Belanja Online Indonesia Bergeser, Kepercayaan Jadi Penentu di 2026
Perilaku belanja online di Indonesia diperkirakan memasuki fase baru pada 2026. Konsumen tidak lagi menjadikan diskon sebagai faktor utama, melainkan semakin mengutamakan kualitas, keaslian produk, dan tingkat kepercayaan terhadap platform eCommerce.
CEO Lazada Indonesia Carlos Barrera mengatakan, pasar eCommerce Indonesia kini semakin matang, ditandai dengan perubahan orientasi konsumen dalam mengambil keputusan belanja.
“Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus eCommerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan,” ujar Carlos dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip (27/1/2026).
Ia menjelaskan, ketika kepercayaan terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen cenderung berbelanja dalam jumlah lebih besar, termasuk membeli produk bernilai tinggi.
Dalam konteks tersebut, eCommerce tidak lagi sekadar menjadi tempat transaksi, tetapi bertransformasi menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand.
Sejalan dengan itu, laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan nilai transaksi bruto (GMV) eCommerce Indonesia mencapai sekitar 140 miliar dollar AS atau setara Rp 2.310 triliun pada 2030, tertinggi di Asia Tenggara.
Proyeksi tersebut mencerminkan potensi pertumbuhan sekaligus tuntutan peningkatan kualitas ekosistem eCommerce di Indonesia.
Baca juga: Kisah Sukses Anita Ratnasari Kantongi Ratusan Juta dari Lazada Affiliate dalam 4 Bulan
Kepercayaan Dorong Belanja Bernilai Tinggi
Carlos menilai, kepercayaan kini menjadi pendorong utama belanja online. Konsumen Indonesia semakin berbelanja dengan tujuan yang lebih jelas, yakni untuk meningkatkan kualitas hidup. Nilai sebuah produk tidak lagi semata diukur dari harga murah, melainkan dari perpaduan kualitas, keaslian, dan pengalaman berbelanja.
Pergeseran ini terlihat kuat di kalangan keluarga muda dan konsumen aspirasional yang memanfaatkan eCommerce untuk membeli produk bernilai tinggi, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, dan produk kesehatan.
Laporan Cube Asia 2025 mencatat, 80 persen konsumen Indonesia lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.
“Platform eCommerce harus melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan official store. Kita perlu membangun kepercayaan secara menyeluruh melalui sistem, tata kelola, dan perlindungan yang lebih kuat bagi seluruh ekosistem,” kata Carlos.
Loyalitas Konsumen dan Peran Kreator
Selain kepercayaan, perilaku belanja juga semakin terkait dengan fase kehidupan konsumen, mulai dari membangun keluarga hingga menjalani gaya hidup lebih sehat.
Kondisi ini mendorong permintaan pada kategori produk life-upgrade, seperti elektronik, furnitur, otomotif, dan kesehatan, dengan pilihan harga yang memungkinkan konsumen meningkatkan kualitas produk secara terencana.
Konsep premiumisasi berbasis nilai turut menguat. Konsumen bersedia berinvestasi pada produk yang kualitasnya berdampak langsung pada pengalaman penggunaan, tanpa meninggalkan prinsip value-for-money.
Program keanggotaan atau membership pun menjadi strategi untuk menjaga loyalitas belanja jangka panjang.
Baca juga: Menyambut “Rojali”, Memahami Era E-commerce Berbasis Kepercayaan
Di sisi lain, peran kreator konten, khususnya afiliator, semakin penting dalam menjembatani brand dan konsumen. Lazada mengalokasikan investasi tahunan sebesar 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,65 triliun melalui program Lazada Affiliate untuk memberdayakan kreator sebagai mitra strategis pertumbuhan.
Carlos menegaskan, arah eCommerce Indonesia ke depan tidak lagi semata berfokus pada volume transaksi, melainkan pada dampak nyata bagi kualitas hidup konsumen.
“Pada akhirnya, kepercayaan dan kualitas adalah kunci masa depan. Platform yang akan terus tumbuh adalah yang mampu membantu konsumen menjalani hidup dengan lebih baik,” ujarnya.
Tag: #belanja #online #indonesia #bergeser #kepercayaan #jadi #penentu #2026