Emas dan Runtuhnya Dongeng Kestabilan Ekonomi Modern
Ilustrasi emas batangan.(SHUTTERSTOCK/QUON_ID)
06:36
29 Januari 2026

Emas dan Runtuhnya Dongeng Kestabilan Ekonomi Modern

RABU, 28 Januari 2026, akan dicatat sebagai hari ketika ilusi stabilitas moneter global terkoyak habis. Harga emas batangan Antam melonjak Rp 52.000 dalam hitungan jam, menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada level Rp 2.968.000 per gram.

Kenaikan lebih dari setengah juta rupiah dalam tempo kurang dari sebulan adalah anomali yang mengirimkan sinyal darurat mengenai keretakan mekanisme pasar global.

Angka tersebut bukan sekadar statistik perdagangan, melainkan manifestasi nyata dari kecemasan kolektif yang telah melampaui batas psikologis pasar.

Di balik euforia para investor, terselip kendala fundamental yang mengkhawatirkan: melebarnya selisih harga jual dan beli (spread) hingga Rp 219.000. Nominal tersebut mewakili tingginya risiko yang dirasakan lembaga penyedia likuiditas.

Saat selisih harga melebar sedemikian rupa, pasar sebenarnya sedang meneriakkan pesan bahwa stabilitas hanyalah fatamorgana.

Akselerasi harga yang ugal-ugalan tersebut merupakan alarm bagi rapuhnya daya beli mata uang di tingkat akar rumput, sekaligus membuktikan kerentanan sistem keuangan yang selama ini dianggap mapan.

Pergerakan liar tersebut memaksa kita mempertanyakan kembali fondasi ekonomi yang kita pijak.

Baca juga: Ketika Krisis Menghampiri, Mengapa Emas Selalu Dicari?

Fenomena tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Di pasar dunia, emas secara mengejutkan menembus 5.200 dollar AS per troy ons untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Ketakutan akan gejolak pasar tersebut mendorong manajer dana global melakukan evakuasi aset secara masif.

Saat emas fisik tiba-tiba menjadi primadona di atas instrumen produktif lainnya, muncul pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dengan kepercayaan terhadap sistem keuangan dunia?

Pergeseran tersebut menandakan bahwa aset kertas mulai kehilangan taringnya di hadapan nilai intrinsik logam mulia sebagai pelabuhan terakhir.

Geopolitik memicu gejolak

Lonjakan harga tersebut berhulu pada kebijakan agresif di Washington. Ancaman tarif dagang 25 persen dari Presiden Donald Trump terhadap Korea Selatan dan Kanada telah merusak stabilitas rantai pasok global secara permanen.

Kebijakan proteksionisme ekstrem tersebut menciptakan efek domino yang menekan indeks Dolar AS ke titik terendah.

Sebagaimana disitat dari laporan terbaru Bloomberg, ketika intimidasi ekonomi menggantikan diplomasi internasional, pasar secara otomatis mencari perlindungan pada aset tanpa risiko pihak lawan (counterparty risk), dan emas menjadi satu-satunya jawaban tersedia.

Keadaan tersebut diperparah oleh investigasi politik terhadap sejumlah pejabat Bank Sentral AS (The Fed). Isu intervensi terhadap independensi moneter menciptakan krisis kredibilitas yang dalam di mata pelaku pasar internasional.

Menukil analisis Deutsche Bank, proyeksi emas dunia menyentuh 6.000 dollar AS per ons sepanjang 2026 bukan lagi ramalan liar, melainkan konsekuensi logis dari memudarnya kepercayaan terhadap mata uang fiat.

Baca juga: Demam Emas Kembali

Emas kini bertransformasi menjadi instrumen pertahanan utama bagi investor untuk memitigasi risiko dari otoritas keuangan global yang kehilangan arah di tengah pusaran kepentingan politik jangka pendek.

Di dalam negeri, lonjakan harga Antam mencerminkan kombinasi kenaikan harga spot dunia dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

Meski pasar berada di area jenuh beli (overbought), tensi geopolitik NATO serta eskalasi di Asia membuat potensi naik-turunnya harga menjadi sangat terbatas.

Bagi industri nasional, gejala tersebut adalah indikator bahwa biaya lindung nilai akan meroket, yang pada gilirannya memicu inflasi harga barang di masa depan.

Logam mulia berdiri tegak di atas kelangkaan fisiknya tanpa membutuhkan janji dari pemerintah mana pun untuk tetap bernilai—sebuah kontras tajam dibanding narasi ekonomi di atas kertas yang mulai memudar.

Kedaulatan Ekonomi Nasional

Sistem ekonomi yang terlalu bergantung pada satu mata uang tunggal kini berada di titik nadir. Globalisasi yang stabil telah runtuh dan berganti dengan era ketidakpastian tinggi.

Bagi Indonesia, fenomena tersebut harus dipandang sebagai dorongan untuk segera melakukan reformasi struktural guna memperkuat kedaulatan ekonomi dari dalam.

Ketergantungan terhadap dinamika eksternal harus dikurangi melalui penguatan fundamental domestik yang lebih resilien terhadap guncangan pasar luar negeri.

Solusi konstruktif yang perlu diambil adalah mempercepat diversifikasi cadangan devisa serta memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal (local currency settlement) dengan mitra dagang utama.

Baca juga: Deindustrialisasi Prematur dan Rentannya Nasib Lulusan SMK

Langkah tersebut akan mengurangi tekanan ketidakstabilan harga global terhadap moneter dalam negeri.

Selain itu, pemerintah perlu memberikan kepastian hukum bagi sektor investasi riil agar likuiditas masyarakat tidak hanya tertahan di dalam emas, tetapi juga mengalir ke sektor produktif yang menciptakan lapangan kerja.

Hilirisasi industri dan ketahanan pangan nasional adalah benteng terakhir yang akan melindungi bangsa saat sistem keuangan global mengalami goncangan yang lebih besar.

Pada akhirnya, kilau emas saat ini menyinari bayang-bayang kerentanan ekonomi kita semua. Kita tidak mungkin menghentikan gejolak liar harga dunia, tapi otoritas memiliki kuasa penuh untuk memperkuat fondasi domestik melalui kebijakan yang visioner.

Transisi menuju kemandirian industri adalah harga mati demi masa depan. Dengan demikian, ketika emas kembali mencatatkan rekor baru, Indonesia tidak lagi menjadi penonton yang cemas, melainkan bangsa yang berdiri tegak di atas kaki ekonominya sendiri.

Tag:  #emas #runtuhnya #dongeng #kestabilan #ekonomi #modern

KOMENTAR