Siapa yang Rentan Terpapar Hantavirus? Ini Penjelasan Epidemiolog
Ilustrasi virus. Apakah Hantavirus adalah penyakit baru?(Freepik/wirestock)
08:18
9 Mei 2026

Siapa yang Rentan Terpapar Hantavirus? Ini Penjelasan Epidemiolog

Kasus Hantavirus yang kembali menjadi perhatian publik membuat banyak orang bertanya-tanya, siapa saja kelompok yang paling berisiko terpapar virus ini.

Epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD mengatakan bahwa risiko hantavirus sebenarnya masih tergolong rendah di Indonesia.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena Indonesia memiliki sejumlah faktor yang mendukung tingginya paparan hewan pengerat, terutama tikus.

“Hantavirus berkaitan erat dengan keberadaan rodensia atau tikus sebagai reservoir utama virus,” ujar Dr. Dicky saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/6/2026).

Ia menjelaskan, penularan hantavirus paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.

Karena itu, orang yang sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus memiliki risiko paparan lebih besar dibanding masyarakat umum.

Baca juga: 5 Fakta tentang Hantavirus, dari Penularan hingga Risiko di Indonesia

Kelompok yang lebih rentan

Menurut Dr. Dicky, ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada terhadap hantavirus karena aktivitas sehari-hari mereka lebih sering bersentuhan dengan lingkungan berisiko.

Kelompok tersebut antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, hingga petugas pengangkut sampah.

Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk dan banyak tikus juga perlu meningkatkan kewaspadaan.

“Area pergudangan, pelabuhan, maupun tempat penyimpanan yang lembap dan kurang bersih memang lebih berpotensi menjadi lokasi paparan,” kata dia.

Selain itu, risiko juga dapat meningkat saat musim hujan dan banjir.

Kondisi tersebut membuat tikus lebih mudah masuk ke permukiman warga dan meningkatkan kemungkinan manusia terpapar lingkungan yang tercemar.

Baca juga: Mengapa Hantavirus Bisa Mematikan? Ini Penjelasan Epidemiolog

Gejalanya sering mirip penyakit lain

Dr. Dicky mengatakan, salah satu tantangan dalam mendeteksi hantavirus adalah gejalanya yang kerap menyerupai penyakit lain.

Pada tahap awal, pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, hingga sakit kepala.

Dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi sesak napas berat akibat paru-paru terisi cairan.

Menurut dia, di Indonesia hantavirus juga berpotensi underdiagnosed atau tidak terdeteksi karena gejalanya mirip leptospirosis, demam berdarah, maupun pneumonia berat.

Karena itu, seseorang yang mengalami gejala tersebut setelah terpapar lingkungan dengan banyak tikus disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Baca juga: Mengapa Hantavirus Bisa Mematikan? Ini Penjelasan Epidemiolog

Meski sering menimbulkan kekhawatiran, Dr. Dicky menegaskan bahwa hantavirus tidak menyebar semudah Covid-19.

Penularan antarmanusia sangat terbatas Petugas kebersihan, pekerja gudang, dan warga di lingkungan penuh tikus disebut lebih rentan terpapar hantavirus dan sebagian besar kasus terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus.

“Hantavirus lebih merupakan penyakit zoonosis dari lingkungan, bukan virus yang menyebar cepat antar manusia,” ujarnya.

Meski begitu, masyarakat tetap diminta menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang kotor atau berpotensi terkontaminasi.

Menurut Dr. Dicky, langkah sederhana tersebut penting untuk menurunkan risiko penularan sekaligus menjaga kesehatan lingkungan secara umum.

Tag:  #siapa #yang #rentan #terpapar #hantavirus #penjelasan #epidemiolog

KOMENTAR