Dilirik untuk Etanol, Industri Pati Ubi Kayu Digenjot
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita,(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI KEMENPERIN )
18:44
23 Januari 2026

Dilirik untuk Etanol, Industri Pati Ubi Kayu Digenjot

- Pati ubi kayu tak lagi sekadar bahan baku pangan. Potensinya sebagai bahan baku etanol dan berbagai produk bernilai tambah lainnya.

Potensi tersebut mendorong pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempercepat penguatan industri pati ubi kayu nasional, dari hulu hingga hilir, agar mampu menjawab kebutuhan industri dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan impor.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen.

“Kami optimistis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi,” ungkap Agus pada Pembukaan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/1/2026), disiarkan Jumat siang ini.

Ia mencatat, pati ubi kayu memiliki nilai tambah tinggi.

Di bidang pangan, komoditas ini menjadi bahan baku pemanis, bumbu, makanan ringan, dan mi.

Sementara di sektor nonpangan, pati ubi kayu dimanfaatkan untuk industri kertas, bahan kimia, serta etanol, yang kian relevan dengan agenda transisi energi dan penguatan industri bioenergi.

Kinerja ekspor sektor ini juga menunjukkan tren positif.

Pada November 2025, nilai ekspor pati ubi kayu mencapai 18,7 juta dollar AS, melonjak 58,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, Agus mengakui masih ada tantangan, terutama persaingan harga dan mutu dengan produk impor.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin mendorong sinergi yang lebih kuat antara produsen dan pengguna melalui penerapan Neraca Komoditas (NK). Selain itu, industri diharapkan melakukan diversifikasi spesifikasi produk agar selaras dengan kebutuhan pengguna, termasuk sektor etanol.

“Untuk menjawab hal itu, Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK),” paparnya.

Adapun, Kementerian Perindustrian dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu pada Kamis (22/1/2026). Forum ini dirancang untuk mempertemukan industri produsen dengan industri pengguna agar kebutuhan pati ubi kayu, termasuk untuk pengembangan etanol, dapat dipenuhi optimal oleh produk dalam negeri.

Inisiatif tersebut sejalan dengan Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Fokusnya adalah penguatan backward–forward linkage guna membangun rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien, khususnya pada komoditas strategis pati ubi kayu.

Kegiatan business matching ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu dari Provinsi Lampung dan 51 calon pembeli yang terdiri dari dua asosiasi industri, serta 49 industri pengguna dari sektor pangan dan nonpangan, termasuk kertas, bahan kimia, dan etanol.

Pertemuan bisnis dilakukan secara one-on-one dalam tiga sesi untuk mendorong kesepakatan kerja sama.

Senada, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, berharap kemitraan produsen dan pengguna pati ubi kayu dapat terus terjalin hingga kemandirian industri dalam negeri dapat terus meningkat.

Tag:  #dilirik #untuk #etanol #industri #pati #kayu #digenjot

KOMENTAR