UBS Group Bersiap Masuk ke Bisnis Kripto
- UBS Group AG berencana membuka akses investasi aset kripto bagi sebagian nasabah private banking.
Langkah ini berpotensi menjadi terobosan besar bagi salah satu pengelola kekayaan terbesar di dunia yang selama ini dikenal berhati-hati terhadap aset digital.
Mengutip Bloomberg pada Sabtu (24/1/2026), bank raksasa asal Swiss ini, yang hingga 30 September, mengelola aset kekayaan sekitar 4,7 triliun dollar AS, saat ini tengah menyeleksi mitra untuk menghadirkan layanan kripto.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan ini menyebutkan, diskusi telah berlangsung selama beberapa bulan, namun UBS belum mengambil keputusan final terkait skema layanan yang akan diterapkan.
Pada tahap awal, UBS disebut akan mengizinkan sejumlah nasabah private bank di Swiss untuk melakukan transaksi jual beli Bitcoin dan Ether.
Setelah itu, layanan serupa berpeluang diperluas ke wilayah Asia Pasifik dan Amerika Serikat.
Rencana ini menandai perubahan sikap signifikan UBS terhadap aset kripto.
Selama bertahun-tahun, UBS cenderung mengambil posisi konservatif terhadap token digital. Namun, dinamika industri mendorong bank tersebut untuk bergerak.
Sejumlah pesaing di Wall Street, seperti JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, telah memperluas bisnis aset digital, terutama setelah Donald Trump kembali ke Gedung Putih, yang dinilai memberi tekanan kompetitif bagi UBS.
Dorongan UBS masuk lebih dalam ke aset kripto juga dipicu meningkatnya permintaan dari nasabah kaya.
UBS menyatakan terus memantau perkembangan teknologi dan pasar untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan klien, sekaligus tetap memperhatikan aspek regulasi dan manajemen risiko.
“Sebagai bagian dari strategi aset digital UBS, kami secara aktif memantau perkembangan dan menjajaki berbagai inisiatif yang mencerminkan kebutuhan klien, perkembangan regulasi, tren pasar, serta kontrol risiko yang kuat,” ujar juru bicara UBS.
Ia menambahkan, UBS mengakui pentingnya teknologi distributed ledger seperti blockchain yang menjadi fondasi aset digital.
Sejauh ini, seperti banyak bank global lainnya, UBS lebih memfokuskan pengembangan aset digital pada infrastruktur berbasis blockchain, misalnya untuk dana ter-tokenisasi dan sistem pembayaran.
Ekspansi ke perdagangan kripto berjalan lebih lambat, terutama karena ketatnya aturan permodalan dalam kerangka Basel III.
Ketua UBS, Colm Kelleher, sebelumnya menyatakan perlunya kerangka regulasi yang memungkinkan bank mengakomodasi minat nasabah terhadap token digital.
Dorongan perubahan aturan juga datang dari Amerika Serikat.
Basel Committee pada November lalu menyatakan akan mempercepat peninjauan sejumlah ketentuan terkait kepemilikan kripto oleh bank, yang berpotensi membuka ruang bagi inisiatif baru industri perbankan.
Rencana UBS ini mencerminkan keterlibatan institusi keuangan besar yang kian dalam di sektor kripto.
Di Amerika Serikat, dana ETF kripto yang dipimpin oleh BlackRock melalui produk iShares Bitcoin Trust telah mengelola hampir 140 miliar dollar AS aset sejak pertama kali disetujui dua tahun lalu.
Sementara itu, Morgan Stanley menggandeng ZeroHash untuk memungkinkan nasabah E*Trade memperdagangkan aset kripto populer mulai paruh pertama tahun ini.
JPMorgan juga tengah menjajaki layanan perdagangan kripto bagi klien institusional.
Bisnis perdagangan kripto terbukti menguntungkan bagi sejumlah pelaku.
Robinhood Markets Inc. mencatatkan pendapatan 626 juta dollar AS dari perdagangan kripto sepanjang 2024, lebih dari tiga kali lipat pendapatan dari perdagangan saham.
UBS sendiri sebelumnya telah membuka akses perdagangan ETF terkait kripto bagi nasabah kaya di Hong Kong pada November 2023, mengikuti langkah pesaing seperti HSBC Holdings Plc.
Meski demikian, sikap internal UBS terhadap kripto tidak selalu sejalan.
Mantan Ketua UBS, Axel Weber, yang juga mantan bankir sentral, pernah menyatakan pandangan pesimistis terhadap kripto.
Pada akhir 2021, tak lama setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi, Weber menilai konsep pembayaran anonim “tidak akan bertahan,” katanya.