Jurus ADRO dan INCO Hadapai Transisi Energi dan Harga Komoditas
kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
18:20
24 Januari 2026

Jurus ADRO dan INCO Hadapai Transisi Energi dan Harga Komoditas

- Di tengah tekanan global terhadap energi fosil dan volatilitas harga komoditas, dua raksasa pertambangan nasional, PT Adaro Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), menempuh strategi berbeda namun beririsan dalam menjaga keberlanjutan usaha dan daya saing jangka panjang.

Tantangan datang dari arah yang beragam, mulai dari transisi energi global, tekanan harga akibat oversupply nikel, hingga dinamika regulasi lintas kementerian.

Presiden Direktur ADRO, Priyadi, menyampaikan, industri batu bara saat ini menghadapi tekanan struktural dari tren global pengurangan penggunaan energi fosil.

Tekanan ini berpotensi menurunkan permintaan, sementara kapasitas pasokan di sisi hulu relatif tidak banyak berubah.

Kondisi itu menciptakan tantangan ganda bagi pelaku industri.

“Untuk tantangan industri batu bara saat ini, terutama ya tekanan global penggunaan energi fosil, ini juga akan berpotensi untuk menurunkan penggunaan batu bara sedangkan suppliernya masih sama gitu ya,” ujar Priyadi saat kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, tantangan regulasi tidak hanya datang dari sektor energi dan sumber daya mineral, tetapi juga dari kementerian lain seperti keuangan dan kehutanan.

Kombinasi tekanan eksternal dan kebijakan domestik yang dinamis menuntut perusahaan tambang untuk lebih disiplin dalam mengelola operasi.

“Dan keduanya juga peraturan-peraturan pemerintah yang dinamis, tidak hanya dari Kementerian ESDM sendiri, tapi juga dari departemen-departemen yang lain, baik keuangan maupun kehutanan dan lainnya,” paparnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Adaro memilih memperkuat perencanaan tambang sebagai fondasi utama strategi bertahan.

Fokus diarahkan pada pengendalian stripping ratio dan efisiensi sistem angkut agar kegiatan operasional tetap stabil dan tidak fluktuatif. Konsistensi ini dinilai penting untuk menjaga struktur biaya dan ketahanan cadangan.

“Strategi yang kita lakukan adalah perencanaan tambang yang baik, terutama aspek stripping ratio dan cara angkut. Ini kita buat sekonsisten mungkin supaya operasi tidak fluktuatif. Dampaknya bukan hanya ke kinerja perusahaan, tetapi juga terhadap cadangan perusahaan dan cadangan nasional secara keseluruhan,” beber Priyadi.

Sementara itu, tantangan berbeda dihadapi INCO. Di tengah turunnya harga nikel dunia akibat kondisi oversupply, emiten justru menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi finansial, bukan sekadar isu lingkungan.

Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernadus Irmanto, menyebut sustainability atau keberlanjutan tidak bisa dipisahkan dari penciptaan nilai ekonomi jangka panjang.

“Sebetulnya sustainability itu juga merupakan konsep financial. Jadi it is financial terminology as much as it is environmental terminology. Jadi kalau kita dalam tanda kutip ingin menghasilkan nilai tambah dalam jangka panjang,” ucap Bernadus.

Ia menilai harga nikel sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan struktur biaya produksi.

Dalam siklus industri, akan ada fase ketika harga jatuh ke level yang membuat sebagian besar pemain berada dalam posisi merugi.

Pada titik tersebut, hanya produsen dengan struktur biaya paling efisien yang mampu bertahan.

“Jadi ketika harga nikel sudah menyentuh level dimana kemudian mungkin 50 persen, dari pemain itu akan merugi under the water, mungkin akan bounce back. Jadi bagaimana strateginya tentu saja memastikan perusahaan paling tidak itu berada dalam cost curve produsen nikel itu di kuartal satu atau paling tidak di awal kuartal kedua,” lanjutnya.

INCO, lanjut dia, tidak memilih jalan pintas dengan memangkas elemen biaya yang berkaitan dengan keberlanjutan atau praktik green mining.

Justru sebaliknya, perseroan mengatur struktur biaya agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan prinsip lingkungan dan sosial.

Keunggulan Vale Indonesia terletak pada sumber energi yang digunakan dalam operasionalnya.

PT Vale memiliki tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menghasilkan listrik dengan biaya di bawah 2 sen dollar AS per kilowatt hour (kWh). Biaya ini jauh lebih rendah dibandingkan sebagian pelaku industri lain yang menggunakan sumber energi berbeda dengan biaya di atas 6–7 sen dollar AS per kWh.

Dengan struktur biaya energi yang lebih rendah, Vale memiliki ruang yang lebih luas untuk mempertahankan praktik keberlanjutan sekaligus menjaga daya saing produksi.

Bernadus menegaskan bahwa praktik tersebut tidak hanya menjaga license to operate, tetapi juga membuka peluang bisnis baru dan memberikan akses pasar yang lebih preferensial.

“Jadi dengan ruang yang diciptakan, ruang kompetitif yang diciptakan oleh PLTA kita masih dalam tanda kutip memiliki ruang yang aman untuk mempertahankan praktik-praktik yang kita harapkan, sekaligus kita percaya juga bahwa praktik yang kita lakukan itu sekali lagi memberikan dampak yang positif untuk license to operate, tetapi juga selain itu juga unlock beberapa business opportunity, kemudian juga preferential access to market. Jadi itu tidak bisa dikesampingkan,” jelasnya.

Tag:  #jurus #adro #inco #hadapai #transisi #energi #harga #komoditas

KOMENTAR