IHSG Masih Tertekan, Saatnya Investor Balik ke Emiten Fundamental?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan dengan efek dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga penurunan peringkat outlook perbankan oleh Moody’s Ratings.
Di pasar modal, investor ritel perlu lebih cermat mengatur portofolio dan menerapkan strategi investasi yang ketat.
Perencana keuangan Melvin Mumpuni mengatakan, investor pemula diimbau untuk mengutamakan memilih perusahaan dengan fundamental yang bagus.
Baca juga: IHSG Sesi 1 Menguat 0,98 Persen ke 8.012, AMRT dan DSSA Top Gainer LQ45
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
"Secara bisnisnya, secara angkanya, secara manajemennya itu bagus," kata dia ketika ditemui di Jakarta pekan lalu.
Selain itu, Melvin bilang, investor juga perlu memilih perusahaan yang memiliki perjalanan bisnis ke depan.
"Punya cerita atau growth story ke depan. Ini kenapa perusahaan ini masih terus berkembang gitu," imbuh dia.
Selain itu, Melvin menuturkan, investor diharapkan juga membeli saham perusahaan di harga yang murah atau terdiskon.
Baca juga: Dibuka Menguat, IHSG Berbalik Melemah ke Level 7.868
"Kalau perusahaannya itu bagus, tapi harganya lagi mahal banget, ya cenderung ketika terjadi koreksi kita kena," terang dia.
Trading di saham gorengan
Khusus untuk trader, Melvin mengingatkan untuk selalu memiliki rencana yang jelas. Hal ini terkait dengan banyaknya trader yang berspekulasi di saham-saham gorengan atau saham yang mengalami pergerakan harga dan volume tidak wajar akibat intervensi pihak tertentu.
"Kalau ada teman-teman yang memang trading dan tradingnya itu di saham gorenagn, pastikan Anda trading itu dengan trading plan yang sudah jelas, dan kedua disiplin dengan trading plan-nya," urai dia.
Ilustrasi pasar saham.Artinya, seorang trader harus siap untuk melakukan cut loss atau menjual saham di bawah harga belinya ketika harga sudah tidak sesuai dengan rencana trading di awal.
"Ya disiplin cut loss, itu untuk trader," ucap Melvin.
Investasi bukan cara untuk cepat kaya
Di tengah tren investasi yang kian menjamur di kalangnan anak muda, Melvin juga menyoroti perilaku anak muda yang menganggap investasi sebagai cara untuk cepat kaya.
"Saya agak sedih ya ketika sekarang anak muda itu diajarkan investasi itu adalah jalur untuk cepat kaya dengan standar harus punya mobil mewah," ungkap dia.
Padahal secara teoretis, investasi bukan merupakan cara untuk cepat kaya. Investasi membutuhkan waktu.
Baca juga: IHSG Berpeluang Rebound di Area 8.284-8.440, Berikut Rekomendasi Saham dari Analis
Seiring berjalannya waktu investasi, investor akan mengalami efek penggandaan atau compounding effect.
"Artinya dalam jangka panjang, investasi atau uang itu akan menjadi lebih besar," ungkap dia.
Melvin menawarkan pengertian baru bahwa investasi adalah cara untuk membantu individu mencapai ke tujuan-tujuan keuangan tertentu.
IHSG masih fluktuatif
IHSG hari ini tercatat mulai menguat pada sesi pertama perdagangan Senin (9/2/2026).
Baca juga: IHSG Turun 4,73 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Jadi Rp 14.341 Triliun
IHSG parkir di level 8.012,81 atau menguat 0,98 persen setara 77,55 poin dibandingkan pembukaannya pagi ini.
Volume perdagangan tercatat sebesar 23,35 miliar saham dengan nilai Rp 9,59 triliun. Sebanyak 423 emiten menguat, sedangkan 244 lainnya melemah, dan 152 emiten tidak bergerak.
Ilustrasi aturan free float saham.
Awal pekan ini, IHSG sempat melemah pada pembukaan sesi pertama.
IHSG berada di level 7.868,33 atau turun 0,84 persen setara 66,93 poin. IHSG dibuka di posisi 7.970,02, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di level 7.935,26.
Baca juga: Jelang Akhir Pekan IHSG dan Rupiah Kompak Melemah
Peluang IHSG menguat pekan ini
Pada perdagangan Jumat (6/2/2026) pekan lalu, IHSG ditutup melemah 2,08 persen ke level 7.935. Kendati demikian, secara teknikal indeks masih berpeluang menguat pada awal pekan ini.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan IHSG berpotensi bergerak menguji area 8.284 hingga 8.440 selama mampu bertahan di atas level support terdekat.
“Cermati area koreksi selanjutnya yang berada di 7,712-7,785, selama masih mampu berada di atas 7,712 sebagai supportnya maka IHSG berpeluang menguat ke rentang 8.284-8.440,” ujar Herditya dalam analisa hariannya.
Ia mencatat IHSG saat ini memiliki support utama di level 7.712 dan 7.547. Sementara itu, resistance terdekat berada di kisaran 8.214 dan 8.354.
Baca juga: IHSG Anjlok di Sesi Pertama, Asing Justru Borong Saham Perbankan dan Blue Chip
Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai IHSG berpotensi melemah terbatas dengan rentang support dan resistance di level 7.800 sampai 8.320.
Isu MSCI hingga Moody's masih menghantui
Perlu dicatat, IHSG terkoreksi tajam sepanjang sepekan terakhir. Hingga penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG turun 4,73 persen ke level 7.935.
Adapun, arus dana asing di pasar reguler mencatat outflow Rp 1,2 triliun. Tekanan utama datang dari sentimen Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Lembaga ini masih menyoroti isu transparansi kepemilikan saham di Indonesia. MSCI memberi sinyal risiko penurunan status Indonesia ke kategori frontier market apabila sejumlah persyaratan tidak terpenuhi. Sinyal ini memicu sikap hati-hati investor asing.
Ilustrasi IHSGBaca juga: IHSG Dibuka Melemah 122 Poin, LQ45 dan JII Kompak di Zona Merah
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT, Imam Gunad menuturkan, sentimen domestik turut membayangi pergerakan IHSG.
Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Sementara itu, rating tetap bertahan di level Baa2 atau investment grade.
"Moody’s menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya koordinasi pemerintah berpotensi menekan kredibilitas kebijakan serta kepercayaan investor," kata dia dalam keterangan resmi, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, risiko fiskal juga menjadi sorotan.
Baca juga: IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok 2,27 Persen
Imam menjelaskan, Moody’s menyoroti perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang dinilai masih lemah, serta tata kelola sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar.
Di sisi lain penurunan outlook berdampak pada batas atas peringkat kredit sejumlah emiten besar.
Dampak terasa pada BUMN dan bank-bank utama. Sensitivitas pasar terhadap tekanan lanjutan meningkat apabila ketidakpastian kebijakan berlanjut.
Tag: #ihsg #masih #tertekan #saatnya #investor #balik #emiten #fundamental