI

Di saat yang sama, dua emiten lainnya yakni PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) didepak dari MSCI Small Cap Indexes, sehingga tak lagi masuk dalam daftar saham yang tercakup dalam indeks global tersebut.

Untuk diketahui, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bernegosiasi dengan MSCI pada Rabu (11/2/2026) ini.

Pertemuan itu untuk membahas sejumlah usulan perubahan kebijakan pasar modal Indonesia.

Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dialog antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization yang digelar pada 2 dan 5 Februari 2025 lalu, terutama setelah otoritas pasar modal menyampaikan proposal resmi kepada MSCI.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut terdapat tiga pokok usulan yang akan didiskusikan secara mendalam.

Pertama, pembahasan granularisasi kategori investor agar lebih detail dan mencerminkan struktur kepemilikan pasar yang sebenarnya.

Saat ini ada sembilan kategori dalam struktur Single Investor Identification (SID) di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan akan diperluas menjadi 28 subkategori.

“Seperti yang kami sampaikan tadi bahwa tanggal 5 Februari kita sudah menyampaikan proposal kepada MSCI. Yang tiga poin tadi, yaitu tadi granularisasi dari kategori investor,” ujar Jeffrey saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin (29/2/2026).

Kedua, perluasan keterbukaan informasi kepemilikan saham.

Jika sebelumnya keterbukaan hanya mencakup kepemilikan di atas 5 persen, ke depan akan diperluas hingga kepemilikan saham di atas 1 persen.

“Dari shareholders name dari 5 persen menjadi 1 persen. Serta kita juga akan komunikasikan rencana penerapan peraturan terkait free float. Itu yang akan kita diskusikan di hari Rabu nanti,” paparnya.

Ketiga, peningkatan ketentuan minimum free float bagi emiten.

Ambang batas minimum free float akan dinaikkan dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

Menurutnya, pertemuan tersebut bersifat dua arah.

BEI akan memaparkan secara komprehensif usulan yang telah disiapkan, sekaligus mendengarkan pandangan MSCI mengenai kesesuaian proposal tersebut dengan metodologi yang berlaku.

“Kami ingin memastikan apakah yang kami usulkan sudah sesuai dengan metodologi MSCI atau masih ada aspek teknis yang perlu disesuaikan. Dari diskusi itu, masing-masing pihak tentu dapat melakukan penyesuaian yang diperlukan,” lanjut Jeffrey.

Selain dengan MSCI, BEI juga membangun komunikasi paralel dengan penyedia indeks global lainnya, yakni FTSE Russell, penyedia indeks global terkemuka yang digunakan oleh investor untuk mengukur kinerja pasar.

Jeffrey menyebut, substansi pembahasan yang sama akan dikomunikasikan kepada FTSE Russell untuk memperoleh pandangan metodologis yang sejalan.

Baca juga: Pasar Bergejolak Imbas Isu MSCI, Moody’s, dan FTSE, Investor Ritel Harus Ambil Sikap Apa?

Tag:  #rebalancing #msci #februari #2026 #indf #turun #kelas #aces #cleo #terdepak

KOMENTAR