Pengembangan Fitofarmaka Masih Terkendala Akses JKN
Ilustrasi industri farmasi, industri fitofarmaka. ()
10:04
3 Februari 2026

Pengembangan Fitofarmaka Masih Terkendala Akses JKN

– Pengembangan fitofarmaka di Indonesia dilakukan melalui tahapan riset dan uji klinis sebelum dipasarkan ke masyarakat. Obat berbasis bahan alam tersebut termasuk dalam kategori tertinggi Obat Modern Alami Integratif (OMAI) yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang khasiatnya dibuktikan melalui uji klinis pada manusia, memenuhi persyaratan keamanan, serta diproduksi sesuai standar mutu yang ditetapkan regulator. Untuk memperoleh status tersebut, produsen harus memenuhi seluruh tahapan pengujian dan penilaian BPOM.

Berdasarkan data BPOM, hingga kini terdapat 18 Nomor Izin Edar (NIE) fitofarmaka di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 15 produk dikembangkan oleh Dexa Group. Pengembangan produk fitofarmaka dilakukan melalui riset bahan baku, standardisasi, serta pengujian ilmiah sebelum memperoleh izin edar.

Baca juga: Masuk E-Katalog Kemenkes, Belanja Fitofarmaka di Faskes Pemerintah Diharapkan Meningkat

Meski telah memiliki izin edar dan dipasarkan ke masyarakat, pemanfaatan fitofarmaka di layanan kesehatan belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Ari Fahrial Syam mengatakan, berbagai riset dan pengembangan bahan alam di Indonesia telah menghasilkan produk fitofarmaka yang beredar di masyarakat.

“Sekarang ini sudah ada beberapa produk fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat. Akan tetapi, pemanfaatannya belum optimal,” kata Prof. Ari, melalui keterangan pers, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga belum dijamin oleh JKN.

Menurut Prof. Ari, mayoritas penduduk Indonesia merupakan peserta JKN. Kebutuhan obat dalam layanan kesehatan harus mengacu pada daftar obat yang tercantum dalam formularium nasional program tersebut.

“Fitofarmaka yang belum masuk dalam formularium nasional menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan potensi pemanfaatan obat tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Kalbe Sebut Industri Farmasi Tetap Tumbuh Positif di 2025 Meski Banyak Tantangan

Riset fitofarmaka industri farmasi

Dari sisi industri, pengembangan fitofarmaka dilakukan melalui riset jangka panjang. Business Development and Scientific Affairs Director Dexa Medica Prof. Raymond Tjandrawinata mengatakan, riset fitofarmaka yang dikembangkan Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) sejak awal diarahkan untuk menjembatani kekayaan biodiversitas Indonesia dengan standar sains modern.

“Melalui pengembangan fitofarmaka secara berkelanjutan, kami berupaya memberikan kontribusi nyata bagi sistem kesehatan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pilihan terapi yang inovatif, aman, dan berkualitas,” ujar Prof. Raymond.

Ia menyampaikan bahwa setelah lebih dari dua dekade riset dan pembuktian ilmiah, fitofarmaka Indonesia berada pada fase kesiapan untuk berkontribusi dalam sistem kesehatan nasional.

“Setelah lebih dari dua dekade riset dan pembuktian ilmiah, fitofarmaka Indonesia berada pada fase kesiapan untuk berkontribusi lebih luas dalam sistem kesehatan nasional. Kami menantikan langkah-langkah strategis yang semakin terintegrasi dari para pemangku kepentingan agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal dengan masuk ke formularium JKN,” kata Prof. Raymond.

Baca juga: Holding BUMN Farmasi Mau Dirombak, Kimia Farma Lepas dari Bio Farma

BPOM Achievement Award 2026

Penghargaan BPOM Achievement Award 2026 dalam kategori Pelopor Produsen Fitofarmaka Terbanyak di Indonesia diserahkan Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar kepada Direktur Utama PT Dexa Medica, Hery Sutanto, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-25 BPOM, di Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.DOK. DEXA Penghargaan BPOM Achievement Award 2026 dalam kategori Pelopor Produsen Fitofarmaka Terbanyak di Indonesia diserahkan Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar kepada Direktur Utama PT Dexa Medica, Hery Sutanto, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-25 BPOM, di Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

Sejumlah isu terkait pengembangan obat, termasuk fitofarmaka, disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 BPOM di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, BPOM memberikan BPOM Achievement Award 2026 kepada sejumlah industri farmasi.

Salah satu penghargaan diberikan kepada PT Dexa Medica dalam kategori Pelopor Produsen Fitofarmaka Terbanyak di Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan Kepala BPOM RI Taruna Ikrar kepada Direktur Utama Dexa Medica V. Hery Sutanto di Jakarta, Sabtu (31/1/2026) lalu.

Selain Dexa Medica, BPOM juga memberikan penghargaan kepada PT Etana Biotechnologies Indonesia serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dalam kategori berbeda.

Tag:  #pengembangan #fitofarmaka #masih #terkendala #akses

KOMENTAR