Sentimen MSCI, Moody’s, dan Geopolitik Global Tekan IHSG, Analis Rekomendasikan PNLF, ADRO, PANI, dan XIHD
– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam sepanjang sepekan terakhir. Hingga penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG turun 4,73 persen ke level 7.935. Arus dana asing di pasar reguler mencatat outflow Rp 1,2 triliun.
Tekanan utama datang dari sentimen Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Lembaga ini masih menyoroti isu transparansi kepemilikan saham di Indonesia. MSCI memberi sinyal risiko penurunan status Indonesia ke kategori frontier market apabila sejumlah persyaratan tidak terpenuhi. Sinyal ini memicu sikap hati-hati investor asing.
Baca juga: IHSG Berpeluang Rebound di Area 8.284-8.440, Berikut Rekomendasi Saham dari Analis
Sentimen global turut menekan pasar saham domestik. Perhatian investor tertuju pada dinamika geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan tidak langsung kedua negara yang dimediasi Oman di Muscat berjalan positif. Peluang pertemuan lanjutan pada awal pekan depan terbuka.
Iran juga menyebut perundingan awal berlangsung konstruktif untuk meredakan ketegangan dan menghindari konflik militer. Meski begitu, risiko geopolitik dinilai belum sepenuhnya mereda.
Harga minyak Brent sempat turun ke bawah 67 dollar AS per barel sebelum kembali stabil. Tekanan muncul seiring langkah AS menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran.
“Risiko geopolitik masih cukup tinggi. Di satu sisi jalur diplomasi berjalan, tetapi di sisi lain AS menjatuhkan sanksi baru dan Iran menyita kapal tanker di Teluk Persia. Peluang eskalasi terbatas di sektor maritim masih terbuka,” ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT, Imam Gunadi, dalam keterangan pers, Senin (9/2/2026).
Sentimen positif datang dari meredanya ketegangan dagang antara AS dan India. India merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Presiden Trump menghapus tarif tambahan 25 persen dan memangkas tarif resiprokal. Tarif efektif turun menjadi 18 persen.
Sebagai imbalannya, India berkomitmen membatasi impor minyak Rusia. India juga meningkatkan pembelian energi dari AS serta menyepakati pembelian produk AS senilai 500 miliar dollar AS dalam lima tahun.
Baca juga: IHSG Ditutup di Zona Merah, Turun 2,08 Persen ke Level 7.935
Sentimen domestik turut membayangi pergerakan IHSG. Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Rating tetap bertahan di level Baa2.
Moody’s menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya koordinasi pemerintah berpotensi menekan kredibilitas kebijakan serta kepercayaan investor. Risiko fiskal juga menjadi sorotan.
Moody’s menyoroti perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang dinilai masih lemah, serta tata kelola sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar.
Penurunan outlook berdampak pada batas atas peringkat kredit sejumlah emiten besar. Dampak terasa pada BUMN dan bank-bank utama. Sensitivitas pasar terhadap tekanan lanjutan meningkat apabila ketidakpastian kebijakan berlanjut.
Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid. Sepanjang 2025, ekonomi tumbuh 5,11 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ditopang lonjakan kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen secara tahunan. Sektor transportasi dan pergudangan menjadi pendorong utama. Permintaan domestik tetap kuat. Belanja modal pemerintah melonjak 40,14 persen secara tahunan.
Memasuki perdagangan 9–13 Februari 2026, pasar menanti sejumlah rilis data ekonomi penting. Fokus tertuju pada Amerika Serikat, China, dan Indonesia.
Amerika Serikat akan merilis data inflasi yang diproyeksikan turun ke 2,5 persen. Indikator ketenagakerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melandai.
China akan merilis data inflasi yang diperkirakan turun ke 0,4 persen. Data ini berpengaruh pada sentimen komoditas global.
Pasar domestik menanti data penjualan ritel Desember 2025 dan penjualan mobil Januari 2026. Data ini menjadi indikator daya beli dan konsumsi rumah tangga.
Pergerakan pasar diproyeksikan bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Area support berada di level 7.716. Resistance berada di level 8.207.
Merespons kondisi tersebut, IPOT menyampaikan sejumlah strategi dan rekomendasi saham. IPOT merekomendasikan buy on pullback saham PT Panin Financial Tbk (PNLF). Area masuk berada di 270–272. Target harga berada di 292. Batas risiko ditetapkan di bawah 260.
IPOT juga merekomendasikan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Area masuk berada di 2.080. Target harga berada di 2.240. Batas risiko ditetapkan di bawah 2.000. Rekomendasi didukung posisi kas yang kuat dan struktur bisnis defensif.
Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turut direkomendasikan. Area beli berada di 8.925. Target harga berada di 9.600. Batas risiko berada di bawah 8.600. Kinerja pra penjualan sepanjang 2025 dinilai solid.
Sebagai alternatif defensif, IPOT merekomendasikan Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 atau XIHD. Koreksi harga saham konstituen dinilai membuka peluang akumulasi bertahap. Potensi imbal hasil dividen dinilai tetap menarik untuk jangka menengah dan panjang.
Disclaimer:
Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Setiap keputusan investasi mengandung risiko. Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul akibat keputusan yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pasar saham dan aset kripto memiliki volatilitas tinggi, harap lakukan riset mandiri (Do Your Own Research) sebelum bertransaksi.
Tag: #sentimen #msci #moodys #geopolitik #global #tekan #ihsg #analis #rekomendasikan #pnlf #adro #pani #xihd