Harga Emas Makin Moncer, Mending Emas Fisik atau Emas Kertas?
– Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru pada awal 2026. Setelah melonjak hingga 60 persen sepanjang 2025, logam mulia ini kini diperdagangkan di atas level 4.900 dollar AS per ounce, didorong meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Kenaikan harga emas tersebut menegaskan kembali posisinya sebagai aset safe haven. Dalam situasi pasar yang bergejolak, investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke emas yang dinilai lebih stabil.
Sejumlah faktor global menjadi pendorong reli harga emas.
Kepala Strategi Logam di perusahaan komoditas MKS PAMP, Nicky Shiels, menyebut mulai dari penyelidikan federal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, operasi militer Amerika Serikat di Venezuela, hingga ketegangan ekonomi terkait dorongan AS untuk menguasai Greenland.
“Kita memasuki dunia di mana terdapat permintaan yang sangat kuat untuk mengamankan logam kritis dan komoditas strategis dalam dekade ini,” kata Shiels kepada CNBC dikutip Sabtu (24/1/2026).
Cara Berinvestasi Emas: Fisik atau ETF?
Secara umum, investor dapat berinvestasi emas melalui dua cara utama, yakni memiliki emas fisik dalam bentuk koin atau batangan, atau membeli emas “kertas” melalui reksa dana dan exchange-traded fund (ETF) yang melacak pergerakan harga emas dunia.
Perencana keuangan bersertifikat dari AE Advisors, Mike Casey, mengatakan pilihan tersebut bergantung pada tujuan investasi masing-masing individu.
“Saya menyarankan emas fisik tidak lebih dari 5–10 persen dari portofolio terdiversifikasi, khususnya bagi investor yang toleran terhadap risiko, menghargai kedaulatan aset, atau mengantisipasi ketidakstabilan berkepanjangan,” ujar Casey.
“Di luar itu, emas kertas biasanya lebih efisien,” tambah dia.
Ia juga mengingatkan pentingnya berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengubah komposisi portofolio investasi.
Emas Fisik sebagai Lindung Nilai Krisis
Emas fisik kerap dipilih sebagai lindung nilai dalam situasi ekstrem. Selama ribuan tahun, emas telah berfungsi sebagai alat tukar dan penyimpan nilai lintas generasi.
Perencana keuangan dari Free State Financial Planning, John Bell, menilai kepemilikan emas fisik dapat menjadi penopang apabila terjadi gangguan serius pada sistem keuangan global, seperti depresiasi tajam dollar AS.
“Saya bukan orang yang berpikir kiamat sudah dekat, tetapi saya menyukai fakta bahwa emas dan perak berada di luar sistem perbankan,” kata Bell.
“Jika berbentuk fisik, emas bisa diakses kapan saja dan dijual langsung ke pedagang lokal,” lanjutnya.
Selain itu, emas fisik juga dinilai mampu menghilangkan risiko dari pihak lain (counterparty risk), karena investor tidak bergantung pada lembaga keuangan atau manajer investasi untuk mencairkan asetnya.
Namun, kepemilikan emas fisik juga memiliki keterbatasan. Investor umumnya harus membayar premi 5–10 persen di atas harga spot emas, ditambah biaya penyimpanan. Likuiditasnya pun lebih rendah dibandingkan ETF, karena proses penjualan tidak bisa dilakukan secara instan.
Ilustrasi investasi emas.
Emas sebagai Diversifikasi Portofolio
Bagi investor yang tidak terlalu mengkhawatirkan krisis global, emas tetap relevan sebagai alat diversifikasi portofolio.
“Daya tarik emas terletak pada perannya sebagai penyeimbang portofolio. Secara historis, emas tidak berkorelasi langsung dengan saham dan obligasi, sehingga dapat meredam volatilitas,” kata Casey.
Sejarah mencatat, pada 2002 saat indeks S&P 500 anjlok lebih dari 22 persen, harga emas justru melonjak hampir 25 persen. Pada krisis keuangan 2008, emas juga naik hampir 6 persen ketika pasar saham global terpuruk 37 persen.
Meski demikian, emas tidak selalu bergerak berlawanan dengan saham. Pada 2025, harga emas dan pasar saham sama-sama mencatat kinerja positif. Namun, para ahli menilai kepemilikan berbagai aset dengan karakter berbeda dapat membuat portofolio lebih stabil dalam jangka panjang.
Sementara untuk emas “kertas”, investor dapat memilih reksa dana atau ETF emas yang umumnya didukung oleh cadangan fisik logam mulia dan mampu mengikuti harga spot secara akurat.
Jangan Jadikan Emas Aset Utama
Meski harga emas sedang berada di level tertinggi, para ahli tetap mengingatkan agar emas tidak dijadikan fondasi utama portofolio.
“Emas tidak menghasilkan arus kas atau keuntungan seperti saham dan obligasi,” kata Alex Canellopoulos, perencana keuangan dari Vista Capital Partners.
“Nilainya sepenuhnya bergantung pada harga yang bersedia dibayar pembeli berikutnya,” tambah dia.
Menurutnya, investor tetap dapat memperoleh manfaat dari kenaikan harga emas, namun porsinya sebaiknya tetap terbatas sebagai pelengkap, bukan tulang punggung investasi.
Tag: #harga #emas #makin #moncer #mending #emas #fisik #atau #emas #kertas