Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat
KAI Group menjalankan penugasan Public Service Obligation (PSO) agar layanan kereta api tetap hadir di berbagai wilayah dan segmen perjalanan, mulai dari perjalanan harian, regional, hingga antarkota.(DOK. Humas KAI)
14:40
9 Februari 2026

Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat

– Di tengah dinamika ekonomi pada 2025, rel kereta api di berbagai wilayah Indonesia terus dipadati aktivitas masyarakat.

Di balik ramainya peron dan gerbong, kereta api memainkan peran yang jauh melampaui sekadar moda transportasi bertarif terjangkau.

Kereta api kini menjadi salah satu penopang utama mobilitas nasional, berkat instrumen kebijakan strategis bernama Public Service Obligation (PSO) atau subsidi pelayanan publik dari pemerintah.

Melalui penugasan PSO yang diberikan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group memastikan layanan transportasi berbasis rel tetap hadir dan dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah, mulai dari perjalanan harian, regional, hingga antarkota.

Baca juga: Jumlah Penumpang Kereta Api PSO Tembus 1,1 Juta Selama Nataru

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, PSO merupakan wujud sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan operator perkeretaapian dalam menjaga kesinambungan layanan transportasi publik.

“Penugasan PSO memastikan layanan kereta api tetap dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah,” ujar Anne dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Menurut Anne, tingginya jumlah pelanggan mencerminkan kepercayaan publik terhadap kereta api sebagai moda transportasi yang andal dalam mendukung mobilitas harian, regional, hingga perkotaan.

Ke depan, lanjut dia, KAI Group akan terus memperkuat keandalan operasi dan integrasi antarlayanan, serta berkoordinasi secara berkelanjutan dengan pemerintah agar manfaat transportasi publik berbasis rel semakin luas dirasakan masyarakat.

Baca juga: Danantara Beri Sinyal APBN Bakal Ikut Bayar Utang Whoosh, Lewat Skema PSO

Mobilitas tinggi, peran kereta makin krusial

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, intensitas mobilitas penduduk antardaerah dan aktivitas komuter di kawasan perkotaan masih berada pada tren tinggi.

Kondisi tersebut mempertegas kebutuhan akan transportasi massal berbasis rel yang andal, berkelanjutan, dan mampu melayani pergerakan masyarakat secara konsisten.

Dalam konteks ini, PSO berfungsi sebagai instrumen kebijakan publik yang menjaga keberlangsungan layanan kereta api di tengah dinamika mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

Pada layanan Kereta Api Jarak Jauh (KA JJ) PSO, penugasan pemerintah melalui DJKA memastikan konektivitas antarkota tetap terjaga dengan tarif yang terjangkau.

Sepanjang 2025, layanan KA JJ PSO melayani 11.418.824 pelanggan, meningkat dibandingkan 11.133.268 pelanggan pada 2024. Layanan ini mendukung perjalanan masyarakat untuk berbagai kepentingan, mulai dari kerja, pendidikan, aktivitas sosial, hingga mobilitas rutin antardaerah.

Baca juga: Layanan Komuter Dominan, Penumpang KAI Naik Tajam di 2025

Sementara itu, KA Lokal PSO berperan penting dalam menopang mobilitas regional dan intraprovinsi.

Sepanjang 2025, layanan ini melayani 6.225.944 pelanggan, naik dari 5.375.104 pelanggan pada 2024.

Peningkatan tersebut mencerminkan peran KA Lokal PSO sebagai penghubung kawasan permukiman, sentra produksi, dan simpul aktivitas ekonomi daerah.

Tulang punggung mobilitas perkotaan

Di wilayah perkotaan, peran kereta api sebagai tulang punggung mobilitas harian semakin nyata melalui layanan komuter yang juga berada dalam skema PSO.

Baca juga: KAI akan Operasikan KA Tambahan untuk Mudik Lebaran 2026

Sepanjang 2025, layanan PSO yang dikelola KAI Commuter melayani 400.737.915 pelanggan melalui Commuter Line Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), Area I Jakarta, Area II Bandung, Area VI Yogyakarta (KRL dan Prameks), Area VIII Surabaya, serta Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta).

Layanan tersebut menopang pergerakan masyarakat perkotaan dan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dukungan PSO juga diberikan pada layanan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek.

Sepanjang 2025, moda transportasi massal ini melayani 28.816.787 pelanggan, memperkuat konektivitas kawasan Jabodetabek melalui sistem transportasi berbasis rel yang terintegrasi dengan moda lain.

Pada sektor konektivitas bandara, Kereta Api Bandara PSO yang dikelola KAI Bandara melayani 5.456.033 pelanggan sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 4.668.091 pelanggan pada 2024. 

Baca juga: Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten

Layanan ini mencakup KA Bandara Srilelawangsa di Medan serta KA Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), yang menghubungkan bandara dengan pusat aktivitas kota dan wilayah sekitarnya.

Secara keseluruhan, layanan kereta api PSO yang ditetapkan pemerintah melalui DJKA Kementerian Perhubungan melayani 452.655.503 pelanggan sepanjang 2025.

Capaian ini menegaskan bahwa kereta api bukan hanya soal tiket murah, melainkan fondasi penting dalam menjaga mobilitas masyarakat serta pemerataan akses transportasi nasional.

Tag:  #bukan #sekadar #murah #kereta #bersubsidi #jadi #tulang #punggung #mobilitas #masyarakat

KOMENTAR