Thomas Djiwandono Masuk BI, IHSG Hari Ini Bakal Naik atau Turun?
Thomas Djiwandono, Wakil Menteri Keuangan RI yang kini resmi terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) per Senin, 26 Januari 2026. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
08:48
27 Januari 2026

Thomas Djiwandono Masuk BI, IHSG Hari Ini Bakal Naik atau Turun?

- Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) membuka babak baru bagi arah kebijakan moneter nasional.

Namun, alih-alih disambut satu suara, pasar justru terbelah, apakah keputusan ini akan menjadi penopang stabilitas dan mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), atau sebaliknya memicu tekanan akibat kembali mencuatnya isu independensi bank sentral?

Thomas resmi terpilih menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Penetapan tersebut diputuskan melalui rapat musyawarah Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (26/1/2026). Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih.

Namun, pasar saham Tanah Air tidak serta-merta merespons positif.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai penunjukan Thomas pada dasarnya bersifat netral bagi IHSG.

Menurutnya investor tidak semata-mata bereaksi terhadap sosok pejabat yang ditunjuk, melainkan lebih mencermati arah kebijakan Bank Indonesia ke depan, terutama potensi perlambatan penurunan suku bunga maupun sikap kebijakan yang tetap hawkish di tengah ketidakpastian global.

“Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI, menurut saya cenderung netral untuk pasar saham, karena merupakan bagian dari keberlanjutan untuk kebijakan moneter. Investor lebih mencermati perlambatan penurunan suku bunga ataupun kebijakan hawkish dari BI,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Dalam jangka pendek, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor fundamental lain, seperti arah suku bunga acuan, stabilitas nilai tukar rupiah, serta dinamika aliran dana asing di pasar keuangan domestik.

“Dari jangka pendek IHSG akan lebih dipengaruhi suku bunga, pergerakan rupiah dan aliran dana asing,” paparnya.

Lebih jauh, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’stashim, menilai penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI awalnya berpotensi menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan secara umum, terutama karena kembali mencuatnya kekhawatiran investor terhadap aspek independensi bank sentral.

Persepsi tersebut sensitif bagi pelaku pasar, mengingat kredibilitas dan independensi Bank Indonesia menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas moneter dan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

“Mengenai penunjukan Thomas Djiwandono, tentu akan menjadi katalis negatif secara umum. Mengingat kekhawatiran investor mengenai segi independensi Bank Indonesia,” ucap Ahmad Faris kepada Kompas.com.

Namun begitu, penilaian tersebut perlu dilihat secara lebih komprehensif. Dalam proses fit and proper test, Thomas mengakui bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai bendahara umum Partai Gerindra sejak Maret 2025, serta bukan anggota partai politik sejak Desember 2025.

Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi pasar bahwa terdapat upaya untuk menjaga jarak dari afiliasi politik, sekaligus meredam kekhawatiran terhadap potensi intervensi kebijakan di Bank Indonesia.

“Namun kita juga perlu melihat dari sudut pandang saat fit and proper test, Thomas menerangkan bahwa ia bukan bendahara umum Gerindra per Maret 2025, dan bukan anggota partai per Desember 2025,” beber Ahmad.

Dari sisi pasar, risiko terhadap independensi bank sentral sebenarnya sudah lebih dulu tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang masa.

Akan tetapi, dinamika tersebut mulai berubah, tercermin dari penguatan rupiah sekitar 1,3 persen dalam sepekan terakhir. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa tekanan sentimen mulai mereda dan pasar mulai melakukan penyesuaian ulang terhadap ekspektasi risiko.

Selain itu, arus dana asing juga menunjukkan pelaku pasar global telah mengantisipasi isu ini lebih awal. Sejak 19 Januari, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sekitar Rp 4,5 triliun di pasar saham domestik.

Ilustrasi saham, pergerakan saham. SHUTTERSTOCK/SHUTTER_O Ilustrasi saham, pergerakan saham. Kondisi tersebut memperkuat asumsi bahwa kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia sebagian besar telah terdiskon dalam harga atau priced in, seiring pelaku pasar yang bergerak lebih dulu atau melakukan front run terhadap potensi sentimen negatif.

“Jadi kami memiliki asumsi bahwa kekhawatiran mengenai hal ini sudah price in, karena pelaku pasar bergerak front run,” katanya.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, tekanan lanjutan terhadap pasar saham dinilai relatif terbatas. Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan saat ini berada di area support golden ratio, yang secara historis kerap menjadi zona penahan tekanan jual.

Ahmad mencatat, selama IHSG mampu bertahan di atas level 8.850, peluang untuk melanjutkan tren penguatan masih terbuka, meskipun pergerakan pasar ke depan tetap akan dipengaruhi oleh dinamika suku bunga, stabilitas rupiah, dan aliran dana asing.

“Saat ini IHSG berada pada area support golden rationya. Dan berpeluang melanjutkan tren penguatan selama masih berada diatas 8.850,” ungkapnya.

Tag:  #thomas #djiwandono #masuk #ihsg #hari #bakal #naik #atau #turun

KOMENTAR