Tekanan Jual Masif, IHSG Ambles 665 Poin hingga Trading Halt
– Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara atau trading halt pada Kamis (29/1/2026), setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga menyentuh ambang batas penurunan harian sebesar 8 persen.
Tekanan jual yang masif sejak awal perdagangan membuat IHSG merosot 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66.
Berdasarkan data BEI, IHSG dibuka di posisi 8.027,83. Namun, aksi jual langsung mendominasi pasar dan menyeret indeks turun cepat menembus level psikologis 8.000. Pelemahan kemudian berlanjut hingga menyentuh level terendah harian di 7.654,66.
Baca juga: Anjlok Lagi, IHSG Pagi Turun ke Level 7.800-an
Sementara itu, posisi tertinggi IHSG pada perdagangan hari ini hanya tercatat di level 8.049,10 sebelum kembali tertekan.
Volatilitas yang ekstrem tersebut mendorong otoritas bursa menerapkan mekanisme trading halt sesuai ketentuan yang berlaku guna meredam kepanikan pasar.
Tekanan di pasar saham berlangsung luas dan merata. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 694 saham melemah, hanya 34 saham yang menguat, dan 230 saham bergerak stagnan.
Di tengah penurunan tajam indeks, aktivitas perdagangan justru tercatat meningkat. Volume transaksi mencapai 13,08 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 10,99 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 863.333 kali.
Baca juga: Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei
Namun, derasnya tekanan jual membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tergerus signifikan menjadi Rp 13.846,41 triliun.
Berdasarkan ketentuan bursa, penerapan trading halt dilakukan sebagai langkah stabilisasi untuk memberikan waktu bagi pelaku pasar dalam mencerna informasi serta menahan laju kepanikan yang berpotensi memperdalam koreksi.
Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan hari ini juga masih dibayangi sentimen global, khususnya dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti masih adanya kekhawatiran investor terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Meski PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis data free float terbaru yang menunjukkan perbaikan minor, MSCI menilai langkah tersebut belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran pelaku pasar global.
Baca juga: Bos BEI Bantah Tolak Free Float MSCI: Kami Justru Membantu...
Sejumlah investor disebut masih meragukan keandalan kategorisasi pemegang saham yang disusun PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Sebagian investor global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari KSEI sebagai data tambahan.
Namun, MSCI mencatat masih terdapat kekhawatiran signifikan bahwa metodologi tersebut belum cukup kuat untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks.
Kebijakan ini dinilai berpotensi menekan pergerakan IHSG dan menghambat arus dana investor asing.
Baca juga: Efek Pengumuman MSCI ke Kinerja IHSG, Berdampak Panjang?
Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Langkah tersebut diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
“Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis MSCI dalam pengumuman yang dirilis Selasa (27/1/2026) malam.
Tag: #tekanan #jual #masif #ihsg #ambles #poin #hingga #trading #halt